Kenapa Kita Harus Menggunakan Kitab Kuning?

Sering kita mendengar orang mengatakan “Kembali ke Al-Qur’an dan Sunnah, jangan menggunakan kitab kuning karena itu karangan manusia, dan manusia bisa saja salah.” Jargon seperti ini beberapa tahun terakhir sangat marak dan kemungkinan mereka yang belum mengenal kitab kuning akan langsung meng iya kan ucapan tersebut. 

Pernyataan seperti diatas merupakan prilaku yang tidak menarik dan menyesatkan, karena jelas membenturkan antara Alqur’an dengan Kitab kuning. Padahal dengan perantara kitab kuning tersebut kita dapat memahami Ayat-Ayat Al-qur’an ataupun Sunnah Nabi.

Lantas apa sih isi kitab kuning, Kenapa para kyai dan santri-santri di pesantren begitu Akrab dengan kitab tersebut?

Kitab Kuning adalah Kitab yang dikarang oleh Ulama-ulama yang sangat memahami Al-qur’an dan Sunnah isinya memuat hukum-hukum Agama baik itu tentang Tauhid atau ketuhanan, ibadah, muammalah, munakahah, Siyasah, Tafsir, sejarah, sastra dan lainya yang isinya diambil dari al-qur’an, hadits, ijma’ dan qiyas. Kitab kuning selalu merujuk kepada dalil-dalil agama dan tidak pernah keluar darinya.

Kebetulan Pada jaman itu kertas yang dipakai untuk mencetak karya para ulama memakai warna kuning sehingga identik dengan nama kitab kuning. Dengan kitab kuning kita akan lebih mudah untuk memahami Alqur’an dan Sunnah. Karena Tingkat bahasa dan sastra yang tinggi tidak semua orang mampu untuk bisa memahami kandungan dari Al-qur’an dan Sunnah.

Dengan kitab kuning, kita tinggal menerima hasil jadi tanpa perlu kesulitan dalam mempelajari disiplin-disiplin ilmu yang tidak semua orang mampu mempelajarinya. Bahkan ulama pun tidak semuanya bisa sampai tingkat mujtahid muthlaq yang mana para mujtahid muthlaq inilah yang berhak untuk menggali langsung hukum-hukum agama dari Al-Qur’an dan Hadits.

Baca Juga :  Puasa di bulan Rajab Bid'ah? Mari kita Lihat Pendapat Para Ulama

Dalam hal kemampuan intelektual, sebagian dari kategori ulama adalah: Pertama, para ulama yang mampu menggali hukum langsung dari Alquran dan hadits dengan menggunakan teori ushul fikih yang dibuat sendiri, seperti para imam madzhab (Maliki, Hambali, Syafi’i dan Hanafi).

Kedua, mereka para ulama yang sudah memenuhi persyaratan sebagai mujtahid, namun belum mampu membuat teori ushul fikih sendiri. Dalam menggali hukum, mereka ini memakai teori ushul fikihnya imam madzhab (Dari kalangan Malikiyah ada Ibnu Qasim, Hanabilah ada Abu Bakr Al Atsram, Syafi’iyah ada Al Buwaithi, dan dari kalangan Hanafiyah ada nama Abu Yusuf).

Selain kedua kategori ulama tersebut, ada beberapa kategori yang lain. Mulai dari mereka yang mencetuskan hukum yang belum pernah dijelaskan oleh imam madzhab dengan tetap berpegang teguh dengan undang-undang ushul imam madzhab, sampai pada kategori ulama yang hanya mampu menganalisa dan meneliti perbedaan tarjih (memberi penilaian kuat dan lemah) yang terjadi di kalangan mujtahid fatwa.

Adanya kategori ulama seperti ini, tidak lebih karena memang untuk memahami agama (mencetuskan hukum) langsung dari Alquran dan hadis itu butuh kemampuan khusus. Karena untuk memahami bahasa Arab dengan benar saja, butuh waktu lama. Karena Alquran dan hadis menggunakan bahasa Arab dengan kualitas yang sangat tinggi, maka menjadi hal pokok untuk terlebih dahulu memahami bahasanya.

Untuk mendalaminya, seseorang yang ingin menjadi mujtahid setidaknya harus menguasai dahulu gramatika bahasa Arab, sastra Arab/ Balaghoh, logika bahasa, sejarah bahasa, dll. Hal ini penting untuk meminimalisir kesalahan mengidentifikasi makna yang dikehendaki syari’at dari sumbernya secara tekstual, juga untuk mengidentifikasi dalil-dali yang bersifat ‘am, khosh, berlaku hakiki, majazi, dan seterusnya.

Baca Juga :  Benarkah Memakai Celana Lebih Sunnah Dari Pada Sarung?

Selain penguasaan memahami bahasa Arab, seseorang yang hendak menggali hukum langsung dari Alquran dan hadis juga, setidaknya dia harus hafal seluruh isi Alquran dan sekurang-kurangnya seratus ribu hadis. Belum lagi dia harus menguasai ilmu-ilmu pendukung lainnya, seperti asbabunnuzul dari setiap ayat dan juga asbabulwurud dari setiap hadits, juga penguasaan atas kaidah istinbath para imam mujtahid.

Lantas ketika faktanya demikian, solusi terbaik agar kita tetap berada pada rel agama tidak lain adalah harus mengikuti salah satu madzhab atau taklid saja, Dengan menggunakan kitab-kitab para ulama salaf (bukan salafi wahabi) yang sudah terbukti keilmuwanya.

Kitab kuning sebelum diterbitkan juga di ujikan dan didebatkan terlebih dahulu kepada ulama’- ulama’ lain. Bukan seperti brosur yang sering dibagikan di masjid-masjid saat selesai shalat jum’at. yang mana brosur-brosur tersebut kadang kita tidak tahu kemampuan penulisnya dalam bidang ilmu agama, apalagi sampai mau diujikan secara akademis.

Semoga kita tidak termakan propaganda kembali ke Al-qur’an dan Sunnah. Dan jika anda sudah termakan propaganda tersebut silahkan kembali ke pangkuan ulama-ulama yang sudah jelas kemampuan agama dan  terang sanad ilmunya.

ketika ada pilihan mudah kok kita memilih yang sulit tentu perlu dipertanyakan cara berfikir kita, bukankah kebanyakan orang tidak akan memilih yang sulit ketika ada yang mudah?

Saya Akhiri tulisan ini dengan mengutip dawuh Al-Alamah KH. Nurul Huda Djazuli (Pengasuh Ponpes Al-falah Ploso Kediri)

من لا سند له لا علم له

“Barang siapa yang tidak memiliki sanad, Baginya tidak memiliki ilmu”

Wassalam,