Kategori: ShalatFiqih

Fiqih Shalat IV : Syarat Wajib Sholat dan Syarat Sah Sholat

Sebelum kita menjalankan ibadah shalat ( sholat ), ada beberapa Syarat yang harus dipenuhi, yakni Syarat Wajib Sholatt dan Syarat Sah Sholat yang harus dipenuhi.

Menurut Syaikh Muhammad Ibnu Qashim Al Ghazi pensarah kitab Taqrib meberikan definisi bahwa pengertian syarat dalam Bab Shalat adalah :

والشروط جمع شرط وهو لغة علامة وشرعا ما تتوقف صحة الصلاة عليه وليس جزأ منها. وخرج بهذا القيد الركن، فإنه جزء من الصلاة

Syarat secara bahasa bermakna “tanda” sedangkan sedangkan secara Syara’ bermakna Perkara yang menjadi penentu keabsahan shalat, namun bukan bagian dari shalat. Berbeda dengan rukun, karena rukun itu merupakan bagian shalat.”

Dalam Bab Shalat ada Syarat Wajib Shalat dan Syarat Sah Shalat

Syarat Wajib, Seseorang berkewajiban mendirikan shalat jika sudah memenuhi syarat-syarat ini.

Syarat Sah adalah Sesuatu yang harus dipenuhi ketika seseorang hendak melaksanakan ibadah shalat. karena tanpa memenuhi syarat sah, shalat seseorang juga secara otomatis tidak sah.

Rukun adalah bagian dari shalat itu sendiri. Namun untuk rukun akan kami jelaskan dalam bab lain.

Ada Berapa Syarat Wajib Sholat dan Syarat Sah sholat?

Syarat Wajib Sholat [1]

Kemudian Syaikh Abi Syuja’ dalam matan taqrib menjelaskan tentang syarat wajib shalat adalah sebagai berikut:

فصل وشرئط وجوب الصلاة ثلاثة اشيأ : الإسلام والبلوغ والعقل

Pasal tentang syarat-syarat wajib shalat ada tiga :

  1. Islam
  2. Baligh
  3. Berakal

Islam

Syarat Wajib yang Pertama adalah islam, Tidak ada kewajiban shalat bagi kafir ashli. Adapun untuk Murtad (keluar dari islam) wajib baginya untuk meng-Qadha semua shalat yang di tinggalkan apabila ia kembali memeluk agama islam.

Baligh

Maka tidak wajib bagi anak kecil baik laki-laki atau perempuan untuk mendirikan shalat, akan tetapi diperintahkan kepada anak kecil ini untuk mendirikan shalat ketika sudah berusia tujuh tahun dan tamyiz. Kemudian dipukul jika tidak menjalankan shalat apabila sudah berusia sepuluh tahun.

Berakal

Tidak wajib bagi orang gila untuk menjalankan shalat.

Ketiga hal diatas (Islam, baligh, dan berakal) adalah ketentuan untuk menjalankan Syariat.

Syarat Sah Sholat Adalah Sebagai Berikut:[2]

  1. Anggota tubuh Suci dari Hadats dan Najis
  2. Menutup aurat dengan pakaian yang suci
  3. Tempat Sholat harus suci
  4. Mengetahui waktu shalat
  5. Menghadap Kiblat

Suci dari hadats dan najis.

(Sucinya Anggota Tubuh dari dari Hadats) baik itu hadats kecil ataupun hadats besar, Adapun Bagi orang yang tidak menemukan dua alat untuk bersuci (air dan debu), maka hukum sholatnya sah namun wajib baginya untuk mengulanginya (ketika sudah mampu bersuci).

Dan suci dari najis yang tidak dima’fu pada pakaian, badan dan tempat.

Menutup Aurat dengan Pakaian yang suci

Syarat Sah sholat selanjutnya adalah menutup aurat dengan pakaian yang suci. seseorang yang hendak sholat wajib untuk menutup aurat walaupun ia sholat dalam keadaan sepi dan gelap.

Apabila tidak mampu untuk menutup aurat wajib baginya untuk tetap sholat walaupun harus dalam keadaan telanjang, ia harus menyempurnakan sujud dan rukuknya dan tidak boleh menggunakan isyarat. dan Sholat seperti ini sah tidak perlu mengulanginya lagi.

Pakaian yang di pakai untuk menutup aurat juga harus dalam keadaan suci. Adapun batas aurat untuk laki-laki dalam shalat adalah antara Lutut dan Pusar sedangkan untuk perempuan didalam shalat adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan sampai pergelangan luar dalam.

Sudut pandang Tertutupnya aurat ialah ketika tidak terlihat dari sisi atas, kanan, kiri, depan belakang, bukan dari sisi bawah. Sehingga, Apabila aurat terlihat dari bawah seperti saat sujud atau yang lainnya, hal tersebut tidak menjadi masalah. Sebagaimana penjelasan dari Syekh Abu Bakar Syatha al-Dimyathi

قوله لا من الأسفل – أي فلو رؤيت من ذيله كأن كان بعلو والرائي بسفل لم يضر أو رؤيت حال سجوده فكذلك لا يضر 

“(Pernyataan ‘bukan dari bawah’) maksudnya apabila terlihat dari bawah seperti ketika shalat di tempat tinggi dan terlihat dari bawah, maka tidak masalah sebagaimana jika terlihat saat sujud.”[3]

Tempat Sholat Harus Suci.

Syarat sah sholat yang ketiga adalah Sucinya tempat Sholat. Maka tidak sah sholatnya seseorang yang sebagian badan atau pakaiannya bertemu najis saat berdiri, duduk, ruku’ mapun saat sujud.

Mengetahui waktu Sholat

Syarat sah shalot yang ke empat adalah mengetahui waktu sholat dengan pasti atau menyangka masuk waktu berdasarkan dengan ijtihad.

Sehingga seandainya ada seseorang yang melakukan sholat tanpa hal diatas maka sholatnya tidak sah, walaupun tepat waktunya.

Menghadap Kiblat

Syarat Sah sholat yang kelima adalah menghadap kearah kiblat. Maksudnya adalah menghadap kearah ka’bah.

ka’bah disebut sebagai kiblat menurut Syaikh ibnu qashim al-ghazi karena seseorang yang shalat menghadap kearah ka’bah tersebut, dan disebut ka’bah karena ketinggianya.

Kemudian seseorang yang sholat diperkenankan untuk tidak menghadap kearah kiblat karena dua hal. Yang pertama karena “syiddatul Khauf” dalam peperangan dan yang kedua ketika shalat sunnah diatas kendaraan.



Sumber :
  • Fathul Qarib Al Mujib Syarah Matan Taqrib Syaikh Abi Syuja’ hal:12 [1]
  • Fathul Qarib Al Mujib Syarah Matan Taqrib Syaikh Abi Syuja’ hal 14 [2]
  • Syekh Abu Bakar Syatha al-Dimyathi dalam kitab I’anah al-Thalibin (Beirut: Dar al-Fikr, 1997), juz I, hal. 113 [3]

Website Ini Menggunakan Cookies