Kategori: Kisah

Kisah Islami 004: CaraUlama Nusantara Mengajarkan Makna Zuhud Kepada Santrinya

Dalam Ihya’ Ulumuddin Imam Ghazali menjelaskan dengan sangat detail tentang Makna Zuhud. Namun tidak sedikit dari kita yang awam ini mampu untuk mencernanya, Bukan Karena penjelasanya yang sulit dipahami tapi karena keterbatasan pemahaman dan kemampuan kita masuk kedalam untuk memahaminya.

Allah berfirman dalam surat Al-Syûrâ ayat 20:

مَنْ كاَنَ يُرِيْدُ حَرْثَ الآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِى حَرْثِهِ, وَمَنْ كَانَ يُرِيْدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِى الآخِرَةِ مِنْ نَصِيْبٍ. (الشورى: ۲۰ )

“Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan baginya dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian keuntungan di dunia dan tidak ada baginya suatu bagian pun di akhirat.”

Dan juga hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Sahl:

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِيِّ قَالَ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ إِذَا أَنَا عَمِلْتُهُ أَحَبَّنِي اللَّهُ وَأَحَبَّنِي النَّاسُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ وَازْهَدْ فِيمَا فِي أَيْدِي النَّاسِ يُحِبُّوكَ (رواه ابن ماجه)

”Dari Sahl bin Sa’d al-Sa’id berkata: “Telah datang seorang laki-laki kepada Nabi Saw. Kemudian dia bertanya kepada Nabi: “Wahai Rasulullah, Tunjukkan kepadaku perbuatan yang bila kuamalkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan manusia akan suka kepadaku.”Maka Rasulullah Saw. menjawab: “Zuhudlah terhadap dunia niscanya kamu dicintai oleh Allah. Dan zuhudlah terhadap apa yang dimiliki manusia, niscahya kamu akan dicintai mereka.”

Hidup dengan cara zuhud memiliki esensi, dasar dan buah. Menurut Imam al-Ghazali Esensi dari zuhud adalah menjauhkan diri dari kehidupan dunia dan memalingkan diri darinya, penuh kepatuhan semaksimal mungkin.

Dasar dari zuhud adalah ilmu dan cahaya yang memancar didalam kalbu, dan melapangkan dada. Dengan cahaya itu akhirat jelas lebih baik dan kekal. Perbandingan dunia dengan akhirat paling sederhana adalah ibarat buah-buahan dengan permata.

Sedangkan Buah dari zuhud adalah merasa cukup dengan apa adanya, untuk sekedar memenuhi kebutuhan, sekedar biaya penumpang kendaraan.

Hidup Zuhud Juga memilki Tingkatan-tingkatan serta Tujuan dalam menjalaninya. Lantas bagaimana Mengaplikasikan Zuhud dalam kehidupan sehari-hari?

Kisah Kyai Nusantara Mengajarkan Makna Zuhud Dengan Cara Sederhana

Salah seorang Mursyid Thariqoh Syaziliyah yang masyhur adalah KH Abdul Jalil Mustaqim, Tulungagung Jawa Timur. Kiai Jalil juga mengasuh pesantren bernama Pesantren PETA (Pesulukan Thariqoh Agung), Tulungagung. Ayahnya, Syekh Mustaqim Husein juga seorang sufi besar pada jamannya, juga seorang Mursyid Thariqoh.

Suatu hari, ada seorang santri yang gelisah terkait makna zuhud, sehingga santri ini memberanikan diri bertanya Kiai Jalil.

“Mbah Kiai, apa yang dimaksud zuhud dalam kitab Ihya ‘Ulumuddin?” tanya santri penuh penasaran.

“Kamu belum paham ya?” Kiai Jalil balik bertanya.

“Belum, Mbah Kiai,” jawab santri.

“Sekarang kamu ke sana. Itu ada bak mandi, kamu isi sampai penuh ya,” perintah Kiai Jalil.

“Injeh, Mbah Kiai. Siap!,” jawab santri.

Santri itu kemudian mengisi dua bak mandi yang besar itu. Santri itu menimba air dari sumur yang tak jauh dari bak mandi. Karena begitu penasaran dengan makna zuhud, santri ini tidak terasa sudah mengisi secara penuh bak mandi itu. Capek, tentu saja. Tapi itu tak dirasakan sedikitpun oleh santri itu.

“Sudah selesai Mbak Kiai. Dua bak mandi sudah penuh semua.” Santri itu melaporkan tugasnya kepada Kiai Jalil.

“Kamu capek atau tidak?” tanya Kiai Jalil.

“Injeh (Ya), Mbah Kiai. Capek, tapi saya senang Mbah Kiai,” jawab santri dengan tetap riang gembira.

“Ya sudah. Sekarang kamu mandi dulu ya. Habis mandi, nanti ke rumahku ya,” tegas Kiai Jalil.

“Injeh, Mbah. Nderek Dawuh,” jawab santri.

Karena merasakan capek yang sangat, santri itu bergegas mandi ingin menikmati segarnya air yang sudah diambil dari sumur. Begitu nikmat ia mandi, sehingga ia tersadar untuk segera sowan Mbah Kiai. Setelah ganti baju yang pantas, santri itu bergegas sowan kepada Mbah Kiai.

“Sudah rampung mandinya?”

“Sudah Mbah Kiai.” Jawab santri dengan gembira.

“Airnya kamu habiskan?” tanya Kiai Jalil.

“Ya tidak, Mbah Kiai. Saya gunakan secukupnya saja.” Jawab santri.

“Itulah zuhud wahai santriku. Carilah harta sebanyak-banyak, tapi gunakan harta itu secukupnya saja. Sisanya biar dimanfaatkan untuk keperluan orang lain.” Tegas Mbah Kiai Jalil dengan sederhana.

Santri itu kaget dan terpana dengan jawaban sederhana dari mbah kiai yang sangat dihormatinya itu. Tanpa perlu dalil-dalil dan ayat2, Mbah Kiai Jalil memberikan jawaban yang sangat tepat bagi santri itu.

Inilah ciri khas ulama Nusantara. Mereka menerjemahkan ajaran Islam dengan penjelasan sederhana, yang dapat ditangkap dengan oleh siapapun yang menginginkanya.

Website Ini Menggunakan Cookies