Fiqih Shalat XI : Hukum Meninggalkan Rukun, Sunnah Ab’adh dan Sunnah Haiat Sholat

Saat kita menjalankan ibadah shalat adakalanya gerakan-gerakan atau ucapan kita merupakan Rukun (Fardhu), sunnah ‘ab’adh dan juga sunnah haiat. Dan ini menjadi sangat penting bagi kita untuk mengetahuinya.

Terkadang entah dengan sengaja atau tidak meninggalkan hal-hal tersebut. Dan pastinya ada konskuensi hukum saat kita meninggalkanya. dan hal tersebut tentunya akan mempengaruhi ibadah shalat yang kita jalankan.

Syaikh Muhammad ibnu Qashim Al-Ghazi dalam kitab fathul qarib menjelaskan kepada kita tentang hukum dari meninggalkan fardhu(rukun), sunnah ‘ab’adh maupun sunnah haiat. Berikut keterangan yang kami kutip dari kitab tersebut.

فصل – والمتروك من الصلاة ثلاثة أشياء فرض ويسمى بالركن أيضا (وسنة وهيئة) وهما ما عدا الفرض وبين المصنف الثلاثة في قوله (فالفرض لا ينوب عنه سجود السهو بل إن ذكره) أي الفرض وهو في الصلاة أتى به وتمت صلاته أو ذكره بعد السلام (والزمان قريب أتى به وبنى عليه) ما بقي من الصلاة

Fasal – Tiga perkara yang ditinggalkan didalam shalat

1. Fardlu, juga biasa disebut dengan rukun,

2. Sunnah (‘ab’adh)

3. Sunnah Haiat

dua diatas (sunnah ab’adh dan haiat) bukan merupakan fardlu.

» Fardhu

Kemudian Mushannif menjelaskan ketiganya di dalam perkataan beliau, “fardlu tidak bisa digantikan oleh sujud sahwi.” Ketika ia ingat telah meninggalkan fardlu, dan posisinya masih di dalam sholat, maka wajib baginya untuk melakukan fardlu yang telah ditinggalkan dan sholatnya dianggap selesai. Atau ia ingat setelah salam, dan waktunya belum lama, maka wajib baginya untuk melakukan fardlu yang ditinggalkan.

وسجد للسهو – وهو سنة كما سيأتي لكن عند ترك مأمور به في الصلاة أو فعل منهي عنه فيها

» Sujud Sahwi

Hukum dari Sujud sahwi adalah sunnah seperti keterangan yang akan dijelaskan nanti. Akan tetapi hukum tersebut berlaku ketika seseorang itu meninggalkan perkara yang diperintahkan atau melakukan perkara yang dilarang di dalam sholat

والسنة – إن تركها المصلي (لا يعود إليها بعد التلبس بالفرض) فمن ترك التشهد الأول مثلا فذكره بعد اعتداله مستويا لا يعود إليه فإن عاد إليه عامدا عالما بتحريمه بطلت صلاته أو ناسيا أنه في الصلاة أو جاهلا فلا تبطل صلاته ويلزمه القيام عند تذكره وإن كان مأموما عاد وجوبا لمتابعة إمامه (لكنه يسجد للسهو عنها) في صورة عدم العود أو العود ناسيا وأراد المصنف بالسنة هنا الأبعاض الستة وهي التشهد الأول وقعوده والقنوت في الصبح وفي آخر الوتر في النصف الثاني من رمضان والقيام للقنوت، والصلاة على النبي في التشهد الأول والصلاة على الآل في التشهد الأخير

Sunnah ab’ad ketika ditinggalkan oleh orang yang sholat, maka ia tidak diperkenankan kembali untuk melakukannya setelah ia dalam posisi melakukan bagian fardlu. Sehingga, barang siapa semisal meninggalkan tasyahud awal, kemudian ia ingat setelah dalam posisi berdiri tegak, maka tidak diperkenankan kembali ke posisi tasyahud. Jika ia kembali ke posisi tasyahud dalam keadaan tahu akan keharamannya, maka sholatnya batal.

Atau dalam keadaan lupa bahwa ia sedang melakukan sholat, atau tidak tahu akan keharamannya, maka sholatnya tidak batal namun harus berdiri ketika sudah ingat. Jika ia adalah seorang makmum, maka wajib kembali keposisi tasyahud karena untuk mengikuti imam. Akan tetapi disunnahkan baginya untuk melakukan sujud sahwi ketika dalam kasus tidak kembali atau kembali ke posisi tasyahud dalam keadaan lupa.

Yang dikehendaki mushannif dengan “sunnah” di sini adalah sunnah-sunnah ab’ad yang berjumlah enam perkara.

Yaitu tasyahud awal, duduk tasyahud awal, qunut di dalam sholat Subuh dan di akhir sholat witir di separuh bulan kedua dari bulan Romadlan, berdiri untuk melakukan qunut, bacaan sholawat untuk baginda Nabi Saw di dalam tasyahud awal, dan bacaan sholawat untuk keluarga baginda Nabi Saw di dalam tasyahud akhir.

» Sunnah Haiat

والهيئة -كالتسبيحات ونحوها مما لا يجبر بالسجود (لا يعود) المصلي (إليها بعد تركها ولا يسجد للسهو عنها) سواء تركها عمدا أو سهوا

وإذا شك المصلي (في عدد ما أتى به من الركعات) كمن شك هل صلى ثلاثا أو أربعا (بنى على اليقين وهو الأقل) كالثلاثة في هذا المثال وأتى بركعة (وسجد للسهو) ولا ينفعه غلبة الظن أنه صلى أربعا ولا يعمل بقول غيره له أنه صلى أربعا ولو بلغ ذلك القائل عدد التواتر (وسجود السهو سنة) كما سبق (ومحله قبل السلام) فإن سلم المصلي عامدا عالما بالسهو أو ناسيا وطال الفصل عرفا فات محله وإن قصر الفصل عرفا لم يفت وحينئذ فله السجود وتركه

Sunnah hai’ah seperti bacaan-bacaan tasbih dan sesamanya dari kesunahan-kesunahan yang tidak diganti dengan sujud sahwi, maka setelah meninggalkannya, seorang mushalli tidak boleh kembali untuk melakukkannya. Dan tidak boleh melakukan sujud sahwi karenanya, baik ia meninggalkan secara sengaja atau karena lupa.

Ketika seorang musholli ragu-ragu dalam jumlah rakaat yang ia lakukan, seperti orang yang ragu-ragu apakah ia telah melakukan tiga rakaat atau empat rakaat, maka wajib baginya untuk melakukan apa yang diyaqini, yaitu jumlah paling sedikit seperti tiga rakaat di dalam contoh ini, dan ia wajib menambah satu rakaat dan sunnah melakukan sujud sahwi.

Dugaan bahwa ia telah melakuan empat rakaat tidak bisa dibuat pegangan, dan ia juga tidak diperbolehkan untuk mengikuti ucapan orang lain yang mengatakan padanya bahwa ia telah melakukan empat rakaat, walaupun jumlah mereka mutawatir.

Sujud sahwi hukumnya sunnah seperti yang sudah dijelaskan diatas, dan tempat melakukannya sebelum salam.

Jika seorang mushalli melakukan salam dengan sengaja dan tahu bahwa ia dianjurkan untuk melakukan sujud sahwi, atau lupa namun masanya cukup lama secara ‘urf, maka kesunnahan untuk melakukan sujud sahwi telah hilang.

Jika masanya relatif singkat secara ‘urf, maka waktu melaksanakannya tidak hilang, dan saat itu ia di perkenakankan melakukan atau meninggalkan sujud sahwi

Bacaan Sujud Sahwi

Adapun bacaan sujud sahwi adalah sebagai berikut:

سُبْحَانَ مَنْ لَا يَنَامُ وَلَا يَسْهُو

“Subhana man laa yanaamu wa laa yas-huw”

Artinya Maha Suci Dzat yang tidak mungkin tidur dan lupa”

Bagikan Jika Bermanfaat: