Taubatnya Perampok Yang Akhirnya Menjadi Wali Besar

Siapa yang tidak kenal sufi besar Fudhail ibn ‘iyadh. Banyak kitab-kitab klasik yang meceritakan keshalihanya. Namun sebelum menjadi seorang wali besar, Fudhail ibn ‘iyadh adalah seorang “Qath’ut Thoriq” (Perampok / Begal).

Seperti biasa Fudhail dan anak buahnya masuk dari satu wilayah ke wilayah untuk mencari sasaran rampok. Sampai pada suatu malam saat fudhail istirahat di tempat anak buahnya terlihat satu rombongan yang akan lewat ditempat tersebut.

Ketika rombongan kafilah sudah dekat dengan posisi fudhail tiba-tiba mereka berhenti. Mereka berkata ” Sesungguhnya Fudhail dan teman-temanya ada disini, apa yang harus kita lakukan?”. Salah satu dari rombongan itu menimpali ” tiga orang dari kita akan mencoba memanahnya, jika panah itu mengenainya, maka kita akan melanjutkan perjalanan dan jika tidak maka kita akan kembali”.

Kemudian Pemanah pertama melepaskan anak panahnya sambil mengucapkan Ayat Al-Qur’an :

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ

Artinya: Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusyuk mengingat Allah

Tiba-tiba Fudhail menjerit sekuat tenaga, tersungkur dan pingsan,  Anak buahnya mengangkat tubuh fudhail dan mengira kalau dia terkena anak panah yang dilepaskan pemanah tersebut. Begitu siuman, ia mengatakan kepada anak buahnya “Aku telah terkena panah Allah”.

Pemanah Kedua Melepaskan anak panahnya sambil mengucapkan Ayat Al-Qur’an :

فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ إِنِّي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ مُبِينٌ

Artinya : Maka segeralah kembali kepada (menaati) Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata

Kembali Fudhail menjerit lebih keras dari sebelumnya, dan anak buahnya kembali mengangkat tubuh fudhail. Setelah siuman fudhail kembali berkata: ” Wahai anak muda, Panah Allah telah mengenaiku”

Pemanah ketiga Melepaskan anak panahnya sambil mengucapkan Ayat Al-Qur’an :

وأنيبوا إلى ربكم وأسلموا له من قبل أن يأتيكم العذاب ثم لا تنصرون

(Dan kembalilah kalian) bertobatlah kalian (kepada Rabb kalian, dan berserah dirilah) ikhlaskanlah di dalam beramal (kepada-Nya sebelum datang kepada kalian azab kemudian kalian tidak dapat ditolong lagi) yakni azab itu tidak dapat dicegah jika kalian tidak bertobat kepada-Nya. (Tafsir Al-Jalalain, Az-Zumar 39:54)

Kembali Fudhail menjerit dengan suara yang lebih keras dari suara yang pertama dan kedua. Kemudian ia mengatakan kepada anak buahnya:

” Pulanglah kalian semua, aku telah menyesali semua perbuatan buruk dan durhakaku. Dan sesungguhnya hatiku benar-benar di penuhi rasa takut kepada Allah”.

 

Kemudian Fudhail memutuskan untuk berjalan sendiri menuju ke tanah makkah. Begitu mendekati tanah Nahrawand, ternyata fudhail sudah di tunggu khalifah Harun Al-Rasyid. Khalifah mengatakan ” Wahai Fudhail, Sesungguhnya aku bermimpi, didalam mimpiku aku mendengar ada panggilan dengan suara yang sangat keras mengatakan bahwa fudhail saat ini telah bertaubat dan memilih menghambakan dirinya hanya kepada Allah, dan kalian akan merasa takjub kepadanya”.

Baca Juga :  3 Ciri Orang Shalih, Apakah Anda Masuk didalamnya?

Mendengar cerita khalifah tersebut fudhail kembali menjerit histeris sambil mengatakan:

” Wahai Tuhanku, Dengan kemuliaan dan keagunganmu, Engkau  masih mencintai seorang hamba yang penuh dosa yang telah berlari darimu selama empat puluh tahun”

Setelah itu fudhail ibn ‘iyadh dikenal sebagai ulama yang wara’ zuhud,  dan menjadi sauri tauladan bagi orang-orang semasa dan setelahnya.

Abdullah Ibnu Al-Mubarak, yang merupakan Pembesarnya Ulama yang semasa dengan Fudhail, sampai-sampai berkata:

“Tak ada satu orang pun di muka bumi saat ini, menurutku yang lebih utama (lebih hebat) dari Al-Fudhail Ibn ‘Iyādh”.

Demikian kisah dari Sufi Agung Fudhail ibn ‘iyadh, Mari Kisah ini kita dijadikan pelajaran bahwasanya Rahmat Allah sangatlah luas. Jangan berputus asa. Jangan pesimis untuk berubah, dan jangan pernah merasa bahwa orang yang memiliki perangai buruk hari ini akan berperangai buruk selamanya.

Wassalam.

Siapa yang tidak kenal sufi besar Fudhail ibn ‘iyadh. Banyak kitab-kitab klasik yang meceritakan keshalihanya. Namun sebelum menjadi seorang wali besar, Fudhail ibn ‘iyadh adalah seorang “Qath’ut Thoriq” (Perampok / Begal).

Seperti biasa Fudhail dan anak buahnya masuk dari satu wilayah ke wilayah untuk mencari sasaran rampok. Sampai pada suatu malam saat fudhail istirahat di tempat anak buahnya terlihat satu rombongan yang akan lewat ditempat tersebut.

Ketika rombongan kafilah sudah dekat dengan posisi fudhail tiba-tiba mereka berhenti. Mereka berkata ” Sesungguhnya Fudhail dan teman-temanya ada disini, apa yang harus kita lakukan?”. Salah satu dari rombongan itu menimpali ” tiga orang dari kita akan mencoba memanahnya, jika panah itu mengenainya, maka kita akan melanjutkan perjalanan dan jika tidak maka kita akan kembali”.

Kemudian Pemanah pertama melepaskan anak panahnya sambil mengucapkan Ayat Al-Qur’an :

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ

Artinya: Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusyuk mengingat Allah

Tiba-tiba Fudhail menjerit sekuat tenaga, tersungkur dan pingsan,  Anak buahnya mengangkat tubuh fudhail dan mengira kalau dia terkena anak panah yang dilepaskan pemanah tersebut. Begitu siuman, ia mengatakan kepada anak buahnya “Aku telah terkena panah Allah”.

Baca Juga :  Cerita Sebuah Foto

Pemanah Kedua Melepaskan anak panahnya sambil mengucapkan Ayat Al-Qur’an :

فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ إِنِّي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ مُبِينٌ

Artinya : Maka segeralah kembali kepada (menaati) Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata

Kembali Fudhail menjerit lebih keras dari sebelumnya, dan anak buahnya kembali mengangkat tubuh fudhail. Setelah siuman fudhail kembali berkata: ” Wahai anak muda, Panah Allah telah mengenaiku”

Pemanah ketiga Melepaskan anak panahnya sambil mengucapkan Ayat Al-Qur’an :

وأنيبوا إلى ربكم وأسلموا له من قبل أن يأتيكم العذاب ثم لا تنصرون

(Dan kembalilah kalian) bertobatlah kalian (kepada Rabb kalian, dan berserah dirilah) ikhlaskanlah di dalam beramal (kepada-Nya sebelum datang kepada kalian azab kemudian kalian tidak dapat ditolong lagi) yakni azab itu tidak dapat dicegah jika kalian tidak bertobat kepada-Nya. (Tafsir Al-Jalalain, Az-Zumar 39:54)

Kembali Fudhail menjerit dengan suara yang lebih keras dari suara yang pertama dan kedua. Kemudian ia mengatakan kepada anak buahnya:

” Pulanglah kalian semua, aku telah menyesali semua perbuatan buruk dan durhakaku. Dan sesungguhnya hatiku benar-benar di penuhi rasa takut kepada Allah”.

 

Kemudian Fudhail memutuskan untuk berjalan sendiri menuju ke tanah makkah. Begitu mendekati tanah Nahrawand, ternyata fudhail sudah di tunggu khalifah Harun Al-Rasyid. Khalifah mengatakan ” Wahai Fudhail, Sesungguhnya aku bermimpi, didalam mimpiku aku mendengar ada panggilan dengan suara yang sangat keras mengatakan bahwa fudhail saat ini telah bertaubat dan memilih menghambakan dirinya hanya kepada Allah, dan kalian akan merasa takjub kepadanya”.

Mendengar cerita khalifah tersebut fudhail kembali menjerit histeris sambil mengatakan:

” Wahai Tuhanku, Dengan kemuliaan dan keagunganmu, Engkau  masih mencintai seorang hamba yang penuh dosa yang telah berlari darimu selama empat puluh tahun”

Setelah itu fudhail ibn ‘iyadh dikenal sebagai ulama yang wara’ zuhud,  dan menjadi sauri tauladan bagi orang-orang semasa dan setelahnya.

Abdullah Ibnu Al-Mubarak, yang merupakan Pembesarnya Ulama yang semasa dengan Fudhail, sampai-sampai berkata:

“Tak ada satu orang pun di muka bumi saat ini, menurutku yang lebih utama (lebih hebat) dari Al-Fudhail Ibn ‘Iyādh”.

Demikian kisah dari Sufi Agung Fudhail ibn ‘iyadh, Mari Kisah ini kita dijadikan pelajaran bahwasanya Rahmat Allah sangatlah luas. Jangan berputus asa. Jangan pesimis untuk berubah, dan jangan pernah merasa bahwa orang yang memiliki perangai buruk hari ini akan berperangai buruk selamanya.

Wassalam.