≡ Menu

Hukum Kotoran dan Muntahan Bayi

in Tanya Jawab
Hukum kotoran bayi dan muntahan bayi

Banyak sekali problematika masyarakat tentang masalah najis. Tidak sedikit kita menemui keragu-raguan ketika menghadapi satu perkara yang berhubungan dengan najis tersebut.

Pada tulisan kami sebelumnya sudah kami jelaskan tentang pengertian, pembagian dan tata cara menghilangkan najis, namun karena permasalahan najis itu sangat kompleks maka kami mencoba menghadirkan beberapa pertanyaan yang sering diajukan masyarkat yang semua berkaitan dengan masalah najis dalam kehidupan sehari-hari.

Hukum Kotoran Dan Muntahan Bayi

” Kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa….”

Petikan nyanyian tersebut sangat tepat dan mewakili isi hati setiap ibu dimanapun berada. Seorang ibu rela melakukan apa saja untuk kebahagiaan buah hatinya. Dalam merawat sang buah hati seorang ibu tidak kenal lelah, semua dicurahkan untuk sang buah hati.

Namun terkadang, pada saat masih bayi buah hati tersebut kadang sering mengeluarkan kotoran ataupun muntah (jawa; gumoh) , dan sang ibu dengan senang hati membersihkan kotoran dan muntahan tersebut, tidak jarang kotoran dan muntahan sang buah hati mengenai pakaian sang ibu. Namun hal ini kadang menyisakan pertanyaan tersendiri bagi sang ibu dalam masalah Fiqh.

Pertanyaan:

  1. Jika sulit dihindari, apakah kotoran bayi yang mengenai pakaian seorang ibu bisa mendapatkan dispensasi / keringanan?
  2. kita sering menjumpai seorang ibu terkena muntahan (gumoh; jawa) dari bayi tercintanya, Bagaimana hukum muntahan bayi yang sering mengenai sang ibu tersebut?

Jawaban :

  1. Ya, Seorang ibu bisa mendapatkan dispensasi atau keringanan jika sang ibu merasa kesulitan untuk bergonta-ganti pakaian dan sudah ada usaha untuk menghindarinya dengan cara memberi pampers.
  2. Jika muntahan itu hanya sedikit maka muntahan yang keluar dari si bayi hukumnya di ma’fu bagi yang merawat bayi tersebut.
Baca Juga :  Bagaimana hukum darah yang tersisa Pada daging?

Referensi :

فتح الجواد بشرح منظومة ابن عماد : ٤١ مكتب الهداية

والامام مالك قد عفا عن ثوب المرضعة ان لم تدع اى تترك عنده أسباب حوطها اى إحتياطها فيه مع التحرز منها إن بال أو راث الصّبيّ بها اى بثوب مرضعة لها فى الصلاة فيها بلا نضح لبولته لمشقّة الاحتراز عنه مع عدم تقصيرها (قوله مع التحرز) هو معنى قوله إن لم تدع وقوله إن بال اى او تغوّط وهذا مذهب مالك ومقتضى قواعد مذهبنا العفو ايضا لان المشقة تجلب التيسر والارضاع ليس قيدا فالمراد به تربيٌته لكن محله عندنا اذا لم تقدير علي ثوب اخر اوقدرت وحصل لها مشقة شديدة بأن كانت فى الشتاء.

إثمد العين ص: ١٣٠ مكتب دار الفكر

يعفيَ عمّا يشقّ الإحترازعنه من قليل قيء الصبيً بالنسبة للمرضعة لا عن قليل بوله وغائطه إذالإبتلأ بإرضاعه أقوى منه بحمله

Silahkan Bagikan Jika Bermanfaat: