Syarat-Syarat Wudhu (Matan Safinatun najah)

Syarat-syarat wudhu sesuai sunnah

Didalam wudhu selain fardhu wudhu, terdapat pula syarat-syarat wudhu. Dalam kitab-kitab Fiqih wudhu termasuk salah satu bab yang diletakkan di awal pembahasan.

Karena wudhu merupakan perkara pokok yang harus kita lakukan ketika kita hendak menjalankan rangkaian ibadah, semisal ibadah sholat, membawa Mushaf, Menyentuh mushaf dan Thowaf.

Kali ini kita akan membahas tentang Syarat-Syarat Wudhu.

Berikut adalah Syarat-Syarat wudhu yang terdapat di dala kitab matan Safinatun najah:

فصل شروط الوضوء عشرة : الإسلام، والتميز، والنقاء عن الحيض والنفاس وعمّا يمنع وصول الماء إلى البشرة، وأن لايكون على العضو ما يغيّر الماء، والعلم بالفرضيّته، وأن لا يعتقد فرضا من فروضه سنة، والماء الطهور، ودخول الوقت، والموالاة لدائم الحدث

Fasal Tentang syarat-syaratnya wudhu Syarat wudhu ada 10 :

1. Islam

Wudhu dihukumi sah jika seseorang yang berwudhu (mutawadli’) beragama islam.

Kita tahu bahwa Salah satu fardhu wudhu yang harus kita laksanakan adalah Niat. Dan Beragama Islam adalah syarat dari Niat. Maka jika orang tersebut tidak beragama islam secara otomatis wudhunya tidak sah.

2. Tamyiz

Berikut ini adalah berapa pendapat mengenai arti tamyiz. Dikatakan Tamyiz jika seseorang tersebut:

  • Mampu memahami pembicaraan seseorang dan bisa menjawab jika ditanya.
  • Mampu untuk makan, minum dan beristinja’ sendiri.
  • Bisa membedakan antara yang kanan dan yang kiri.
  • Bisa membedakan antara kurma dan bara api. Maksudnya bisa mengerti tentang hal-hal yang sifatnya membahayakan.

Namun didalam Syarat wudhu yang ini terdapat pengecualian, yakni seseorang yang belum tamyiz wudhunya tidak sah kecuali wudhu yang dilakukan untuk tujuan thowaf.

3. Bersih dari haid dan nifas

Haid dan Nifas memiliki hukum yang sama dengan Air seni dan Berak. keduanya Keluar sama-sama dari jalan keluar bagian depan.

Baca Juga :  Perkara yang dapat membatalkan wudhu

Kita tahu bahwa tujuan dari wudhu adalah untuk menghilangkan hadats. Sedang haid dan nifas merupakan perkara yang menetapkan hadats.

Maka seseorang yang berwudhu harus terlebih dahulu terbebas dari Haid dan Nifas

4. Bersih dari perkara yang dapat mencegah sampainya air ke kulit

Pada saat melakukan wudhu semua perkara yang wajib di basuh harus terbebas dari adanya penghalang sampainya air ke anggota wudhu yang wajib dibasuh.

Jika terdapat perkara yang menghalangi sampainya air ke anggota wudhu seperti cat misalnya. Maka cat tersebut harus di bersihkan terlebih dahulu jika ingin wudhunya sah.

5. Pada anggota wudhu tidak ada perkara yang dapat merubah status kemutlakan air

Status air yang digunakan untuk wudhu adalah air mutlak, yakni air yang suci dan mensucikan. Jika dalam anggota wudhu terdapat perkara yang menghilangkan status kemutlakan air baik dalam rasa, bau dan warnanya maka wudhu tersebut tidak sah.

Maka syarat wudhu agar sah adalah dengan menghilangkan terlebih dahulu perkara yang dapat merubah status kemutlakan air.

6. Mengetahui kewajiban / Fardhu wudhu

Seseorang yang ingin wudhu Mengetahui bahwasanya wudhu yang dikerjakan adalah perkara wajib.

Jika meyakini wudhu yang dilakukan adalah sunah atau ragu antara wajib dan sunah maka wudhunya tidak sah.

7. Tidak meyakini perkara yang fardhu didalam wudhu sebagai perkara sunnah.

Syarat wudhu berikutnya adalah Tidak menganggap yang wajib menjadi sunnah

Contoh meyakinai perkara yang wajib sebagai sunah seperti anggapan bahwa membasuh kedua tangan adalah perkara yang sunah.

Jika kita memiliki anggapan bahwa seperti contoh diatas maka secara otomatis wudhu kita tidak sah.

Baca Juga :  Solusi Saat Ragu-Ragu Ada Anggota Wudhu Yang Belum Dibasuh

8. Menggunakan Air yang Suci dan Mensucikan

Syarat-syarat wudhu nomor delapan adalah menggunakan air yang suci dan mensucikan. Tidak bisa kita berwudhu dengan menggunakan air yang suci tapi tidak mensucikan.

Untuk pembahasan air yang digunakan untuk bersuci sudah ada di dalam Bab Air yang digunakan untuk bersuci.

9. Masuk waktu

Bagi yang kekal / terus menerus hadatsnya seperti orang yang beser dan istihadhoh

Contoh : Seseorang yang mengalami Istihadhoh, ketika hendak melakukan sholat Ashar maka wudhunya harus dilakukan pada waktu ashar. Berbeda dengan orang yang normal. Bagi orang yang normal ketika hendak melakukan sholat ashar, bisa menggunakan wudhu dari sholat Dhuhur atau bahkan wudhu dari sholat subuh.

10. Dan yang terakhir adalah Muwalah bagi yang kekal / terus menerus dalam berhadats.

Bagi orang yang memiliki hadats kekal seperti istihadhah ketika selesai wudhu harus segera melakukan sholat.

Jika orang yang memiliki hadats kekal tersebut menunda-nunda untuk melakukan sholat maka ia harus mengulang kembali wudhunya, kecuali ia menunda untuk hal-hal yang berkaitan dengan maslahatus sholat seperti menunggu imam untuk jamaah dan

Syarat wudhu diatas harus benar-benar kita pahami dan sangat perlu untuk ditanamkan kepada anak-anak kita sejak usia dini agar ketika sudah terkena kewajiban syara’ mereka benar-benar sudah memahami syarat dan rukun-rukunya wudhu yang merupakan langkah paling awal sebelum melaksanakan kewajiban lain.

Dan akan lebih istemewa lagi jika orang tua juga mengajarkan tentang adab dan doa-doa yang di baca pada tiap basuhan anggota wudhu seperti doa saat membasuh kedua tangan, hidung dan lainya.

Walllahu A’lam

Komentar ditutup.