Kisah Warga Muhammadiyah Ditengah Warga Yang Mayoritas NU

Kisah dibawah ini adalah satu dari banyak kisah nyata yang ada di masyarakat kita, betapa warga NU dan Muhammadiyah saling menghargai. Dan pastinya masih banyak kisah-kisah yang lain tentang sikap saling menghargai antara warga Nahdhatul Ulama dan Muhammadiyah seperti yang ada pada kisah di bawah ini.

Berikut kisahnya :

Kisah Kebaikan NU

Tetangga saya Ada yang Muhammadiyah namun “MINORITAS”
Tapi Kami warga Nahdliyyin tidak keberatan dengan keberadaan dan amaliyah mereka.

Suatu saat saya hadir Takziyah bersama warga Nahdliyyin dirumah tokoh MD yang kebetulan istrinya wafat. Beliau bilang sama rombongan saya:


“TAN-TARETAN SE KASOKAN ATAHLIL KA’ATOR, SE TAK KASOKAN TAK PONAPAH, NYO’ONAH DUWENAH RAJIH KAULEH SOPAJEH ESAPORAH DUSANAH”

(Saudara yang biasa baca Tahlil monggo, yang tidak biasa tidak apa-apa tidak bertahlil cuma mohon doanya supaya dosa istri saya diampuni)

Kamipun bersama Rombongan Baca Yasin Dan Tahlil Selesai Acara kami disuguhi Hidangan, Alhamdulillah Kami dihormati dan saling pengertian.

selanjutnya beberapa bulan setalah itu kami diundang warga salahsatu warga MD yang ingin mengadakan umroh istilah NU (selametan umroh) Saya menawarkan Kepada Tuan rumah “Kalau acara Selametan Versi MD Bagaimana? ” Warga menjawab Silahkan pimpin kiai Sesuai kebiasaan kiai ketika selametan.

Saya tidak mau tapi tuan rumah memaksa, ahirnya saya membaca Sholawat Jailani Dan Istighatsah Alaa NU setelah acara selasai kami berguman bersma tuan rumah.

“ALANGKAH INDAHNYA HIDUP RUKUN ANTARA NU DAN MUHAMMADIYAH KALAU BEGINI YA”

tuan rumah angguk-angguk kepala.

Alhamdulillah kami dimadura Hidup Rukun dan Damai tidak ada Penolakan acara apapun baik acara NU atau acara Tabligh Muhammadiyah.

Toleransi dan saling menghargai itu ajaran yang kami dapat dari para kiai dan Ulama di Pesantren dan NU.

Walaupun kami tidak hafal ayat Fastabiqul Khairat, atau istilah Islam berkemajuan.

Tapi ini didikan para guru-guru dan kiai kami di pesantren.

Baca Juga :

NU tetap Cinta Damai, dan menghormati perbedaan. Kami bisa akur dengan Non Muslim Mosok sesama Muslim Tidak akur.


Penulis:
Hamid Roqib
Fans Page #GenerasiMudaNUMadura
Editor : Redaksi Muslimina