Kategori: FiqihShalat

Fiqih Shalat XII : 5 Waktu Yang Makruh (Tahrim) Untuk Melakukan Shalat

Menjalankan Shalat sunnah itu merupakan perkara yang baik, Namun karena shalat memiliki waktu-waktu yang sudah diatur oleh syara’ tentunya kita juga harus melihat apakah waktu-waktu tersebut termasuk waktu yang diperbolehkan untuk melakukan shalat atau tidak.

Karena sholat merupakan tuntunan, maka sudah barang tentu kita juga harus mengetahui tuntunan-tuntunan syara’ tentang kapan waktu terbaik dan kapan waktu yang dilarang melakukan shalat. Jangan sampai kita tergolong orang yang jahilun mutanasikun sehingga ibadah yang kita lakukan susah payah ternyata hasil yang didapat tidak maksimal.

Lantas kapan waktu-waktu yang makruh untuk melakukan shalat?

Al-Baijuri menyebut riwayat Imam Muslim yang menceritakan bahwa Rasulullah SAW melarang sejumlah shahabatnya untuk shalat di tiga waktu, salah satunya adalah shalat setelah shalat Subuh.

لما رواه مسلم عن عقبة بن عامر رضي الله عنه قال ثلاث ساعات كان رسول الله صلى الله عليه وسلم ينهانا أن نصلي فيهن أو نقبر فيهن موتانا حين تطلع الشمس بازغة حتى ترتفع وحين يقوم قائم الظهيرة حتى تميل الشمس وحين تضيف الشمس للغروب

Artinya, “Seperti diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Sahabat Uqbah bin Amir RA, ia berkata, ‘Terdapat tiga waktu di mana Rasulullah SAW melarang kami shalat atau memakamkan jenazah kami di dalamnya, yaitu ketika matahari terbit hingga naik, ketika unta berdiri (karena panas atau istiwa) hingga matahari sedikit miring, dan ketika matahari miring hingga terbenam,” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyatul Baijuri ala Syarah Allamah ibni Qasim)

Kemudian Al-alamah Ibnu Qashim Al-Ghazi dalam Fathul Qarib menjelaskan kepada kita tentang waktu-waktu yang hukumnya makruh tahrim untuk melaksanakan shalat.

فصل – في الأوقات التي تكره الصلاة فيها تحريما كما في الروضة وشرح المهذب هنا وتنزيها كما في التحقيق وشرح المهذب في نواقض الوضوء

 {Pasal} : Waktu-Waktu yang dimakruhkan Sholat dengan makruh tahrim sebagaimana yang dijelaskan didalam kitab Raudhoh dan Syarah Muhadzab, Dan Dihukumi Makruh Tanzih seperti yang dijelaskan dalam kitab At-tahqiq dan Syarah Muhadzab didalam bab yang menjelaskan perkara-perkara yang membatalkan wudhu.

وخمسة أوقات لا يصلي فيها إلا صلاة لها سبب – إما متقدم كالفائتة أو مقارن كصلاة الكسوف والاستسقاء، فالأول من الخمسة الصلاة التي لا سبب لها إذا فعلت (بعد صلاة الصبح) وتستمر الكراهة (حتى تطلع الشمس و) الثاني الصلاة (عند طلوعها) فإذا طلعت (حتى تتكامل وترتفع قدر رمح) في رأي العين

Dan 5 Waktu yang tidak boleh dipergunakan untuk sholat kecuali shalat-shalat yang memiliki sebab. Adakalanya sebab tersebut terjadi sebelum pelaksanaan sholat, semisal sholat yang ditinggalkan. Atau sebab yang berbarengan dengan pelaksanaan sholat seperti sholat gerhana dan sholat istisqa’.

Pertama, dari lima waktu tersebut adalah sholat yang tidak memiliki sebab ketika dikerjakan setelah sholat Subuh. Dan hukum makruh tersebut tetap ada hingga terbitnya matahari.

Kedua, Sholat yang dilakukan ketika terbit matahari hingga keluar secara sempurna dan naik kira-kira setinggi satu tombak sesuai dengan pandangan mata.

و- الثالث الصلاة إذا استوت حتى تزول- عن وسط السماء ويستثنى من ذلك يوم الجمعة فلا تكره الصلاة فيه وقت الاستواء وكذا حرم مكة المسجد وغيره فلا تكره الصلاة فيه في هذه الأوقات كلها سواء صلى سنة الطواف أو غيرها و- الرابع من بعد صلاة العصر حتى تغرب الشمس و- الخامس عند الغروب للشمس إذا دنت للغروب – حتى يتكامل غروبها

Ketiga, Shalat ketika matahari tepat di tengah-tengah langit (istiwa’) hingga bergeser dari tengah langit.

Dan dikecualikan pada hari Jum’at, maka tidak di makruhkan melaksanakan sholat di hari Jum’at tepat pada waktu istiwa’.

Begitu juga di wilayah Haram Makkah, baik masjid atau yang lainnya, maka tidak dimakruhkan melaksanakan sholat di sana pada semua waktu tersebut, baik sholat sunnah thowaf atau lainnya.

Keempat, Setelah shalat Ashar sampai terbenam matahari.

Kelima, Ketika terbenam sampai sempurna terbenamnya matahari.

Dari keterangan diatas dapat kita ketahui bahwasanya waktu-waktu yang diharamkan untuk melaksanakan shalat selain shalat yang memiliki sebab adalah sebagai beriku :

  1. Setelah shalat subuh sampai matahari terbit
  2. Matahari terbit sampai mencapai ketinggian satu tombak dengan pandangan mata
  3. Saat Matahari tepat diatas langit sampai bergeser
  4. Setelah shalat Ashar sampai matahari terbenam
  5. Saat matahari terbenam sampai sempurna terbenamnya

Apa Perbedaan makruh tahrim dan makruh tanzih?

Mungkin ada yang bertanya-tanya tentang perbedaan haram, makruh tahrim, dan makruh tanzih?

Secara umum, semua istilah ini merujuk pada perbuatan yang dilarang dalam agama Islam. Syekh Ibrahim Al-Baijuri menerangkan tiga istilah ini yang dimulai dari makruh tahrim dan makruh tanzih:

والفرق بين كراهة التحريم وكراهة التنزيه أن الأولى تقتضي الإثم والثانية لا تقتضيه

Artinya, “Perbedaan antara karahatut (makruh) tahrim dan karahatut (makruh) tanzih, adalah yang pertama perbuatan (makruh tahrim) meniscayakan dosa dan yang kedua (makruh tanzih) tidak meniscayakan dosa,” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyatul Baijuri ala Syarah Allamah ibni Qasim)

Lantas apa perbedaan antara Haram dam Makruh Tahrim?

Semua mendapat konsekuensi dosa, lantas bedanya dimana?

والفرق بين كراهة التحريم والحرام مع أن كلا يقتضي الإثم أن كراهة التحريم ما ثبتت بدليل يحتمل التأويل والحرام ما ثبت بدليل قطعي لا يحتمل التأويل من كتاب أو سنة أو إجماع أو قياس

Artinya,

Perbedaan antara makruh tahrim dan haram–sekalipun keduanya menuntut dosa–adalah makruh tahrim adalah perbuatan terlarang yang didasarkan pada dalil yang mengandung ta’wil. Sedangkan haram adalah perbuatan terlarang yang didasarkan pada dalil qath‘i yang tidak mengandung kemungkinan penakwilan baik dalil Al-Qur‘an, sunnah, ijmak, atau qiyas,” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyatul Baijuri ala Syarah Allamah ibni Qasim).

Sekarang sudah jelas kapan waktu yang dilarang untuk shalat, perbedaan makruh tahrim, haram dan makruh tanzih. {muslimina.id}

Website Ini Menggunakan Cookies