Syarat Dan Rukun Khutbah Jum’at

Dalam kitab taqrib dijelaskan bahwasanya dua khutbah masuk dalam kategori fardhu jum’at, dan biasanya dikitab lain disebut dalam bab syarat sah jum’at.

Melihat betapa pentingnya kedudukan khutbah ini, maka wajib bagi seorang khotib untuk mengetahui syarat dan rukun khutbah:

Jangan sampai Ibadah Sholat Jum’at tidak sah karena kurangnya pengetahuan khotib tentang Syarat dan Rukun Khutbah.

Syarat dan Rukun Khutbah Nu. Syarat wajib dan syarat sah jim'at.

Syarat Khutbah :

  • Khatib harus laki-laki.[1]
  • Khatib Mampu memperdengarkan kepada 40 orang jamaah yang mengesahkan shalat jum’at.[2]
  • Muwalah diantara kalimat khutbah dan antara khutbah pertama dan kedua.[3]
  • Khatib harus menutup Aurat.[4]
  • Khatib Suci dari hadats (besar dan kecil) dan Najis (badan, tempat, pakaian).[5]
  • Khatib harus Berdiri Jika Mampu.[6]
  • Khatib harus duduk diantara dua Khutbah.[7]
  • Rukun-Rukun Khutbah Harus berbahasa Arab.[8]
  • Muwalah atau terus menerus antara khutbah dan sholat jum’at.[9]
  • Khutbah dilakukan di waktu dhuhur.[10]
  • Penyampaian Khutbah dilakukan ditempat pelaksanaan shalat jum’at.[11]

Rukun-Rukun Khutbah[12] :

  • Membaca Hamdalah Pada kedua Khutbah (lafadz sudah ditentukan)
  • Shalawat Nabi pada kedua khutbah (Lafadz sudah ditentukan)
  • Wasiat Taqwa pada kedua Khutbah (Menurut Qaul Ashoh lafadznya tidak ditentukan)
  • Membaca Ayat-ayat Al-Qur’an diantara salah satu khutbah.
  • Membaca Do’a untuk orang-orang mukmin dan mukminat Di Khutbah Kedua.

Yang harus diperhatikan dalam Rukun-Rukun Khutbah:

1. Dalam membaca hamdalah :

Syekh Ibnu Hajar al-Haitami mengatakan:

ويشترط كونه بلفظ الله ولفظ حمد وما اشتق منه كالحمد لله أو أحمد الله أو الله أحمد أو لله الحمد أو أنا حامد لله فخرج الحمد للرحمن والشكر لله ونحوهما فلا يكفي

“Disyaratkan adanya pujian kepada Allah menggunakan kata Allah dan lafadh hamdun atau lafadh-lafadh yang satu akar kata dengannya. Seperti alhamdulillah, ahmadu-Llâha, Allâha ahmadu, Lillâhi al-hamdu, ana hamidun lillâhi, tidak cukup al-hamdu lirrahmân, asy-syukru lillâhi, dan sejenisnya, maka tidak mencukupi.” (Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, al-Minhaj al-Qawim Hamisy Hasyiyah al-Turmusi, Jedah, Dar al-Minhaj, 2011, juz.4, hal. 246).

2. Dalam Membaca Shalawat Nabi

  • Dalam pelaksanaan membaca shalawat nabi harus menggunakan kata “As-Sholatu” dan lafadh yang satu akar kata dengannya. Sementara untuk Nama Nabi Muhammad, tidak harus menggunakan nama “Muhammad”, seperti “al-Rasul”, “Ahmad”, “al-Nabi”, dan lain-lain.
  • Penyebutannya harus menggunakan isim dhahir, tidak boleh menggunakan isim dlamir (kata ganti) menurut pendapat yang kuat, meskipun sebelumnya disebutkan marji’nya. Sementara menurut pendapat lemah cukup menggunakan isim dlamir.

Contoh Kalimat Sholawat yang benar :

Contoh membaca shalawat yang benar “ash-shalâtu ‘alan-Nabi”, “ana mushallin ‘alâ Muhammad”, “ana ushalli ‘ala Rasulillah”.

Dua kalimat diatas sudah mencukupi karena Menggunakan kata atau akar kata “Assholatu dan Isim Dhohir untuk nabi”.

ويتعين صيغتها اي مادة الصلاة مع اسم ظاهر من أسماء النبي صلى الله عليه وسلم

“Shighatnya membaca shalawat Nabi tertentu, yaitu komponen kata yang berupa as-shalâtu beserta isim dhahir dari beberapa asma Nabi Muhammad shallahu ‘alaihi wasallama”. (Syekh Mahfuzh al-Tarmasi, Hasyiyah al-Turmusi, Jedah, Dar al-Minhaj, 2011, juz.4, hal. 248).

3. Wasiat Takwa Pada Kedua Khutbah

Dalam wasiat Takwa Syaikh brahim Al-Bajuri mengatakan:

ثم الوصية بالتقوى ولا يتعين لفظها على الصحيح (قوله ثم الوصية بالتقوى) ظاهره أنه لا بد من الجمع بين الحث على الطاعة والزجر عن المعصية لأن التقوى امتثال الأوامر واجتناب النواهي وليس كذلك بل يكفي أحدهما على كلام ابن حجر …الى ان قال… ولا يكفي مجرد التحذير من الدنيا وغرورها اتفاقا

“Kemudian berwasiat ketakwaan. Tidak ada ketentuan khusus dalam redaksinya menurut pendapat yang shahih. Ucapan Syekh Ibnu Qasim ini kelihatannya mengharuskan berkumpul antara seruan taat dan himbauan menghindari makshiat, sebab takwa adalah mematuhi perintah dan menjauhi larangan, namun sebenarnya tidak demikian kesimpulannya. Akan tetapi cukup menyampaikan salah satu dari keduanya sesuai pendapatnya Syekh Ibnu Hajar. Tidak cukup sebatas menghindarkan dari dunia dan segala tipu dayanya menurut kesepakatan ulama”. (Syekh Ibrahim al-bajuri, Hasyiyah al-Bajuri ‘ala Ibni Qasim, Kediri, Ponpes Fathul Ulum, tanpa tahun, juz.1, hal.218-219)

4. Membaca Ayat-Ayat Al-Qur’an

Syekh Abu Bakr bin Syatha mengatakan:

(قوله ورابعها) أي أركان الخطبتين  (قوله قراءة آية) أي سواء كانت وعدا أم وعيدا أم حكما أم قصة) وقوله مفهمة) أي معنى مقصودا كالوعد والوعيد  وخرج به ثم نظر أو ثم عبس لعدم الإفهام (قوله وفي الأولى أولى) أي وكون قراءة الآية في الخطبة الأولى أي بعد فراغها أولى من كونها في الخطبة الثانية لتكون في مقابلة الدعاء للمؤمنين في الثانية

“Rukun keempat adalah membaca satu ayat yang memberi pemahaman makna yang dapat dimaksud secara sempurna, baik berupa janji-janji, ancaman, hikmah atau cerita. Mengecualikan seperti ayat “tsumma nadhara”, atau “abasa” karena tidak memberikan kepahaman makna secara sempurna. Membaca ayat lebih utama dilakukan di khutbah pertama dari pada ditempatkan di khutbah kedua, agar dapat menjadi pembanding keberadaan doa untuk kaum mukminin di khutbah kedua.” (Syekh Abu Bakr bin Syatha, I’anatut Thalibin, juz.2, hal.66, cetakan al-Haramain-Surabaya, tanpa tahun).

5. Doa Untuk Mukmin Mukminat

Mendoakan kaum mukminin dan Mukminat dalam khutbah Jumat disyaratkan isi kandungannya mengarah kepada nuansa akhirat.

أجرنا من النار إن قصد تخصيص الحاضرين (في) خطبة (ثانة) لاتباع السلف والخلف 

“Rukun kelima adalah berdoa yang bersifat ukhrawi kepada orang-orang mukmin, meski tidak menyebutkan mukminat berbeda menurut pendapat imam al-Adzhra’i, meski dengan kata, semoga Allah merahmati kalian, demikian pula dengan doa, ya Allah semoga engkau menyelamatkan kita dari neraka, apabila bermaksud mengkhususkan kepada hadirin, doa tersebut dilakukan di khutbah kedua, karena mengikuti ulama salaf dan khalaf.” (Syekh Zainuddin al-Malibari, Fathul Mu’in Hamisy I’anatut Thalibin, Surabaya, al-Haramain, tanpa tahun, juz.2, hal.66).

Namun dalam hal ini Syaikh Abu Bakr bin Syatha menambahkan sebuah keterangan:  

 (قوله دعاء أخروي) فلا يكفي الدنيوي ولو لم يحفظ الأخروي وقال الأطفيحي إن الدنيوي يكفي حيث لم يحفظ الأخروي قياسا على ما تقدم في العجز عن الفاتحة بل ما هنا أولى 

“Ucapan Syekh Zainuddin, berdoa yang bersifat ukhrawi, maka tidak cukup urusan duniawi, meski khatib tidak hafal doa ukhrawi. Imam al-Ithfihi mengatakan, sesungguhnya doa duniawi mencukupi ketika tidak hafal doa ukhrawi karena disamakan dengan persoalan yang lalu terkait kondisi tidak mampu membaca surat al-fatihah, bahkan dalam persoalan ini lebih utama”.


Sumber:

[1] .Syekh al-Qalyubi, Hasyiyah al-Qalyubi ‘ala al-Mahalli, juz 1, hal. 322.

[2]. Fathul Qarib Al-Mujib Hal. 18

[3]. Fathul Qarib Al-Mujib Hal. 18

[4]. Fathul Qarib Al-Mujib Hal. 18

[5]. Fathul Qarib Al-Mujib Hal. 18

[6]. Syekh Nawai Banten, Nihayah al-Zain, juz 1 hal. 141

[7]. Syekh Nawai Banten, Nihayah al-Zain juz 1 hal. 141

[8]. Syaikh Abu Bakr bin Syatha, I’anah al-Thalibin, juz 2, hal. 117, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut, cetakan ketiga, tahun 2007

[9]. Syekh Muhammad bin Ahmad al-Syathiri, Syarh al-Yaqut al-Nafis, hal. 242

[10]. Syarat sah jum’at harus dilakukan pada waktu dhuhur dan didahului oleh dua khutbah. fathul qarib al-mujib, hal. 18

[11]. Nu Online: syarat Khutbah

[12]. Fathul Qarib Al-Mujib, Hal.18.