Kewajiban Seorang Muslim Terhadap Jenazah

Cara merawat jenazah muslim, kafir, orang yang mati syahid dan bayi yang keguguran

Diantara kewajiban seorang muslim terhadap jenazah (mayit) adalah memandikan, Mengkafani, menyolati dan menguburkan.

Dan bagi seorang muslim selayaknya memahami tata cara merawat jenazah, baik itu jenazah muslim, non muslim, orang yang ihram, orang yang mati syahid dan juga bayi yang keguguran.

Tata cara merawat jenazah

Kewajiban terhadap jenazah muslim

Setiap muslim memiliki kewajiban hukum untuk:

  1. Memandikan
  2. Mengkafani
  3. Menyolatkan
  4. Menguburkan

Kewajiban diatas hukumya adalah fardlu kifayah (Jika kewajiban tersebut sudah dilakukan oleh sebagian orang islam maka status fardlu untuk muslim lainya sudah gugur).

Kewajiban-kewajiban diatas memiliki catatan jika jenazah muslim tersebut bukan tergolong orang yang mati syahid dan orang yang meninggal dalam keadaan ihram. Sedangkan untuk orang yang meninggal dalam keadaan ihram dan syahid akan kami jelaskan di bawah.

Perlakuan Terhadap Jenazah Non Muslim

Ada beberapa hal yang tidak boleh dilakukan oleh seorang muslim terhadap jenazah Non Muslim secara mutlak baik itu kafir dzimmi ataupun kafir harbi adalah menyolati.

Baca Juga :  Hukum Makmum melakukan Tasyahud Awwal Sedangkan Imam Tidak

Menyolati terhadap kafir dzimmi dan kafir harbi hukumnya haram secara mutlak.

Sedangkan untuk memandikan terhadap keduanya diperbolehkan.

Kewajiban yang lain terhadap kafir dzimmi adalah mengkafani dan juga menguburkan.

Sedangkan untuk kafir harbi dan juga orang yang murtad tidak wajib untuk mengkafani dan juga menguburkan.

Dari keterangan diatas dapat kita garis bawahi bahwa perlakuan seorang muslim terhadap non muslim adalah sebagai berikut:

Perlakuan Terhadap Jenazah Kafir Dzimmi

  1. Memandikan
  2. Mengkafani
  3. Menguburkan

Perlakuan Terhadap kafir harbi dan murtad

  1. Boleh memandikan
  2. Tidak wajib mengkafani
  3. Tidak wajib menguburkan

Perlakuan Terhadap Jenazah Muhrim (Orang Yang Ihram)

Terhadap jenazah muhrim (orang yang ihram) seorang muslim ketika mengkafani tidak boleh menutup kepala jenazah tersebut. Dan untuk muhrim wanita tidak boleh menutup wajahnya.

Untuk orang yang meninggal pada saat ihram kenapa pada saat mengkafani tidak boleh ditutup kepalanya?

Bagi orang yang meninggal pada saat ihram tidak diperbolehkan menutup kepalanya pada saat mengkafani berdasarkan hadits nabi yang di riwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, dari Ibnu Abbas, dia bercerita bahwa ketika sedang wukuf di Arafah, tiba-tiba ada orang yang jatuh dari kendaraannya dan patah tulang lehernya dan meninggal. Lalu Rasulullah Saw bersabda:

Baca Juga :  Zakat Fitrah Dengan Uang, Berapa Nominalnya? Ini Keputusan LBM PBNU

اغْسِلُوهُ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ، وَكَفِّنُوهُ فِي ثَوْبَيْنِ، وَلاَ تُحَنِّطُوهُ، وَلاَ تُخَمِّرُوا رَأْسَهُ، فَإِنَّهُ يُبْعَثُ يَوْمَ القِيَامَةِ مُلَبِّيًا

Mandikan dia dengan air dicampur daun bidara, kafani dia dengan dua lapis kain (yang dia kenakan untuk ihram), jangan diberi minyak wangi, dan jangan ditutup kepalanya, karena dia akan dibangkitkan pada hari kiamat sambil membaca talbiyah.

Perlakuan Terhadap Jenazah Orang Yang Mati Syahid

Adapun untuk jenazah karena mati syahid maka yang tidak boleh dilakukan adalah memandikan dan mengkafani.

Perlakuan Terhadap Bayi Yang Keguguran

Untuk bayi yang keguguran sama perlakuanya dengan orang yang mati Syahid yakni tidak di sholatkan dan juga tidak di mandikan dengan syarat bayi yang keguguran tersebut belum bisa menjerit (belum bisa mengeraskan suara).

Namun jika bayi yang keguguran tersebut sudaj bisa menangis dan menjerit maka hukumnya sama dengan orang dewasa sebagaimana yang disampaikan oleh syaikh Ibn Qashim Al-ghazi dalam Kitab Fathul Qarib ala Matan Abi Syuja’.

Wallahu A’lam.