Kisah Ibnu Mubarak Mimpi bertemu dengan Baginda Nabi Dan Nabi Ibrahim

Kisah islami terbaru, kisah para wali Ibnu mubarak

Dikisahkan dari Abdullah bin Mubarak (Ibnu Mubarak) ketika beliau berada di kota makkah dan pada saat itu kondisi kota makkah sedang mengalami paceklik. Berikut Kisahnya:

Pada saat kota makah mengalami paceklik penduduk kota tersebut berbondong-bondong ke tanah arafah untuk memohon supaya diturunkanya hujan. Mereka berdiam disana pada hari jumat, dan pada hari setelahnya mereka keluar lagi ke tanah arafah.

pada saat itu Ibnu mubarak melihat ada seorang laki-laki berkulit hitam dengan kondisi tubuhnya yang lemah. Orang tersebut sholat, selesai sholat ia berdoa, kemudian bersujud kepada Allah Subhanahu Wata’ala dan berkata dalam sujudnya:

“Demi Kemuliaan-Mu, hamba tidak akan mengangkat kepala ini sampai engkau turunkan hujan kepada hamba-hambamu”

Tiba-tiba Beliau melihat ada potongan Awan yang tampak sangat jelas, awan-awan yang lain pun datang dan berkumpul dengan awan tersebut. Tidak berselang lama Langit pun mengeluarkan hujan yang lebat ibarat air yang dituangkan dari wadahnya.

Kemudian Laki-laki berkulit hitam tersebut memuji kepada Allah Subhanahu Wata’ala, dan ditinggalkanya tempat tersebut.

Kemudian Ibnu mubarak mengikuti kemana perginya laki-laki berkulit hitam yang tampak lemah fisiknya tersebut.

Ternyata laki-laki tersebut pergi ke pasar budak dan ia adalah salah satu budak yang diperjual belikan disana. Kemudian Ibnu Mubarak pergi meninggalkan tempat tersebut.

Esok paginya Beliau (Ibnu Mubarak) mendatangi pasar tersebut dengan membawa banyak dinar dan dirham. Didatanginya pedagang budak tersebut dan beliau pun menyampaikan maksudnya:

“Aku butuh seorang budak, dan aku akan membelinya darimu” Kata Ibnu Mubarak.

Kemudian pedagang tersebut mengeluarkan semua budak-budak daganganya yang kurang lebih jumlahnya sekitar 30 an orang.

“Masih adakah budak yang tersisa selain ini?” tanya Ibnu Mubarak.

“Masih ada satu budak, tapi ia tidak pernah mau bicara” Jawab pedagang tersebut.

“Tunjukkanlah padaku” Pinta Ibnu Mubarak.

Kemudian Pedagang tersebut mengeluarkan satu budak yang dilihatnya kemarin.

Baca Juga :  Kisah Islami 013: Begini Sikap Abu Hanifah Ketika Dilarang Berfatwa

“Berapa aku harus membayarnya” Tanya Ibnu Mubarak.

“Harganya 20 dinar, tapi karena engkau yang membelinya bayar saja 10 dinar.” Jawab pedagang tersebut.

“Tidak Tidak, akan tetapi aku akan menambahkan kepadamu sebanyak 27 dinar” kata ibnu mubarok.

Transaksi selesai, Kemudian Ibnu mubarak membawa pulang budak tersebut. Sampai dirumah Budak tersebut bertanya kepada Ibnu mubarak

“Kenapa Engkau mau membeliku Tuan, sedangkan hamba tidak mampu untuk melayanimu?”

Ibnu mubarak pun menjawab pertanyaan budak tersebut

“Aku membelimu karena aku ingin menjadi pelayanmu, dan aku akan melayani kebutuhanmu”

“Kenapa engkau melakukan hal itu” Tanya budak itu lagi

“Aku melihatmu kemarin berdoa kepada Allah Subhanahu Wata’ala, Dan Aku melihat Allah Mengabulkan Doamu. dari Kejadian tersebut aku melihat keramatnya doamu.” Jawab Ibnu Mubarak.

“Benarkah engkau melihatnya kemarin?” Tanyanya lagi.

“Iya.” Jawab Ibnu Mubarak.

“Apakah engkau akan memerdekakan aku?” Tanya Budak tersebut.

“Ya, kamu merdeka Karena Allah” Kata Ibnu Mubarak.

Tiba-tiba saja Ibnu Mubarak mendengar sebuah hatif (Suara tanpa wujud)

“Wahai Ibnu Mubarak, Berbahagialah Karena Allah telah mengampuni dosa-dosamu.”

Kemudian budak yang baru saja beliau merdekakaan berwudhu dan melakukan sholat dua rakaat dan bermunajat:

“Alhamdulillah, Ini adalah kemerdekaan yang aku dapat dari tuanku yang kecil, Lantas seperti apakah keadaanku jika aku mendapatkan kemerdekaan dari Tuanku Yang Maha Besar”

Lalu ia berwudhu lagi dan melakukan sholat dua rakaat. Kemudian Ia bermunajat lagi Kepada Allah Subhanahu Wata’ala:

“Ya Tuhanku, sesungguhnya engkau mengetahui bahwasanya hamba Telah menyembahmu selama 30 tahun, dan Janji antara hamba dengan Mu adalah untuk Tidak membuka Rahasiaku. maka ketika Engkau sudah membuka Rahasiaku, ambillah diriku”

Selesai bermunajat, tiba-tiba setelah bermunajat, budak yang baru saja merdeka tersebut tersungkur dan meninggal.

Kemudian Ibnu Mubarak mengkafani laki-laki tersebut dengan kain kafan yang biasa, menyolatkanya dan menguburkanya.

Baca Juga :  Kisah Islami 006: Ketika Sayyidah Aisyah berterima kasih kepada Syaikh Buthi

Malam harinya Ibnu Mubarak tidur dan bermimpi bertemu dengan seorang laki-laki yang sangat tampan dengan pakaian yang bagus bersama dengan seorang laki-laki yang lebih tua dan tampak berwibawa. Keduanya saling memegang pundak.

Laki-laki Tampan tersebut berkata kepada Ibnu Mubarak:

“Wahai Ibnu Mubarak, Tidakkah kau malu kepada Allah.”

“Siapakah dirimu ini?” tanya Ibnu Mubarak.

“Aku Muhammad Utusan Allah, dan ini adalah bapakku Ibrahim” Jawab laki-laki tersebut.

“Bagaimana aku tidak malu, sedangkan aku ini adalah orang yang banyak melakukan sholat?” jawab Ibnu Mubarak.

Kemudian Laki-laki itu berkata kepada ibnu mubarak:

“Telah meninggal satu wali dari wali-wali Allah, sedangkan kau hanya memberikan kain kafan yang biasa saja”.

Maka setelah pagi menjelang ibnu Mubarak menggali makam laki-laki yang baru saja ia merdekakan dan mengganti kain kafanya dengan kain kafan yang bagus yang pantas untuk wali tersebut.Kemudian ia menyolatkan dan menguburkan kembali wali tersebut.

Ditanyakan kepada Abul Qasim Al-hakim, tentang lebih utama mana antara orang yang bertaubat dari maksiat dan orang kafir yang kembali beriman?

Dijawabnya:

“Lebih Utama Orang yang bertaubat dari maksiat, Karena Kafir ketika dalam kondisi kekafiranya dia adalah orang lain, sedangkan ahli maksiat ketika ia bergelimang dosa dalam maksiatnya, ia tetap orang yang mengetahui Allah.

Orang Kafir ketika masuk islam kedudukanya dari orang lain menjadi orang yang mengetahui Allah, sedangkan pelaku maksiat ketika bertaubat kedudukanya dari orang yang hanya tahu akan Allah, naik menjadi orang yang dicintai Allah”.

Semoga Allah menetapkan Pada diri kita Iman dan Islam, Istiqamah dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan. dan apabila kita bermaksiat semoga diberi ampunan dan kemudahan dalam bertaubat dan dapat menutup kemaksiatan-kemaksiatan tersebut dengan perbuatan yang baik, perbuatan yang selalu dalam ridla-Nya.

Wallahu Yuhibbut Tawwabiin. Wallahu A’lam