HUKUM MELAFALKAN ATAU MENGUCAPKAN NIAT DIDALAM SHOLAT

Hukum Melafalkan Atau Mengucapkan Niat Shalat

Seperti yang kita ketahui bahwasanya niat merupakan kunci dari setiap ibadah yang kita lakukan, entah itu ibadah yang sifatnya wajib ataupun sunnah. Hal ini mengacu pada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, bahwa Rasulullah S.A.W bersabda :

انّما الاعمال با لنّيات وانّما لكلّ امرئ مانوى

“Segala perbuatan hanyalah tergantung nintnya. Dan setiap perkara tergantung pada apa yang diniatkan.” (Shahih al-Bukhari )

Kemudian diakhir-akhir ini banyak orang yang mempertanyakan hukum dari melafalkan niat didalam sholat, puasa dan ibadah-ibadah lain.

HUKUM MELAFALKAN ATAU MENGUCAPKAN NIAT DIDALAM SHOLAT

Mereka yang menolak dan menganggap bahwa melafalkan niat merupakan perkara yang mengada-ada adalah dengan alasan nabi tidak pernah melakukanya dan tidak ada satupun riwayat yang mengatakan bahwa nabi pernah melafalkan niat didalam sholat. lantas bagaimana pendapat pakar fikih menanggapi hal ini?

Sebelumnya perlu kita ketahui semua Ulama sepakat bahwa letak niat didalam hati, kemudian yang menjadikan perbedaan diantara para ulama’ adalah melafalkan niat tersebut dengan menggunakan lesan (melafadzkan niat).

Bagaimana Pendapat Ulama 4 Madzhab Dalam Melafadzkan Niat didalam sholat?

Marilah kita melihat sekilas pendapat dari ulama-ulama 4 madzhab dalam hal melafalkan niat didalam sholat.

Madzhab Syafi’i

Adapun hukum melafalkan niat shalat pada saat menjelang takbiratul ihram menurut kesepakatan para pengikut mazhab Imam Syafi’iy (Syafi’iyah) adalah Sunnah.

Madzhab Hanbali

Hukum melafalkan niat menurut Pengikut mazhab Imam Ahmad bin Hambal (Hanabilah) adalah Sunnah.

Alasan dari kedua pendapat diatas karena melafalkan niat sebelum takbir dapat membantu untuk mengingatkan hati sehingga membuat seseorang lebih khusyu’ dalam melaksanakan shalatnya.

Madzhab Maliki

Melafalkan niat shalat sebelum takbiratul ihram tidak disyari’atkan kecuali bagi orang yang terkena penyakit was-was (peragu terhadap niatnya sendiri). Menurut penjelasan ulama Malikiyah, bahwa melafalkan niat shalat sebelum takbir menyalahi keutamaan (khilaful aula), tetapi bagi orang yang terkena penyakit was-was hukum melafalkan niat sebelum shalat adalah sunnah.

karena melafalkan niat sebelum takbir dapat membantu untuk mengingatkan hati sehingga membuat seseorang lebih khusyu’ dalam melaksanakan shalatnya.

Madzhab Hanafi

Sedangkan menurut penjelasan al Hanafiyah (ulama yang mengikuti madzhab hanafi) bahwa melafalkan niat shalat sebelum takbir adalah bid’ah, namun dianggap baik (istihsan) melafalkan niat bagi orang yang terkena penyakit was-was. 

Lantas Bagaimana Hukam Melafalkan Niat Sebelum sholat yang sering dilakukan banyak orang di Indonesia?

“Di Indonesia mayoritas umat islam bermadzhab syafi’i, tentunya Hukum dalam melafalkan niat sebelum sholat dilakukan adalah sunnah. “

-MuslimINA.id (Media Muslimin Indonesia)

Bagaimana Madzhab Syafi’i dalam ber_istinbath_ dalam sunnahnya melafalkan niat sebelum sholat?

Kita menjawab bahwa mengucapkan lafadz niat bersumber dari ijtihad imam kita, yaitu Imam Syafi’i:

أَخْبَرَنَا ابْنُ خُزَيْمَةَ ، ثنا الرَّبِيعُ قَالَ : ” كَانَ الشَّافِعِيُّ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَدْخُلَ فِي الصَّلاةَ قَالَ : بِسْمِ اللَّهِ ، مُوَجِّهًا لَبَيْتِ اللَّهِ مُؤْدِيًا لِفَرْضِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ اللَّهُ أَكْبَرُ ”

Ibnu al-Muqri berkata: “Ibnu Khuzaimah telah bercerita kepada kami, Rabi’ al-Muradi telah bercerita kepada kami, bahwa jika Syafi’i akan shalat, ia berkata: Bismillah, aku menghadap ke Ka’bah, melaksanakan kewajiban Allah Azza wa Jalla Allahu Akbar” (Mu’jam Ibni al-Muqri)

Niat Imam Syafi’i ini diqiyaskan (disamakan) dengan niat ibadah dalam rukun Islam:

  1. Niat Puasa

ﻋﻦ ﻋﺎﺋﺸﺔ ﺃﻡ اﻟﻤﺆﻣﻨﻴﻦ، ﻗﺎﻟﺖ: ﺩﺧﻞ ﻋﻠﻲ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺫاﺕ ﻳﻮﻡ ﻓﻘﺎﻝ: ﻫﻞ ﻋﻨﺪﻛﻢ ﺷﻲء؟ ﻓﻘﻠﻨﺎ: ﻻ، ﻗﺎﻝ: «ﻓﺈﻧﻲ ﺇﺫﻥ ﺻﺎﺋﻢ

Dari Aisyah bahwa Nabi bertanya: “Apa ada makanan?”. Kami jawab: “Tidak ada”. Nabi menjawab: “Kalau begitu saya puasa” (HR Muslim)

  1. Niat Umrah dan Haji

قاﻝ ﺃﻧﺲ ﺳﻤﻌﺖ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻳﻘﻮﻝ: ﻟﺒﻴﻚ ﻋﻤﺮﺓ ﻭﺣﺠﺎ

Anas berkata bahwa Nabi mengucapkan: “Aku penuhi panggilan Mu dengan Umrah dan Haji” (HR Muslim)

Konteks Hadits di atas berbicara dalam persoalan ibadah haji. Dan shalat bisa di-qiyas-kan (dianalogikan) dengan ibadah haji. Kalau ketika melaksanakan ibadah haji sunnah melafakan niat maka dalam shalat juga demikian, dianjurkan mengucap kan usholli.

Imam Ramli mengatakan:

وَيُنْدَبُ النُّطْقُ بِالمَنْوِيْ قُبَيْلَ التَّكْبِيْرِ لِيُسَاعِدَ اللِّسَانُ القَلْبَ وَلِأَنَّهُ أَبْعَدُ عَنِ الوِسْوَاسِ وَلِلْخُرُوْجِ مِنْ خِلاَفِ مَنْ أَوْجَبَهُ

“Disunnahkan melafalkan niat menjelang takbir (shalat) agar mulut dapat membantu (kekhusyu’-an) hati, agar terhindar dari gangguan hati dank arena menghindar dari perbedaan pendapat yang mewajibkan melafalkan niat”. (Nihayatul Muhtaj, juz I,: 437)

Jadi, fungsi melafalkan niat adalah untuk mengingatkan hati agar lebih siap dalam melaksanakan shalat sehingga dapat mendorong pada kekhusyu’an. Karena melafalkan niat sebelum shalat hukumnya sunnah, maka jika dikerjakan dapat pahala dan jika ditinggalkan tidak berdosa. Adapun memfitnah, bertentangan dan perpecahan antar umat Islam karena masalah hukum sunnah adalah menyalahi syri’at Allah SWT.

Dengan demikian mengucapkan niat ‘ushalli’ dalam shalat bukanlah bidah karena hasil sebuah ijtihad ulama’ yang berkompeten dibidangnya. Dan sekali lagi Perbedaan adalah rahmat, maka tidak tepat jika kaita langsung memvonis -sesat- terhadap yang berbeda pendapat.

Wallahu ‘a’lam.

Bagikan Jika Bermanfaat: