Kategori: FiqihJenazah

Tata Cara Memandikan Jenazah (mayat) Secara Sempurna

[Perawatan Jenazah / Mayat] Tulisan di bawah ini menjelaskan tentang Tata Cara memandikan Jenazah / Mayat Secara Sempurna.


Salah satu kewajiban seorang muslim kepada jenazah selain menyolati adalah memandikan. Berikut ini adalah tata cara dan kesunahan dalam memandikan jenazah / mayat.

Tata Cara Memandikan Jenazah

Pada tulisan sebelumnya sudah kita bahas tentang tata cara sholat mayit ( tata cara sholat jenazah) dan juga tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan jenazah, baik jenazah muslim, non muslim, syahid ataupun bayi yang keguguran.

Dan sekarang kita lanjutkan pembahasan tentang tata cara memandikan jenazah (mayat) secara minimal dan secara sempurna.

Minimal Memandikan Jenazah / Mayat

Dalam kitab Busyrol Karim Juz 2 Hal 28 dijelaskan bahwasanya paling sedikit (minimal) dalam memandikan jenazah / mayat adalah meratakan air keseluruh tubuh mayat sebagaimana mandinya orang yang hidup walaupun jenazah atau mayat tersebut adalah non muslim ataupun anak yang belum tamyiz sehingga membasuh apa yang tampak pada farji (Miss V) perempuan ketika duduk.

Niat Memandikan Jenazah / Mayat

Niat Memandikan Jenazah Laki-laki

نَوَيْتُ الْغُسْلَ اَدَاءً عَنْ هذَاالْمَيِّتِ ِللهِ تَعَالَى

Niat Memandikan Jenazah Laki-laki dan Artinya

Nawaitul ghusla ada-an ‘an hadzal mayyiti lillahi ta’ala

“Saya niat memandikan untuk memenuhi kewajiban dari jenazah (laki-laki) ini karena Allah Ta’ala”

Niat memandikan jenazah perempuan

نَوَيْتُ الْغُسْلَ اَدَاءً عَنْ هذِهِ الْمَيِّتَةِ ِللهِ تَعَالَى

Niat Memandikan Jenazah Perempuan Latin Dan Artinya

Nawaitul ghusla ada-an ‘an hadzihil mayyitati lillahi ta’ala

“Saya niat memandikan untuk memenuhi kewajiban dari jenazah (perempuan) ini karena Allah Ta’ala”

Hukum Niat Memandikan Jenazah / Mayat

Dalam memandikan jenazah atau mayat tidak wajib melakukan niat, meskipun tidak wajib kita disunahkan untuk melakukanya.

Lebih lanjut syaikh Sa’id bin muhammad Ba’asyin menjelaskan bahwa tujuan dalam memandikan mayat (jenazah) sudah barang tentu adalah untuk membersihkan atau mensucikan jenazah atau mayit tersebut, hal ini berbeda dengan mandinya orang yang hidup.

Adapun mandinya orang yang hidup bisa karena kebiasaan dan juga bisa karena ibadah, maka dibutuhkan yang namanya Niat. Sedangkan memandikan orang yang meninggal tidak lain tujuanya adalah ibadah.

Menghilangkan Najis Pada Jenazah / Mayat

Sebelum memandikan mayat / jenazah wajib hukumnya untuk menghilangkan najis Ainiyah (Tampak salah satu dari sifat najis diantaranya adalah bentuk, warna, rasa, bau) terlebih dahulu.

Sedangkan jika najis yang terdapat pada mayat / jenazah tersebut merupakan najis hukmiyah maka cukup dengan sekali mengalirkan air ke anggota tubuh yang terdapat najis.

Tata Cara Memandikan Jenazah dan Kesunahan Dalam Memandikan Jenazah / Mayat

Didalam memandikan Jenazah / mayat terdapat kesunahan-kesunahan yang perlu untuk diperhatikan diantaranya:

  1. Sunnah bagi mayat / jenazah untuk di mandikan dalam keadaan memakai gamis (baju kurung)
  2. Sunnah memandikan mayat / jenazah di tempat yang sepi
  3. Sunnah memandikan mayat di bawah tempat yang ada atapnya
  4. Jenazah atau Mayat diangkat di atas papan dan menghadapkan ke arah kiblat. Menutup kepala mayat dengan kain sejak mayat di letakkan di tempat pemandian.
  5. Kecuali karena adanya hajat, sunnah menutup mata bagi orang yang memandikan mayat / jenazah dan orang yang membantunya kecuali pada aurat, Karena menutup mata ketika melihat aurat hukumnya wajib. Mengecualikan Suami Mayit / jenazah dan juga istri dari mayit
  6. Sunah Memandikan Mayat / Jenazah dengan menggunakan air yang dingin karena ini akan menguatkan jenazah.
  7. Sunnah mengusap perut mayat / jenazah dengan tangan kiri dengan tekanan yang tidak begitu kuat (tidak menyakiti mayit) agar kotoran yang ada pada perut mayat keluar.
  8. Mengalirkan air yang banyak untuk menghilangkan sesuatu yang keluar dan bau dari jenazah.
  9. Membasuh 2 kemaluan dan najis yang di sekitarnya sebagaimana istinja’ nya orang yang hidup. Dalam membersihkan 2 kemaluan wajib menggunakan kain lap (sarung tangan).
  10. Kemudian sunnah membersihkan kotoranh yang terdapat pada hidung mayit dengan menggunakan kain lap yang lain.
  11. Mewudhukan mayit sebagaimana wudhunya orang hidup. Seperti melakukan Istinyaq dan madhmadhoh. Ketika melakukan Isytinsyaq dan madhmadhoh pada mayit, kepala jenazah atau mayat harus di condongkan agar air tidak masuk kedalam perut.
  12. Kemudian di sunahkan pula untuk membersihkan kotoran-kotoran yang berada di bawah kuku mayat / jenazah, kotoran-kotoran yang tampak pada telinga dan juga lubang telinga dengan sesuatu yang tidak keras (misal : cotton but).
  13. Kemudian setelah itu baru membasuh kepala mayat dan juga jenggotnya dengan daun bidara atau yang lain semisal daun asam kalau jaman sekarang bisa menggunakan sabun. Dalam membasuh kepala dan jenggot mayat untuk tidak terbalik yakni kepala dahulu baru jenggot.
  14. Kesunahan memandikan mayat / jenazah berikutnya adalah membasuh bagian depan mayat dari yang bagian kanan baru kemudian bagian kiri.
  15. Kemudian membasuh anggota tubuh mayit bagian belakang dari yang kanan terlebih dahulu kemudian yang bagian kiri.
  16. Disunnahkan dalam membasuh anggota tubuh jenazah tersebut menggunakan daun bidara, daun asam atau sejenisnya dan juga air yang murni dari ujung kepala ke ujung kaki.
  17. Kemudian pada siraman terakhir disunnahkan untuk menyiram tubuh mayat / jenazah dengan air yang murni di tambahkan sedikit kapur barus sebanyak 3 kali. Tujuanya agar tidak ada serangga yang mendekat ke mayit.
  18. Kemudian setelah selesai memandikan mayat, mayat / jenazah tersebut di handuki sampai kering agar kain kafan tidak basah, karena jika kain kafan tersebut basah akan cepat rusak.
  19. Dalam menghanduki mayat dilakukan setelah orang yang memandikan melemaskan kembali tubuh mayat / jenazah
  20. Dalam memandikan mayat / jenazah yang lebih utama adalah jika mayat laki-laki yang memandikan adalah laki-laki dan jika perempuan yang memandikan adalah perempuan.
  21. Dan apabila ada udzur dalam memandikan mayat atau tidak ada yang hadir ditempat pemandian mayat tersebut kecuali orang lain (bukan mahram). Semisal mayat perempuan yang hadir adalah laki-laki ajnabi (bukan mahram) atau mayat laki-laki yang hadir adalah perempuan ajnabiyah (bukan mahram) maka wajib untuk menayamumkan mayat tersebut. Walaupun pada mayat tersebut terdapat najis yang tidak di ma’fu, Hal ini berlaku untuk mayat yang meninggal dalam keadaan ihram, sedangkan untuk selain mayat yang meninggal dalam keadaan ihram, maka caranya adalah dengan memberikan satir (penutup) karena haramnya melihat tubuh mayat dan menyentuhnya. Apabila mayat tersebut memakai pakaian yang sempurna dan ditempat tersebut terdapat sungai misalnya, dan mampu digunakan untuk menyelupkan tubuh mayit tersebut supaya air bisa merata ke seluruh tubuh mayat tanpa harus menyentuh dan melihat tubuh mayat tersebut, Maka dalam keadaan seperti ini wajib untuk menyelupkan tubuh mayat tersebut kesungai Atau dengan cara lain yang lebih umum.

Demikian Tata cara memandikan jenazah dan kesunahan-kesunahan dalam memandikan mayat / jenazah.


Tulisan Diatas banyak yang kami sarikan dari kitab Busyrol karim syarah masa’ilut ta’lim, Syaikh Sa’id ibn muhammad Ba’Asyin.

Website Ini Menggunakan Cookies