Select Page

Mengenal Syaikh Muhammad Amin Al-Kurdi

Mengenal Syaikh Muhammad Amin Al-Kurdi

Syaikh Muhammad Amin Al-kurdi adalah sosok seorang yang ‘alim yang sangat komplit menguasai berbagai bidang ilmu. Pengetahuan akan ilmu Fiqh dan Tashawwuf benar-benar dikuasai oleh beliau. Hal ini dapat kita lihat dari salah satu kitab karya Beliau TANWIRUL QULUB yang sampai saat ini banyak dijadikan rujukan dalam ilmu tashawuf dan fiqh. Kitab ini sangat familiar dikalangan para santri di Asia tenggara.

Perjalanan Menuntut Ilmu Syaikh Muhammad Amin Al-kurdi

Nama lengkapnya adalah Muhammad Amin bin Fathullah Zadah al-Kurdi al-Irbili. Syekh Muhammad Amin al-Kurdi kecil tumbuh di bawah asuhan ayahnya sendiri yang bernama Syaikh al-‘ârif billah Fathullah. Syaikh Fathullah adalah seorang ulama tasawwuf yang berpegang pada Thariqah Qodiriyyah. Bahkan beliau adalah seorang mursyid dari Thariqah yang dinisbat-kan kepada Syaikh Abd al-Qadir al-Jailani itu. Dari ayahnya itulah Muhammad Amin belajar Alquran dan ilmu-ilmu lainnya.

Syaikh Muhammad Amin Al-Kurdi adalah sosok yang gigih dan haus akan ilmu. Setelah selesai dalam bimbingan sang ayah, beliau kemudian berguru dibawah asuhan  Syaikh Al Quthtub Maulana Umar, seorang wali agung  yang tinggal dikota Irbil,Irak salah satu Mursyid Thoriqoh Naqshabandiyyah Kholidiyyah.

Dalam bimbingan Syaikh Umar An-Naqshabandy, Beliau senantiasa menerapkan disiplin diri, menjaga adab dan senantiasa bermujahadah sehingga beliau mendapatkan anugerah yang luar biasa dari Allah SWT. Beliau selalu patuh terhadap perintah sang guru sampai pada saatnya beliau dianugerahi kedudukan sebagai seorang Mursyid. Beliau yang tinggi akan himmah dalam mencari ilmu kemudian memohon izin kepada sang guru untuk Rihlah dan Ziarah ke Makam Para Auliya’ dan Shalihin.

Perjalanan Ruhani Syaikh Muhammad Amin Al-kurdi

Tugas pertamanya adalah berhaji ke Mekkah dengan tanpa bekal.Entah mengapa beliau memilih melewati Bashroh dan kemudian menempuh perjalanan lewat laut. Kapal yang mengangkutnya tidak memungut bayaran darinya dan ia diperlakukan sangat baik didalam kapal. Turun dari kapal tiba tiba ada suara yang menyebut namanya.

Dikisahkan dalam perjalanannya, Beliau banyak menerima sedekah dari orang-orang yang tidak dikenalnya.Bahkan sampai Mekkah uang yang terkumpul sangat banyak. Kemudian uang itu ia sedekahkan semuanya tanpa mengambil sepeserpun. Ia menghabiskan waktunya di Masjidil Haram dengan hanya minum Air Zam-Zam.

Mula-mula Syekh Amin bermukim di Makkah al-Mukarramah selama setahun. Di sanalah Imam kita ini banyak mendapat futuhât, waridât ilahiyyah dan banyak hal-hal kejadian aneh atas diri beliau. Kemudian ia pindah ke Madinah al-Munawwarah. Selama beberapa tahun di Madinah, ia lebih banyak tinggal di Jabal Uhud dan Baqî`. Syekh Amin juga sempat belajar di Madrasah al-Mahmûdiyyah, yang syarat masuknya harus mengusai bahasa Turki. Setelah lulus sufi besar ini sempat mengajar di Masjid Nabawi serta mempersunting perempuan dari Turki. Meskipun sibuk Syekh Amin selalu melaksanakan ibadah haji tiap tahun.

Syaikh Muhammad Amin Al-Kurdi Di Mesir

Rasa dahaga akan ilmu menuntun Beliau ke Negeri Para Ulama di Mesir. Sesampai di Mesir Syekh Muhammad Amin al-Kurdi memperdalam ilmu-ilmu agama di al-Azhar al-Syarif, masuk dalam Ruwâq Akrad. Syekh Amin memperdalam ilmu hadits darikepada Syaikh Al Azhar Salim Al Bisri, dan memperdalam ilmu fikih dar Syaikh Muhammad al-Asmu’i al-Manufii  dan Syaikh Musthafa Izzu As Syafii. Selama belajar, sufi agung ini tidak melupakan adab sebagai seorang murid dan menjaga hak-hak guru.

Di samping memperdalam ilmu-ilmu lahir ia tidak melupakan ilmu batin dengan terus ber-mujahadah untuk membersihkan diri dari sifat tercela dan menghias diri dengan sifat keutamaan hati, sesuai petunjuk Thariqah al-Naqsabandiyyah. Sehingga terkumpul dalam diri perintis Thariqah Naqsabandiyah di Mesir ini dua ilmu, Syari’at dan Hakikat. Dan itulah seorang sufi sejati,  menggabungkan antara Syari’at dan Hakikat.

Syaikh Muhammad amin al-kurdi setiap pagi berziarah ke makam Sayyidina Husain. Karena Kecintaan beliau kepada ahlul bait. Sebuah bukti cinta beliau kepada ahlul bait nabi.

Karomah Syekh Muhammad Amin al-Kurdi

Pada suatu hari terjadi keanehan yang di luar kemampuan manusia. Seperti biasanya sehabis tadarrus dan tasmî’ Quran Syaikh Muhammad Amin al-kurdi membagikan roti ala kadarnya. Roti yang dipersiapkan tidak mencukupi jumlah hadirin yang begitu banyak. Akhirnya al-‘arif billah ini meletakkan roti itu disebuah nampan dan menyuruh muridnya untuk membagikannya. Dan anehnya, setiap kali dibagikan, roti dalam tempat itu tidak berkurang; tetapi tetap seperti semula sampai semua hadirin mendapatkan bagian.

Karomah yang lain dari Syaikh Muhammad Amin Al-Kurdi saat berada di Kairo, Mesir, para pengikutnya di Makkah melihat sosok (ruh)-nya. Beliau juga sering meramalkan dengan tepat kejadian-kejadian yang akan datang. Selama hari-hari terakhir dalam hidup beliau selalu diselubungi cahaya yang menyilaukan bagi yang memandangnya.

Wafatnya Syaikh Muhammad Amin Al-kurdi

Syekh Muhammad Amin al-Kurdi wafat dan dimakamkan di Kairo tahun 1332 H/ 1914 M. Dimakamkan disebelah dua ulama mesir terkemuka yaitu Imam Jalaluddin Al mahalli dan Imam Tajuddin As Subki.

Karya Syaikh Muhammad Amin Al-kurdi

  1. Kitab Tanwir al-Qulub fi Mu’amalati ‘Allam al-Ghuyub.
  2. Kitab Mursyid al-‘Awam li Ahkam ash-Shiyam fi Madzahib al-Arba’ah.
  3. Kitab Hidayah ath-Thalibin fi Ahkam ad-Din.

Ila hadhroti sayyidina Muhammadin Shalla-Allahu ‘alaihi wa ālihi Wasallam, Wa ila hadhrati Sayyidi Muhammad Amin Al-Kurdií, Alfatihah…..

About The Author