Hukum Talqin Mayyit Menurut 4 Madzhab

Secara bahasa “Talqin” bermakna mengajar atau memahamkan secara lisan, sedangkan dalam terminologi fiqih Talqin adalah adalah mengajar dan mengingatkan kembali kepada mayit (orang meninggal dunia) yang baru saja dikubur dengan kalimat-kalimat tertentu.

Hukum Talqin Mayit apakah bidah

Melakukan Talqin terhadap mayit setelah dikuburkan bukan hanya tradisi masyarakat Indonesia namun hampir semua dunia islam melakukanya. Seperti Kesaksian yang dialami oleh Ibn Arabi di Madinah, Imam Ahmad di Syam dan ulama lainnya dari Cordova Spanyol. Begitu pula menurut informasi dari an-Nawawi bahwa talqin mayit telah menjadi tradisi di negeri Syam sepanjang masa sejak zaman ulama panutan sampai pada masanya. (Kasyf al-Khafa, I/316).

Hadits yang Menjelaskan tentang Talqin Mayit:

إِذَا مَاتَ أَحَدٌ مِنْ إِخْوَانِكُمْ، فَسَوَّيْتُمِ التُّرَابَ عَلَى قَبْرِهِ، فَلْيَقُمْ أَحَدُكُمْ عَلَى رَأْسِ قَبْرِهِ، ثُمَّ لِيَقُلْ: يَا فُلانَ بن فُلانَةَ، فَإِنَّهُ يَسْمَعُهُ وَلا يُجِيبُ…..

  “Bila seseorang dari kalian mati, maka ratakanlah tanah di kuburnya. Lalu hendaknya salah seorang di antara kalian berdiri di atas kuburnya, kemudian berkata: “Wahai Fulan putra si Fulanah’. Sungguh si mayit mendengarnya dan tidak menjawabnya. (HR Thabrani).   Imam Nawawi mengomentari hadits tersebut, bahwa sekalipun hadits itu dhaif tetapi dapat dijadikan sebagai dalil penguat. Apalagi, para ulama ahli hadits dan ulama lain sepakat menerima hadits-hadits terkait amal utama, berita gembira, dan peringatan (Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Al-Majmu’, juz 5, h. 304).

Namun demikian, al-Hafizh Dhiyauddin al-Maqdisi (569-643 H/1174-1245 M) ahli hadits danpakar  sejarah bermazhab Hanbali menguatkannya dalam al-Ahkam, sebagaimana al-Hafidz Ibn Hajar dalam sebagian karyanya (Talkhis al-Habir, II/321). Di antara hadits shahih yang menguatkan kesunnahan talqin mayit adalah sebagai berikut:

Hadits Shahih Tentang Talqin Mayyit:

فَإِذَا دَفَنْتُمُونِى فَشُنُّوا عَلَىَّ التُّرَابَ شَنًّا ثُمَّ أَقِيمُوا حَوْلَ قَبْرِى قَدْرَ مَا تُنْحَرُ جَزُورٌ وَيُقْسَمُ لَحْمُهَا حَتَّى أَسْتَأْنِسَ بِكُمْ وَأَنْظُرَ مَاذَا أُرَاجِعُ بِهِ رُسُلَ رَبِّى. (رواه مسلم)

“Kemudian ketika kalian telah memakamkanku  (‘Amr bin al-‘Ash), lalu memasukkan tanah di atasku, kemudian berdirilah di sekitar kuburku sekira waktu onta disembelih dan dibagikan dagingnya sehingga aku merasa nyaman dengan keberadaan kalian dan aku melihat apa yang ditanyaan para malaikat utusan Tuhanku.” (HR. Muslim)

عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ قَالَ كَانَ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا فَرَغَ مِنْ دَفْنِ الْمَيِّتِ وَقَفَ عَلَيْهِ فَقَالَ: اسْتَغْفِرُوا لأَخِيكُمْ وَسَلُوا لَهُ التَّثْبِيتَ فَإِنَّهُ الآنَ يُسْأَلُ. (رواه أبو داود والبيهقي. صحيح)

“Diriwayatkan dari ‘Utsman bin ‘Affan, ia berkata: ‘Biasanya Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—ketika usai dari menguburan mayit dan berdiri di kuburnya, lalu beliau bersabda: ‘Mohonkan ampunan untuk saudara kalian dan mohonkan keteguhan hati untuknya, sebab sungguh sekarang ia sedang ditanya (oleh malaikat)’.” (HR. Abu Dawud dan al-Baihaqi. Shahih)

Bagaimana Hukum Talqin Terhadap Mayit / Jenazah?

Para ulama berbeda pendapat tentang permasalahan ini. Pertama, sebagian ulama mazhab Hanafi, sebagian ulama mazhab Maliki, ulama mazhab Syafi’i, dan ulama mazhab Hanbali menyatakan, mentalqin mayit setelah dikubur hukumnya sunnah.

Berikut Pendapat sebagian ulama-ulama 4 madzhab tentang hukum mentalqin mayyit.

Syekh Ibnu Abidin dari mazhab Hanafi menyebutkan:

  وَإِنَّمَا لَا يُنْهَى عَنِ التَّلْقِينِ بَعْدَ الدَّفْنِ، لِأَنَّهُ لَا ضَرَرَ فِيهِ، بَلْ نَفْعٌ، فَإِنَّ الْمَيِّتَ يَسْتَأْنِسُ بِالذِّكْرِ.  

“Sesungguhnya tidak dilarang mentalqin mayit setelah dikubur hanyalah karena tidak ada kemadharatan di dalamnya, bahkan terdapat manfaat. Sebab, mayit memperoleh manfaat dari pemberitahuan tersebut” (Muhammad Amin Ibnu Abidin, Hasyiyah Raddul Mukhtar Ala Ad-Durril Muhtar, juz 2, h. 205).

Syekh Az-Zaila’i dari mazhab Hanafi Berpendapat:

 

أَنَّ تَلْقِينَ الْمَيِّتِ مَشْرُوعٌ، لِأَنَّهُ تُعَادُ إلَيْهِ رُوحُهُ وَعَقْلُهُ، وَيَفْهَمُ مَا يُلَقَّنُ  

“Sesungguhnya mentalqin mayit itu disyariatkan, sebab ruhnya dikembalikan kepadanya, begitu pula akalnya. Dia memahami apa yang ditalqinkan (diajarkan)” (Usman bin Ali Az-Zaila’i, Tabyinul Haqaiq Syarh Kanzud Daqaiq, juz 3, h. 153).

Syekh Al-Mawwaq dari mazhab Maliki juga menyebutkan:  

إذَا أُدْخِلَ الْمَيِّتُ قَبْرَهُ فَإِنَّهُ يُسْتَحَبُّ تَلْقِينُهُ فِي تِلْكَ السَّاعَةِ، وَهُوَ فِعْلُ أَهْلِ الْمَدِينَةِ الصَّالِحِينَ مِنَ الْأَخْيَارِ، لِأَنَّهُ مُطَابِقٌ لِقَوْلِهِ تَعَالَى: {وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ}. وَأَحْوَجُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ إلَى التَّذْكِيرِ بِاللَّهِ عِنْدَ سُؤَالِ الْمَلَائِكَةِ.

  “Jika mayit telah dimasukkan ke dalam kuburnya, maka sesungguhnya disunnahkan mentalqinnya pada saat itu. Hal ini merupakan perbuatan penduduk Madinah yang shaleh lagi baik, karena sesuai dengan firman Allah ta’ala: “Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” Dan seorang hamba sangat membutuhkan peringatan tentang Allah saat ditanya oleh malaikat” (Muhammad bin Yusuf Al-Mawwaq Al-Maliki, At-Taj Wal Iklil li Mukhtashari Khalil, juz 2, h. 375).

Kemudian Dari Madzhab Syafi’i Imam Nawawi berpendapat:

يُسْتَحَبُّ تَلْقِينُ الْمَيِّتِ عَقِبَ دَفْنِهِ فَيَجْلِسُ عِنْدَ رَأْسِهِ إنْسَانٌ، وَيَقُولُ: يَا فُلَانَ ابْنَ فُلَانٍ وَيَا عَبْدَ اللَّهِ ابنَ أَمَةِ اللَّهِ، أُذْكُرِ العَهْدَ الَّذِي خَرَجْتَ عَلَيْهِ مِنَ الدُّنْيَا: شَهَادَةَ أَنْ لَا إِلَهَ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، وَأَنَّ الْجَنَّةَ حَقٌّ، وَأَنَّ النَّارَ حَقٌّ، وَأَنَّ البَعْثَ حَقٌّ، وَأَنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ لَارَيْبَ فِيهَا، وَأَنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ مَنْ فِي الْقُبُورِ. وَأَنَّكَ رَضِيتَ بِاللَّهِ رَبًّا، وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَبِيًّا، وَبِالْقُرْآنِ إِمَامًا، وَبِالْكَعْبَةِ قِبْلَةً، وَبِالْمُؤْمِنِينَ إِخْوَانًا.  

“Disunnahkan mentalqin mayit segera setelah menguburnya, di mana seseorang duduk di depan kepala mayit, dan berkata: Wahai fulan anak fulan, dan wahai hamba Allah anak hamba perempuan Allah. Ingatlah janji yang atasnya kamu keluar dari dunia, yaitu persaksian bahwa tiada tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu baginya, sesungguhnya Nabi Muhammad adalah hamba dan rasulNYA, surga itu benar, neraka itu benar, kebangkitan itu benar, kiamat itu pasti datang; tiada keragu-raguan di dalamnya, Allah akan membangkitkan orang yang ada dalam kubur. Dan sungguh kamu telah meridhai Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama, Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam sebagai Nabi, Al-Qur’an sebagai imam, Ka’bah sebagai kiblat, dan kaum Mukminin sebagai saudara” (Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Al-Majmu’, juz 5, h. 303).

Syekh Al-Buhuti dari mazhab Hanbali:  

وَسُنَّ تَلْقِيْنُهُ أَيْ: الْمَيِّتِ بَعْدَ الدَّفْنِ عِنْدَ الْقَبْرِ؛ لِحَدِيْثِ أَبِي أُمَامَةَ البَاهِلِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ.  

“Dan disunnahkan mentalqin mayit setelah dipendam di kuburan, karena hadits riwayat Abi Umamah Al-Bahili radhiyallahu anhu” (Mansur bin Yunus Al-Bahuti, Syarh Muntahal Iradat, juz 1, h. 374)

Dan sebagian ulama mazhab Maliki menyatakan, mentalqin mayit setelah dikubur hukumnya makruh.

Syekh Abdul Wahab Al-Baghdadi Al-Maliki menyebutkan:

  وَكَذَا يُكْرَهُ عِنْدَهُ – أَيْ عِنْدَ مَالِكٍ – تَلْقِيْنُهُ بَعْدَ وَضْعِهِ فِي قَبْرِهِ  

“Begitu pula dimakruhkan, menurut imam Malik, mentalqin mayit setelah diletakkan di dalam kubur” (Abdul Wahhab bin Ali Al-Baghdadi, Syarhur Risalah, h. 266).

Hukum Talqin Mayit ( Jenazah ) Menurut Ibnu Taimiyah

Ketika ditanya tentang hukum talqin mayit setelah dikuburkan, Ibn Taimiyah menjawab (al-Fatawa al-Kubra, III/24-25):

تَلْقِينُهُ بَعْدَ مَوْتِهِ لَيْسَ وَاجِبًا، بِالْإِجْمَاعِ. وَلَا كَانَ مِنْ عَمَلِ الْمُسْلِمِينَ الْمَشْهُورِ بَيْنَهُمْ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَخُلَفَائِهِ. بَلْ ذَلِكَ مَأْثُورٌ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْ الصَّحَابَةِ ؛ كَأَبِي أُمَامَةَ، وَوَاثِلَةَ بْنِ الْأَسْقَعِ. فَمِنْ الْأَئِمَّةِ مَنْ رَخَّصَ فِيهِ كَالْإِمَامِ أَحْمَدَ، وَقَدْ اسْتَحَبَّهُ طَائِفَةٌ مِنْ أَصْحَابِهِ، وَأَصْحَابِ الشَّافِعِيِّ. وَمِنْ الْعُلَمَاءِ مَنْ يَكْرَهُهُ لِاعْتِقَادِهِ أَنَّهُ بِدْعَةٌ. فَالْأَقْوَالُ فِيهِ ثَلَاثَةٌ: الِاسْتِحْبَابُ، وَالْكَرَاهَةُ، وَالْإِبَاحَةُ، وَهَذَا أَعْدَلُ الْأَقْوَالِ.

“Talqin mayit setelah matinya (di kuburnya), tidak wajib berdasarkan ijma’, dan tidak termasuk amaliah kaum muslimin yang populer di masa Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam— dan para khalifahnya. Akan tetapi talqin mayitma’tsur (diriwayatkan) dari segolongan sahabat seperti Abu Umamah dan Watsilah bin al-Asqa’. Dari kalangan para Imam ada yang membolehkannya seperti Imam Ahmad. Ada pula yang menyunnahkannya dari para murid Imam Ahmad dan Imam as-Syafi’i. Ada pula yang memakruhkannya karena meyakininya sebagai bid’ah. Ringkasnya, ada tiga pendapat tentang talqin mayit, yaitu sunnah, makruh dan mubah (boleh), dan ini merupakan pendapat yang paling adil.”

Kesimpulan

Dari penjelasan di atas dapat kita ketahui bahwa talqin mayit merupakan amaliah kaum muslimin sejak masa awal Islam, ada dalil hadits shahihnya dan bahkan disunnahkan oleh para Ulama lintas mazhab.

Bahkan pendapat sunnah dan mubah tergolong lebih banyak meskipun ada ulama yang memakruhkan, sebagaimana tradisi kaum muslimin. Maka tidak ada alasan bagi kita untuk menghilangkan legalitasnya dan menghukumi Talqin Mayyit sebagai Bid’ah yang menyesatkan.


Sumber:

  • https://islam.nu.or.id/post/read/114580/hukum-talqin-mayit-menurut-mazhab-empat
  • https://aswajamuda.com/talqin-mayit-menurut-ulama/