Khutbah Idul Fitri 2020 PCNU Kab. Kediri (Download PDF)

Khutbah Pertama Idul Fitri

الله اكبر x٩
اْلحَمْدُ للهِ الَّذِيْ جَعَلَ اْلاَعْيَادَ بِاْلأَفْرَاحِ وَالسُّرُوْرِ. وَ ضَاعَفَ لِلْمُتَّقِيْنَ ديْنَ جَزِيْلَ اْلأُجُوْرِ. وَكَمَّلَ الضِّيَافَةَ
ُّفِى يَوْمِ اْلعِيْدِ لِعُمُوْمِ اْلمُؤْمِنِيْنَ بِسَعْيِهِمِ اَلمْشْكوْرِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ اْلعَفُواْلغَفوْرُ. وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَّلذِيْ نَالَ مِنْ رَبّهِ مَالَمْ يَنَلْهُ مُقَرَّبٌ وَلاَ رَسُوْلٌ اللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ كَانُوْا يَرْجُوْنَ تِجَارَةً لَنْ تَبُوْرَ

ُأَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَاالنَّاسُ، اِتَّقُوااللهَ رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. وَالأَمْرُ بِالتَّقْوَى وَصِيَّة اللهِ لِلأَوَّلِيْنَ وَاْلآخِرِيْنَ. وَعَلاَمَة
اْلمؤْمِنِيْنَ وَدِثَارَةُ الْمُتَّقِيْنَ


Kaum muslimin dan muslimat rahimakumullah


Hari ini kita patut bersyukur kepada Allah subhanahu wata’ala atas datangnya hari Idul Fitri tahun 1441 Hijriyah yang menjadi tanda selesainya ibadah puasa bulan suci Ramadhan yang telah kita laksanakan selama sebulan penuh. Bulan Ramadhan yang penuh dengan rahmat dan ampunan itu, kini telah berlalu. Kita melepaskannya dengan ucapan takbir dan tahmid sebagai ungkapan syukur kepada Allah atas pertolongan-Nya.


Kaum muslimin yang berbahagia…


Setelah sebelumnya menunaikan zakat fitrah, kita baru saja tadi bersama-sama melaksanakan shalat Id. Kini marilah kita buktikan rasa syukur kita kepada Allah ta’ala dengan berusaha, meski pelan tapi pasti, secara bertahap untuk menjadi orang yang bertaqwa, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala:

فَاتََّقُوا اللهَ مَااسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَأَنْفِقُوا خَيْرًا لِأَنْفُسِكمْ


“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarkanlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu”(Q.S At Taghabun: 16.)


Selanjutnya kita selalu berusaha meningkatkan ketaqwaan kepada Allah subhanahu wata’ala dalam keadaan bagaimanapun dan di manapun kita berada, baik dalam suasana gembira maupun menderita, baik ketika seorang diri maupun bersama keluarga dan teman-teman kita.


Termasuk bertaqwa kepada Allah adalah bersikap sabar dalam menerima musibah dan cobaan apa saja yang menimpa diri kita, keluarga atau kelompok dan bangsa kita. Bahkan kita harus mempunyai sikap bahwa kita sesungguhnya milik Allah dan akan meninggalkan dunia ini.


Sebagaimana kita ketahui, dibalik rasa bahagia atas datangnya hari Raya yang mulia ini, ada rasa duka dibenak kita semua. Sebab sejak beberapa wakktu lalu wabah Covid 19, suatu penyakit ganas yang sangat cepat menular yang sebelummya muncul dan menyebar di banyak negara, kini telah masuk ke negeri kita, sehingga pada hari raya tahun ini lantaran adanya wabah penyakit yang belum ditemukan obat maupun vaksinnya itu, kita tidak bisa dengan leluasa melaksanakan silaturahim seperti pada hari Raya di tahun-tahun
sebelumnya.

Karena setelah wabah ini merebak di negeri kita dan memakan banyak korban, pemerintah kemudian memberlakukan berbagai aturan yang berkaitan dengan wabah tersebut yang harus kita patuhi.

Di antara aturan-aturan itu ialah bahwa semua warga harus menerapkan “Physical distancing” alias menjaga jarak aman untuk berdekatan dengan orang lain, sehingga di hari Raya sekarang ini, kita tidak bisa bersilaturrahim secara bebas dan bercengkerama dengan krabat dan sahabat.


Sudah barang tentu, musibah wabah yang menimpa kita sekarang ini merupakan kejadian yang datang dari Allah subhanahu wata’ala yang tidak bisa ditolak. Namun atas perintah agama pula, bagi orang-orang yang belum tertimpa wabah, diwajibkan untuk menghindar dari musibah penyakit yang mengancam mereka itu, dan bagi orang-orang yang telah tertimpa, harus berusaha mengobatinya.

Baca Juga :  Khutbah Jum'at Bahasa Jawa : Keutamaan Istighfar


Kita harus memahami, bahwa upaya orang-orang yang belum tertimpa penyakit untuk menghindar dari penyakit itu dengan cara pencegahan melalui penerapan jaga jarak, itu jauh lebih baik dari pada dengan melalui pengobatan setelah penyakit itu menimpa diri. Selama penyakit Covid 19 yang disebut juga dengan “Corona” ini masih mewabah, kita semua mesti melaksanakan aturan physical distancing yang telah diberlakukan itu, karena Allah subhanahu wata’ala dalam al Quran melarang seseorang membiarkan dirinya
terperosok dalam kebinasaan, sebagaimana disebutkan dalam ayat ini:

وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكمْ إِلَى التََّهْلُكَةِ


“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu kedalam kebinasaan”. (Q.S al Baqarah: 195.).


Kaum muslimin yang berbahagia


Selain aturan jaga jarak, pememerintah juga membuat berbagai aturan-aturan lainnya kepada rakyatnya, mulai dari PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) di beberapa wilayah sampai larangan mudik dan lainnya yang kesemuanya itu demi untuk memutus mata rantai penyebaran virus Corona di negeri ini. Karena wabah ini selain membahayakan jiwa, juga berdampak besar pada merosotnya perekonomian rakyat dan juga negara sendiri, karena selain untuk menanggulangi wabah ini negara menggelontorkan dana dari APBN 2020, lebih dari 400 trilliun Rupiah, masyarakat sendiri juga menjadi kehilangan sumber nafkah akibat tak bisa beraktivitas di bidang usaha.

Kita tidak bisa membayangkan bagaimana dampak yang kita derita terutama di sector perekonomian rakyat, jika musibah ini berkepanjangan. Lalu sampai berapa lama kita menderita musibah seperti ini?!. Sebenarnya, urusan cepat ataupun lambat lenyapnya musibah Covid 19 itu, ada di tangan rakyat sendiri, tergantung seberapa besar kesabaran dan ketabahan mereka dalam mendisiplinkan diri mematuhi aturan-aturan yang telah diberlakukan itu.

Maka dari itu, sebagai warga dari Negara yang sedang dirundung musibah seperti ini, sudah seharusnya kita mematuhi semua petaturan yang telah tetetapkan oleh pemerintah kepada rakyatnya itu, agar musibah ini segera bisa berakhir.

Selain dari itu, bagi rakyat sendiri, mematuhi peraturan penguasa Negara yang bukan hanya bersifat himbauan, tetapi berupa perintah atau larangan, yang tidak secara nyata bertentangan dengan ajaran agama, apalagi demi untuk kemaslahatan rakyatnya sendiri, hukumnya adalah wajib menurut kalangan ulama Ahlis Sunnah Wal Jama’ah sebagaimana dituturkan oleh antara lain imam al Mawardi, seorang pakar fiqih madzhab Syafi’i dalam kitabnya “Al Ahkamus Sulthaniyah’. Dalam sebuah hadits diesebutkan, bahwa Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda:

عَلَى اْلمَرْءِ السَمْعُ وَالطَاعَة فِيْمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ، إِلا َّ أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةِ اللهِ، فَإِنْ أَمِرَ بِمَعْصِيَةِ اللهِ فَلاَ سَمْعَ
وَلاَ طَاعَةَ


“Wajib atas seorang Muslim untuk mendengar dan taat (kepada penguasa) pada apa- apa yang ia sukai atau ia benci, kecuali jika ia disuruh untuk berbuat kemaksiatan. Jika ia disuruh untuk berbuat kemaksiatan, maka tidak boleh mendengar dan tidakboleh taat”. (HR Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar radliyallahu ‘anhu).

٣x الله اكبر


Kaum Muslimin Dan Muslimat rahimakumullah


Selanjutnya yang harus diingat, bahwa yang namanya musibah itu, tidak membedakan sasaran yang dikenainya. Ia juga dapat menimpa kepada orang-orang yang shalih, bahkan Wali sekalipun, sampai manusia yang biasa berbuat jahat dan maksiat.

Baca Juga :  Khutbah Jum'at : Keutamaan Istighfar dan Puasa Dibulan Rajab


Apabila dalam masa adanya musibah ini kita tetap tabah, sabar dan berikhtiar, maka insyaallah kita bisa masuk dalam golongan orang-orang yang taqwa kepada Allah subhanahu wata’ala. Sedangkan terhadap pelaku taqwa yang istiqamah, Allah subhanahu wata’ala telah menjanjikan adanya jalan keluar dari kesulitan dan rezeki yang tidak terduga seperti yang difirmankan Allah subhanahu wata’ala:

وَمَن يَتََّقِ اللََّهَ يَجْعَل لََّهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ


“Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar (bagi kesulitan-kesulitannya) dan Allah akan memberikan rezeki dari arah yang tidak diduga-duga”. (Q.S At Thalaq: 2-3).

Semoga kita akan senantiasa diberi kesabaran dan mampu menghadapi musibah ini dengan segala konsekuensinya sehingga wabah ini bisa segera diangkat.

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْظَانِ الرَّجِيْمِ . لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكمْ وَأَْنفُسِكمْ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ اَّلذِينَ أَشْرَكُواْ أَذًى كَثِيرًا وَإِن تَصْبِرُواْ وَتَتَّقُواْ فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الأُمُور

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ بِاْلقُرْأَنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِىْ وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلاَيَاتِ وَالذِّكْرِاْلحَكِيْمِ. وَتَقََّبلَ مِنِّى وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ . وَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ اْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua Idul Fitri

الخطبة الثانية

الله اكبر x7

اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كثيرًا كَمَا اَمَرَ. وأَشْهَدُ أَنْ لا َّاِلَهَ اِلا َّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ المُتَعَالِى عَنِ المُشَارَكَةِ
والمُشَاكَلَةِ لِسَائِرِ البَشَرِ. واشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلهُ النَّبِيُّ المُعْتَبَرُ. اللهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلىَ هَذَاالنَّبِيِّ اْلكَرِيمِ سَيِّدِنَا وَمَوْلاَناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ . صَلاَةً وَسَلاَمًا دائِمَيْنِ مُتَلازِمَيْنِ اِلَى يَوْمِ لِقاَئِهِ

ِأمَّا بعدُ : فَيَا اَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقوا اللهَ حَقَّ تُقاَتِهِ ولاتَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْن. وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهَ تَعَالَى صلّى عَلىَ نَبِيِّه قَدِيْمًا. تَنْبِيْهًالَكُم وَتَعْلِيْمًا . وَتَشْرِيفًا لِقَدْرِ نَبِيِّهٍ وتَعْظِيْمًا . (إِنَّ اللهَ ومَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَّامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيْمًا). اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ . كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى الِ إِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ . كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى اٰلِ إبْرَاهِيْمَ. فِى اْلعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اللّٰهُمَّ اَعِزَّ الاسْلاَمَ واَلمُسْلِمِيْنَ. وَاَصْلِحْ جَمِيْعَ وُلاَةِ المُسْلِمِيْنَ. وَانْصُرْ جُيُوََْ المُسْلِمِيْنَ. وعَسَاكِرَ المُوَح ِّدِيْنَ. وتُبْ عَلَى العُصَاةِ وَالْمُذْنِبِيْنَ. مِنْ امَّةِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ أَجْمَعِيْنَ . وَاَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُبْتَدِعَةَ وَالْمُلْحِدَةَ والمُشْرِكِيْن . وَدَمِّرْ اَعْدَائَكَ اَعْدَاءَ الدِّيْنِ . وَاَعْلِ كَلِمَتَك إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ . اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الغَلاَءَّ وَاْلبَلاءَّ. وَالامْرَاضَ وَاْلمِحَنَ والقَحْطَ وَالْوَبَاءَ . بِرَحْمَتِك يَاأَرْحَمَ اَّلراحِمِيْنَ

الله اكبر x ٣


اللهمَّ اغْفِرْ للمسلميْنَ والمسْلمَات. والمؤمنين والمؤمناتِ. اَلاحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالامْوَاتِ. اِنكَ سميْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ . فَيَاقَاضِيَ اْلحَاجَاتِ. ربنا اتنا فى الدنيا حسنة وفى الاخرة حسنة وقنا عذاب النار

الله اكبر x ٣

عِبادَ اللهِ. إِن َّ اللهَ يَأْمُرُ بِالعدْلِ والإِحْسَانِ. وإِيتَاءِ ذِى اْلقرْبَى وَيَنْهَىَ عَنِ اْلفَحْشَاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْىِ
يَعِظُكمْ لَعَلَّكمْ تَذَكَّرُوْنَ . فَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ . وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَاسْئَلوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكمْ. وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Demikian Khutbah Idul Fitri Terbaru PCNU Kab. Kediri. Untuk Tata cara sholat idul fitri dirumah bisa di lihat dihalaman ini (Baca : Tata cara sholat idul fitri dirumah)

Untuk khutbah Versi Bahasa Jawanya bisa di download disini

Unduh Khutbah Versi PDF

Terima Kasih.