≡ Menu

Pembagian Najis Dan cara Mensucikanya

in Bersuci, FIQIH
Cara menghilangkan Najis

Najis secara lughot atau bahasa bermakna segala sesuatu yang terbilang kotor. Sedangkan para fuqoha’ mendefinisikan najis secara Syara’ adalah sesuatu yang kotor yang dapat mecegah keabsahan sholat. (Riyadhul Badi’ah, hal : 26 cetakan : dar ihyail kutub al’arabiyah).

Pada dasarnya setiap Hewan itu suci kecuali Anjing dan Babi atau yang lahir dari keduanya atau terlahir dari salah satunya. Berbeda dengan bangkai, Semua hewan yang mati Itu hukumnya najis kecuali Anak adam, Belalang dan Ikan.

Kemudian Setiap yang keluar dari Dua Lubang, Lubang depan (qubul) dan lubang belakang (dubur) semuanya dihukumi najis kecuali mani, angin dan Kerikil selama tidak tercampur dengan air kencing.

Pembagian Najis

Seperti yang dijelaskan dalam kitab Riyadhul badi’ah najis dibagi menjadi 3 :

  1. Najis Mukhoffafah (مخففة)
  2. Najis Mugholladhoh (مغلظة)
  3. Najis Mutawassithoh (متواسطة)

1. Najis Mukhoffafah :

فالمخففة بول الذكر الذى لم يبلغ حولين ولم يتنول غداء غير اللبن

Najis Mukhoffafah adalah najisnya Anak laki-laki yang belum sampai usia dua tahun dan belum makan dan minum selain Asi.

Cara Menyucikan Najis Mukhoffafah :

Cara menyucikan najis ini adalah dengan memercikkan air ke tempat najis sehingga semua tempat yang terkena najis bisa rata terkena percikan air tersebut.

Dengan syarat bentuk najis ( air kencing ) tersebut sudah hilang sebelum air tersebut dipercikkan ke tempat najis. Air yang dipercikkan juga tidak harus mengalir.

2. Najis Mughaladhoh :

والمغلظة نجاسة الكلب والخنزير والمتولد منهما او من احدهما

Najis Mugholadhoh adalah Najisnya Anjing dan babi atau peranakan dari keduanya atau peranakan dari salah satunya.

Cara menyucikan Najis Mughaladhoh :

Najis Mugholladhoh tidak akan bisa suci kecuali dengan cara membasuh tempat yang terkena najis tersebut sebanyak tujuh kali dan salah satunya harus dicampur dengan debu.

Dan tidak cukup dengan tujuh basuhan kecuali Dzat najisnya hilang dalam basuhan yang pertama. Apabila dzat najisnya baru bisa hilang setelah beberapa basuhan, maka beberapa basuhan tersebut baru dihitung sebagai basuhan yang pertama dan wajib untuk menyempurnakan basuhan sampai basuhan yang ke 7.

Adapun cara yang mudah untuk menyucikan Najis Mughaladhoh adalah dengan menghilangkan dulu dzatiyah / ‘ainiyah / bentuk najis tersebut, kemudian baru di basuhkan air sebanyak 7 kali dan salah satunya dicampur dengan debu.

Ada beberapa cara mencampurkan air dengan debu dalam menghilangkan Najis Mugholladhoh:

  1. Cara yang paling utama adalah Dengan mencampur air dan debu secara berbarengan baru kemudian diletakkan pada tempat yang terkena najis.
  2.  Dengan meletakkan debu di tempat yang terkena najis, lalu memberinya air dan mencampur keduanya, baru kemudian dibasuh.
  3. Air diberikan terlebih dahulu di tempat yang terkena najis, kemudian diberi debu dan mencampur keduanya, baru kemudian dibasuh.
Baca Juga :  Yang diharamkan sebab haid

Itulah cara menyucikan Najis Mughaladhoh.

3. Najis Muthawassithah

yang tergolong najis muthawasithah adalah Najis selain najis yang sudah disebut diatas yakni selain najis Mukhafafah dan Najis Mughaladhah seperti halnya air kencing, madhi, air susu binatang yang najis dan masih banyak lagi.

Cara menyucikan najis Muthawasithah

Najis ini bisa suci dengan cara mengalirkan air ke tempat yang terkena najis tersebut. Caranya dengan menghilangkan rasa, bau, dan warna dari najis tersebut (menjadikan najis tersebut menjadi najis hukmiyah ) kemudian baru disiramkan air ketempat yang terkena najis tersebut dengan air yang suci dan mensucikan.

Apabila satu dari sifat najis seperti warnanya saja atau baunya saja tidak bisa hilang kecuali dengan disabun, maka wajib bagi orang yang ingin menyucikan najis tersebut menggunakan sabun untuk menghilangkan sifat najis tersebut. Apabila dengan cara diatas warna najis atau bau najis masih tetap maka hukumnya di ma’fu.

Dari keterangan diatas dapat kita ambil pelajaran bahwasanya mengetahui tentang najis itu adalah hal pokok. Karena syarat mutlak dalam kita melaksanakan shalat adalah suci dari hadats dan najis.

Tambahan :
  • Apabila najis tersebut dengan pandangan normal tidak kelihatan maka hukum najis tersebut di ma’fu.
  • Darah dan nanah yang sedikit juga dima’fu selain darah dan nanah dari Anjing dan Babi.
  • Darah yang berasal dari badan kita sendiri akibat menderita luka bisul, atau penyakit kulit yang lain diampuni meskipun jumlahnya banyak (Al-Iqna’.78), tetapi dengan tiga persyaratan. Pertama, bukan karena ulah kita sendiri (tidak disengaja). Kedua, tidak melampaui tempatnya, dalam artian tidak melewati anggota tubuh dimana luka tersebut berada. Maksudnya, jika luka terdapat dalam betis tidak sampai ke paha. Kalau luka di tangan, tidak sampai ke pundak. Ketiga, darah tersebut tidak bercampur dengan benda lain
  • Perkara yang suci dan kering jika bersentuhan dengan najis yang kering maka perkara tersebut tetap dihukumi suci.

 

Silahkan Bagikan Jika Bermanfaat: