Kategori: Shalat

Hukum Menjual Daging Dan Kulit Kurban

Bagaimana Hukum Menjual Daging Kurban dan juga Kulit Kurban? Bolehkah panitia/orang yang berkurban menjual sebagian daging atau kulitnya untuk biaya operasional? Bolehkah orang yang menerima daging kurban menjual bagianya untuk kebutuhan lain?

Pertanyaan-pertanyaan diatas sering kita jumpai ketika menjelang hari raya idul adha. banyak yang menanyakan hukum dari menjual daging kurban ataupun menjual kulit kurban baik ditanyakan oleh orang yang berkurban ataupun orang yang menerimanya.

Seperti yang kita ketahui, tiap daerah biasanya mempunya cara sendiri dalam menangani hewan kurban. Hal tersebut tidak menjadi masalah asalkan tidak sampai keluar dari aturan yang sudah ditetapkan oleh syara’.

Lantas bagiamana hukum menjual daging dan kulit kurban sebagaimana pertanyaan diatas?

Hukum Menjual Daging Kurban Bagi Orang Yang Berkurban

Banyak kitab-kitab fiqih yang sudah menjelaskan tentang hukum menjual daging dan kulit kurban bagi orang yang berkurban. Salah satunya seperti yang disampaikan oleh syaikh ibnu qasim al-ghazi dalam Fathul qarib syarah matan taqrib berikut ini:

(وَلَا يَبِيْعُ) أَيْ يَحْرُمُ عَلَى الْمُضَّحِيْ بَيْعُ شَيْئٍ (مِنَ الْأُضْحِيَّةِ) أَيْ مِنْ لَحْمِهَا أَوْ شَعْرِهَا أَوْ جِلْدِهَا وَيَحْرُمُ أَيْضًا جَعْلُهُ أُجْرَةً لِلْجَزَارِ وَلَوْ كَانَتِ الْأُضْحِيَّةِ تَطَوُّعًا

“Tidak diperbolehkan bagi orang yang berkurban untuk menjual sesuatu dari hewan kurbanya, baik itu berupa daging, rambut ataupun kulitnya. Dan juga haram hukumnya menjadikannya (Daging, Rambut, ataupun Kulit) sebagai upah kepada jagal walaupun kurban tersebut adalah kurban sunah.”

Dalam kitab lain juga dijelaskan bahwa menjual daging dan kulit kurban juga haram sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh Abu Bakar Ibn Muhammad Al-Husaini dalam Kitab Kifayatul Akhyar di bawah ini:

وَاعْلَم أَن مَوضِع الْأُضْحِية الِانْتِفَاع فَلَا يجوز بيعهَا بل وَلَا بيع جلدهَا وَلَا يجوز جعله أُجْرَة للجزار وَإِن كَانَت تَطَوّعا

“Dan ketahuilah bahwa fungsi hewan kurban adalah untuk dimanfaatkan. Maka tidak diperbolehkan menjualnya, tidak diperbolehkan pula menjual kulitnya dan juga tidak boleh menjadikan hasil penjualan untuk upah tukang jagal meskipun kurban sunah (bukan kurban nadzar)”

Dari dua keterangan diatas dapat kita ketahui bahwasanya menjual daging kurban maupun kulit kurban hukumnya haram walaupun uang hasil penjualan daging dan kulit kurban tersebut digunakan untuk biaya operasional.

Begitupun juga tidak diperbolehkan menyerahkan kulit atau daging hewan kurban kepada penjagal untuk digunakan sebagai upah, Kecuali penyerahan kulit dan hewan kurban kepada penjagal tersebut atas nama sedekah.

Setelah kita melihat keterangan diatas, sebaiknya bagi orang yang berkurban selain menyerahkan hewan kurban kepada panitia siapkan ongkos untuk operasional baik untuk penyembelihan, ataupun ongkos untuk membagikan hewan kurban kepada orang-orang yang berhak.

Jika orang yang berkurban tidak memberikan biaya operasional bagaimana solusinya?

Jika terjadi hal yang demikian sebaiknya disiasati dengan benar. Seperti menjadikan salah satu panitia menjadi penerima yang boleh menjual sedekah kurbanya.

Setelah salah satu panitia menjual hak daging kurbanya, baru dana yang didapat bisa ia sedekahkan untuk biaya operasional penyembelihan dan pembagian hewan kurban.

Menjual Daging dan Kulit Kurban Bagi Penerima

Pertanyaan yang muncul selanjutnya adalah bagaimana hukumnya menjual daging dan kulit kurban bagi orang yang menerimanya?

Dalam hal ini Syaikh Sa‘id bin Muhammad Ba‘asyin menjelaskan dalam kitabnya Busyrol karim:

تردد البلقيني في الشحم، وقياس ذلك أنه لا يجزئ كما في التحفة، وللفقير التصرف فيه ببيع وغيره أي لمسلم، بخلاف الغني إذا أرسل إليه شيء أو أعطيه، فإنما يتصرف فيه بنحو أكل وتصدق وضيافة، لأن غايته أنه كالمضحي

“Al-Bulqini sangsi dalam masalah lemak hewan kurban. Berdasar pada qiyas tersebut, tidak cukup membagikan paket kurban berupa lemak seperti keterangan di kitab Tuhfah. Sementara orang dengan kategori faqir boleh menggunakan daging kurban dengan menjual ataupun selainya kepada orang muslim. Berbeda dengan orang kaya, Ia boleh menggunakan daging itu hanya untuk dikonsumsi, disedekahkan kembali, atau menjamu tamunya. Karena kedudukan tertinggi dari orang kaya sejajar dengan orang yang berkurban.”

Dari keterangan diatas dapat kita ketahui bahwasanya diperbolehkan untuk menjual daging kurban bagi mereka yang masuk kategori fakir sedangkan untuk orang kaya, hanya berhak untuk mengkonsumsinya, menjamu tamu-tamunya atau bisa disedekahkan kembali.

Bagi anda yang ingin berkurban perlu kiranya untuk memperhatikan apakah hewan kurban tersebut sudah memenuhi syarat hewan atau belum, Usia hewan kurban tersebut sudah layak atau belum, kurban yang anda lakukan termasuk kurban nadzar atau bukan, dan masih banyak lagi karena hal-hal tersebut akan sangat berpengaruh baik untuk keabsahan kurban itu sendiri ataupun dalam hal mengkonsumsinya.

Semoga tulisan diatas bisa memberikan manfaat.

Wallahu A‘lam Bishowab…

Website Ini Menggunakan Cookies