≡ Menu

Cerita Sebuah Foto

in Hikmah
profil KH. Abdul Hamid Kajoran

Adalah kiriman foto unik yang mampu bercerita banyak dengan hanya berlatarbelakang sederhana :

KH Abdul Hamid atau lebih akrab disebut Mbah Hamid Kajoran yang dalam foto tergambar sebagai sosok sepuh yang multi dalam kasepuhannya. Bukan hanya sepuh usia tapi juga sepuh dalam ilmu dan akhlaknya. Tidak sebatas mauidhoh hasanah, tapi sudah dalam tataran uswah hasanah.

Dari jauh gambar ini mengisahkan kerut wajah kesabaran seorang Kiai yang masyhur akan kewaliaannya itu, seakan tidak rela jika para santrinya kelak menjadi manusia yang tidak berguna. Genggaman tangan sang kiai bercerita betapa tangguhnya kiai ini dalam mengawal anak-cucu, para santri dan umat pada tiap doa.

Dikawal dan ditandu oleh para santri tanpa alas kaki yang setia meskipun selalu ada saja kenakalan dan kejenakaan dalam dunia mereka, namun wajah ikhlas itu mampu menegaskan bahwa seorang santri tidak mungkin sampai hati membuat hati kiai kecewa.

Mereka siap bergantian tanpa struktur jadwal untuk melaksanakan dawuh kiai. Ketakutan yang tidak terukur pasti dirasakan seorang santri jika tidak mendapat ridho kiainya. Dalam dunia pesantren ridho kiai adalah surga bagi santri. Luap gertakan seorang guru adalah pemandu bagi mereka, untuk tidak lelah dalam meniti perjalanan seorang salik menjadi baik dan lebih baik lagi dimata tuhannya. Tak jarang dijumpai para santri mengadakan macam-macam ritual tirakat atau riadhoh hanya untuk memohon kepada Sang Penguasa Semesta agar lulus mendapat ridho kiai.

Balutan kain putih yang dominan dalam khas cara berpakaian kiai sepuh itu telah mewakilkan dunia untuk berkata pada pengamat gambar ini, bahwa:

“manusia seperti ini sudah tidak dapat dipikat lagi oleh bujuk rayuanku”.

Kiai kelahiran Temanggung ini konon jika ditotal hanya kira-kira 3 bulan saja dalam tiap-tiap tahunya berada dirumah. Selebihnya waktu digunakan untuk rihlah dalam kemasan dakwah yang antik nan apik dengan bumbu akhlaqul karimah.

Baca Juga :  3 Ciri Orang Shalih, Apakah Anda Masuk didalamnya?

Tidak sedikit orang bercerita jika Mbah Hamid hendak bepergian untuk berdakwah, beliau berpamit dengan kalimat kinayah untuk menjaga tradisi khumul :

“Nyong arak lungo ngileake banyu” (Saya hendak pergi mengalirkan air).

Sungguh keteladanan yang sulit ditemui untuk zaman ini, dimana seorang kiai yang selalu berusaha menyembunyikan dakwahnya agar hatinya tidak terjangkit penyakit takabur, riya, ujub dan sebagainya. Sementara sekarang, mana ada yang kerasan menyembunyikan kebaikan.

Semuanya ingin diunggah pada khalayak hanya dalam rangka menggapai eksistensi pada pandangan makhluk fana yang ahli lupa dan melupakan. Semoga para santri dapat meneruskan dan mewariskan ruh kepesantrenannya kepada anak cucu mereka agar mau berlama-lama tinggal dipondok pesantren hingga mampu menggapai ridho guru, kiai dan masyayikh.

Parakan, 5 Maret 2019.

Penulis: Lamick Jamaick

Silahkan Bagikan Jika Bermanfaat: