Yang Dikatakan Ibnu Hajar Al-Haitami Tentang Orang Yang Melarang Puasa Rajab

Sering kita mendengar tentang tuduhan sebagai ahli bid’ah terhadap orang-orang yang berpuasa dibulan rajab. Dan tuduhan dan pelarangan semacam ini tidak hanya terjadi saat-saat ini saja.

Pada masa Al imam Ibnu Hajar Al haitami (lahir di Mahallah Abi al-Haitam, Mesir bagian Barat, Rajab 909 H, wafat di Mekkah Rajab 973 H) juga pernah terjadi fenomena yang sama dengan yang terjadi pada masa-masa sekarang.

hukum puasa rajab

Dikisahkan ada seorang ustadz yang merasa paling mumpuni dalam hal pengetahuan agama melakukan pelarangan terhadap puasa rajab dengan ucapan:

أَحَادِيثُ صَوْمِ رَجَب مَوْضُوعَةٌ وقد قال النَّوَوِيُّ الْحَدِيثُ الْمَوْضُوعُ لَا يُعْمَلُ بِهِ وقد اتَّفَقَ الْحُفَّاظُ على أَنَّهُ مَوْضُوعٌ 

“Hadits-hadits tentang puasa bulan Rajab adalah maudlu’ (palsu), al-Imam al-Nawawi mengatakan hadits maudlu’ tidak bisa diamalkan. Sedangkan para huffazh sepakat bahwa hadits tersebut palsu.” 

Tentu saja hal ini membuat kegaduhan di masyarakat, karena puasa di bulan rajab ini sudah menjadi kebiasaan bagi masyarakat.

Masyarakat yang merasa tidak nyaman dan terusik dengan fatwa dari ustadz yang merasa paling mengikuti sunnah tersebut akhirnya melaporkan permasalahan tersebut kepada Al-Imam Ibnu Hajar Al-haitami.

Lantas apa tanggapan dari Al-imam Al-faqih Ibnu Hajar Al-haitami yang tidak lain adalah murid dari Syaikhul Islam Zakariya Al-anshori.

Pertama, Beliau (Al-Imam Ibnu Hajar Al-haitami) menegaskan dalam al-Fatâwâ al-Fiqhiyyah al-Kubrâ, Beirut, Dar al-Fikr, 1983, juz 2, halaman 53:

نَعَمْ رُوِيَ في فَضْلِ صَوْمِهِ أَحَادِيثُ كَثِيرَةٌ مَوْضُوعَةٌ وَأَئِمَّتُنَا وَغَيْرُهُمْ لم يُعَوِّلُوا في نَدْبِ صَوْمِهِ عليها حَاشَاهُمْ من ذلك وَإِنَّمَا عَوَّلُوا على ما قَدَّمْته وَغَيْره

“Ya Benar demikian, terdapat banyak hadits palsu yang menerangkan keutamaan berpuasa Rajab, hanya saja para imam kita dan yang lain tidak berpedoman pada hadits-hadit tersebut, dan sungguh tidak mungkin bila hal tersebut tetjadi. Akan tetapi mereka berpegangan pada argumen yang telah saya sampaikan dan dalil-dalil lainnya.”

Kedua, kesunahan puasa Rajab sudah tercakup dalam hadits yang menganjurkan berpuasa secara umum, seperti hadits qudsi:

يقول الله كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ له إلَّا الصَّوْمَ

“Allah berfirman, seluruh amal Ibnu Adam diperuntukan kepadanya kecuali puasa.”

Atau hadits Nabi tentang puasa Daud:

إنَّ أَفْضَلَ الصِّيَامِ صِيَامُ أَخِي دَاوُد كان يَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا 

“Sesungguhnya puasa yang paling utama adalah puasanya saudaraku Daud, ia berpuasa satu hari dan berbuka satu hari berikutnya.”

Dalam hadits tersebut, Rasulullah tidak mengecualikan bulan tertentu, termasuk Rajab.

Ibnu Hajar menegaskan:

وكان دَاوُد يَصُومُ من غَيْرِ تَقْيِيدٍ بِمَا عَدَا رجب من الشُّهُورِ

“Dan Nabi Daud berpuasa tanpa ada batasan pengecualian di bulan Rajab.”

(Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, al-Fatâwâ al-Fiqhiyyah al-Kubrâ, Beirut, Dar al-Fikr, 1983 M, juz 2, halaman 53)

Ketiga, kesunahan puasa Rajab sudah tercakup dalam hadits yang menganjurkan berpuasa di bulan-bulan haram. Dan sudah sangat maklum, Rajab termasuk dari bulan-bulan haram, bahkan tergolong yang paling mulia di antara bulan-bulan haram tersebut.

Seperti dalam hadits riwayat Abi Daud, Ibnu Majah dan lainnya:

عن الْبَاهِلِيِّ أَتَيْت رَسُولَ اللَّهِ صلى اللَّهُ عليه وسلم فَقُلْت يا رَسُولَ اللَّهِ أنا الرَّجُلُ الذي أَتَيْتُك عَامَ الْأَوَّلِ قال فما لي أَرَى جِسْمَك نَاحِلًا قال يا رَسُولَ اللَّهِ ما أَكَلْت طَعَامًا بِالنَّهَارِ ما أَكَلْته إلَّا بِاللَّيْلِ قال من أَمَرَك أَنْ تُعَذِّبَ نَفْسَك قُلْت يا رَسُولَ اللَّهِ إنِّي أَقْوَى قال صُمْ شَهْرَ الصَّبْرِ وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ بَعْدَهُ وَصُمْ الْأَشْهُرَ الْحُرُمَ

“Dari al-Bahili, aku mendatangi Nabi, dan berkata: ‘Ya Rasul, aku adalah laki-laki yang mendatangimu di tahun yang lalu.’ Rasul menjawab, ‘Aku lihat badanmu semakin kurus.’ Ia menjawab, ‘Ya Rasul, aku tidak makan di siang hari, aku makan hanya di malam hari.’ Rasul berkata, ‘Siapa yang memerintahmu untuk menyiksa dirimu?’ Aku berkata, ‘Ya Rasul sesungguhnya aku kuat (berpuasa).’ Rasul berkata, ‘Berpuasa di bulan sabar dan tiga hari setelahnya, berpuasalah di bulan-bulan mulia.

” وفي رِوَايَةٍ صُمْ شَهْرَ الصَّبْرِ وَيَوْمًا من كل شَهْرٍ قال زِدْنِي فإن لي قُوَّةً قال صُمْ يَوْمَيْنِ قال زِدْنِي فإن لي قُوَّةً قال صُمْ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ بَعْدَهُ وَصُمْ من الْحُرُمِ وَاتْرُكْ صُمْ من الحرم وَاتْرُكْ وقال بِأُصْبُعِهِ الثَّلَاثِ يَضُمُّهَا ثُمَّ يُرْسِلُهَا

“Dalam riwayat lain disebutkan, berpuasalah di bulan sabar dan satu hari di setiap bulannya. Al-Bahili menjawab, ‘Tambahkan lagi ya Rasul, sesungguhnya aku masih sanggup.’ Rasul berkata, ‘Berpuasalah dua hari.’ Al-Bahil berkata, ‘Tambahkan lagi ya Rasul, sesungguhnya aku masih sanggup.’ Rasul berkata, ‘Berpuasalah tiga hari setelahnya, berpuasalah dari bulan haram, tinggalkanlah dari bulan haram, berpuasalah dari bulan haram dan tinggalkanlah darinya.’ Nabi berisyarah dengan ketiga jarinya seraya mengumpulkan dan melepaskannya.”

Setelah mengutip hadits di atas, Syekh Ibnu Hajar menegaskan:

فَتَأَمَّلْ أَمْرَهُ صلى اللَّهُ عليه وسلم بِصَوْمِ الْأَشْهُرِ الْحُرُمِ في الرِّوَايَةِ الْأُولَى وَبِالصَّوْمِ منها في الرِّوَايَةِ الثَّانِيَةِ تَجِدهُ نَصًّا في الْأَمْرِ بصوم رَجَب أو بِالصَّوْمِ منه لِأَنَّهُ من الْأَشْهُرِ الْحُرُمِ بَلْ هو من أَفْضَلِهَا

“Renungkanlah perintah Nabi dengan berpuasa penuh di bulan haram dalam riwayat pertama, dan berpuasa di sebagian hari bulan haram dalam riwayat kedua, maka engkau akan menemukan dalil nash yang tegas tentang anjuran berpuasa di sepanjang bulan Rajab atau beberapa hari darinya, sebab Rajab termasuk bulan-bulan mulia, bahkan termasuk yang paling utama di antara bulan-bulan mulia tersebut.”

(Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, al-Fatâwâ al-Fiqhiyyah al-Kubrâ, Beirut, Dar al-Fikr, 1983 M, juz.2, hal.53)

Keempat, terdapat beberapa hadits dla’if yang menganjurkan berpuasa di bulan Rajab secara khusus, di antaranya hadits riwayat al-Baihaqi dari sahabat Anas:

إنَّ في الْجَنَّةِ نَهْرًا يُقَالُ له رَجَبٌ أَشَدُّ بَيَاضًا من اللَّبَنِ وَأَحْلَى من الْعَسَلِ من صَامَ من رَجَبٍ يَوْمًا سَقَاهُ اللَّهُ من ذلك النَّهْرِ

  “Sesungguhnya di dalam surga terdapat sungai yang disebut Rajab, lebih putih dari susu, lebih manis dari madu. Barang siapa berpuasa dari bulan Rajab satu hari, maka Allah kelak memberinya minum dari sungai tersebut.” 

Hadits ini tergolong hadits mauquf atas Abi Qilabah, seorang tabi’in. Dalam hadits lain disebutkan:

عن أبي هُرَيْرَةَ أَنَّ النبي صلى اللَّهُ عليه وسلم لم يَصُمْ بَعْدَ رَمَضَانَ إلَّا رَجَبَ وَشَعْبَانَ 

“Dari Abi Hurairah, sesungguhnya Nabi tidak berpuasa setelah Ramadlan kecuali di bulan Rajab dan Sya’ban.” Sanad hadits ini adalah lemah (dla’if).

Meski tergolong dla’if, namun hadits di atas dapat dipakai dalam konten yang berkaitan dengan keutamaan amal (fadlail al-a’mal), dan berpuasa Rajab termasuk dalam konteks ini.

Syekh Ibnu Hajar menegaskan:

وقد تَقَرَّرَ أَنَّ الحديث الضَّعِيفَ وَالْمُرْسَلَ وَالْمُنْقَطِعَ وَالْمُعْضَلَ وَالْمَوْقُوفَ يُعْمَلُ بها في فَضَائِلِ الْأَعْمَالِ إجْمَاعًا وَلَا شَكَّ أَنَّ صَوْمَ رَجَبٍ من فَضَائِلِ الْأَعْمَالِ فَيُكْتَفَى فيه بِالْأَحَادِيثِ الضَّعِيفَةِ وَنَحْوِهَا وَلَا يُنْكِرُ ذلك إلَّا جَاهِلٌ مَغْرُورٌ

“Dan merupakan ketetapan bahwa hadits dla’if, mursal, munqathi’, mu’dlal dan mauquf dapat dipakai untuk keutamaan amal menurut kesepakatan ulama. Tidak diragukan lagi bahwa berpuasa Rajab termasuk dalam keutamaan amal, maka cukup memakai hadits-hadits dla’if dan sesamanya. Dan tidak mengingkari kesimpulan ini kecuali orang bodoh yang tertipu.” (Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, al-Fatâwâ al-Fiqhiyyah al-Kubrâ, Beirut, Dar al-Fikr, 1983 M, juz.2, halaman 53)

Demikian penjelasan mengenai tanggapan atas syubuhat (propaganda) mengenai pelarangan puasa Rajab. Klaim bid’ah atau haram atas tradisi berpuasa Rajab tidak memiliki dasar yang kuat,

Bahkan menurut Syekh Ibnu Abdissalam sebagaimana dikutip Syekh Ibnu Hajar, pihak yang berfatwa demikian adalah orang bodoh.

“Orang yang melarang berpuasa Rajab adalah orang bodoh yang dikenal kebodohannya. Dan tidak halal bagi orang muslim untuk mengikutinya dalam urusan agama.”

–Sulthonul fuqoha’ Syaikh ibn Abdus Salam

وَاَلَّذِي يَنْهَى عن صَوْمِهِ جَاهِلٌ مَعْرُوفٌ بِالْجَهْلِ وَلَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يُقَلِّدَهُ في دِينِهِ

“Orang yang melarang berpuasa Rajab adalah orang bodoh yang dikenal kebodohannya. Dan tidak halal bagi orang muslim untuk mengikutinya dalam urusan agama.” (Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, al-Fatâwâ al-Fiqhiyyah al-Kubrâ, Beirut, Dar al-Fikr, 1983 M, juz.2, halaman 53). 

Semoga ini menjadi pelajaran agar tidak mudah membid’ahkan dan gegabah dalam menanggapi masalah. Apalagi amalan-amalan tersebut sudah menjadi tradisi di masyarakat.


Sumber : NU Online

Editor : Miftah