Perbedaan Mujawir dan Mukhalit dalam Bab Bersuci

Dalam fikih bersuci sudah kami jelaskan tentang Air yang dapat digunakan untuk bersuci dan air suci namun tidak dapat dipakai untuk bersuci.

Ada pula air yang suci yang terkena najis atau biasa disebut air mutanajis. Air bekas bersuci yang kurang dari ukuran 2 qulah dan lainya yang berkaitan dengan masalah air.

Disini kami hanya akan membahas istilah-istilah yang tidak asing tentang bab bersuci yakni tentang Mujawir dan Mukhalit.

Sering kita mendengar istilah mujawir dan mukhalit dalam fiqih bersuci. Seperti ungkapan air tidak akan berubah menjadi najis jika berubahnya akibat dari benda yang mujawir bukan yang mukhalith. Sebenarnya apa perbedaan antara mujawir dan mukhalith tersebut?

Mukhalith adalah benda yang bisa lebur dengan air sehingga benda tersebut tidak bisa terpisah dengan air, sedangkan untuk Mujawir adalah Benda yang tidak lebur dengan air.

Namun perlu diketahui bahwasanya ada benda yang selamanya mujawir, ada yang sebelumnya mukhalith berubah menjadi mujawir dan ada yang sebelumnya mujawir berubah menjadi mukhalith.

Untuk benda yang selamanya mujawir contohnya adalah batu, untuk benda yang sebelumnya mukhalith kemudian berubah menjadi mujawir adalah Debu dan untuk benda yang sebelumnya Mujawir kemudian menjadi mukhalith adalah Daun Teh.


Referensi :

حاشية القليوبى وعميرة الجزء ١ : ص : ٢٢ : مكتبة دار احيإ التراث العربية

قوله ( وضبط المجاور بما يمكن فصله والمخالط بما لا يمكن فصله) وهو الارجح عند الجمهور او بما يتميز في رأي العين كالتراب وعكسه المخالط ويمكن ردّ أحدهما للاخر  واعلم ان الشيء قديكون مجاورا ابتدأ ودوام كالاحجار اودواما كالتراب او ابتداء كاالاشجار