Fiqih Shalat II : Kewajiban Setiap Muslim Untuk Mendirikan Shalat

Sebagai seorang muslim kita memiliki kewajiban shalat yang harus dikerjakan dalam sehari semalam sebanyak 5 kali. Hal itu merupakan perintah Allah kepada Nabi saat Isra’ Mi’raj.

Fikih Shalat Lengkap
Tutorial dan Panduan Fikih Lengkap Madzhab Imam Syafi’i

Banyak sekali dalil-dalil baik dari Al-Qur’an ataupun Hadits yang memerintahkan kepada kita untuk menjalankan shalat 5 waktu, diantaranya:

a.  Q.S: An Nisa’, 103:

إنَ الصَلاةَ كَانَتْ على المُؤْمنينَ كِتَاباً مَوْقوتاً

Sungguh shalat menjadi kewajiban yang waktunya telah ditentukan bagi orang-orang beriman.

b.   Q.S. Al Baqarah, 238:

حافِظُوا عَلَى الصَّلَواتِ وَالصَّلاةِ الْوُسْطى وَقُومُوا لِلَّهِ قانِتِينَ

Kalian jagalah shalat-shalat dan shalat wustha, dan berdirilah kalian berdoa qunut karena Allah.

Menunjukkan shalat 5 waktu. 3 shalat disebut dengan kata  الصَّلَواتِ , satu shalat (subuh) dengan kata  وَالصَّلاةِ الْوُسْطى , dan satunya lagi diambil dari pemahaman wustho yang berarti tengah, tidak mungkin hanya 4, sehingga karena sudah disebutkan 4 berarti masih ada satu lagi, sehingga jumlahnya 5 shalat.

Kemudian dari hadits Nabi :

عن أبي موسى الأشعري رضي الله عنه، عن رسول الله صلى الله عليه وسلم: أنه أتاه سائلٌ يسألُه عن مواقيت الصلاة، فلم
يَرُدَّ عليه شيئاً. قال: فأقام الفجر حين انْشَق الفجْرُ، والناس لا يكاد يعرفُ بعضُهم بعضاً، ثم أمره فأقام بالظهر حين زالتِ الشمسُ، والقائلُ يقولُ: قد انْتَصَفَ النهارُ، وهو كان أعْلمَ منهم، ثم أمره فأقام بالعصرِ والشَّمْسُ مُرْتَفعَةٌ، ثم أمره فأقام بالمغرب حين وَقَعَت الشمس، ثم أمره فأقام العشاءَ حين غابَ الشَّفَقُ. ثم أخَر الفجرَ من الْغدِ، حتى انْصرَفَ منها والقائلُ يقول: قد طلعت الشمس أو كَادتْ، ثم أخَّر الظهر حتى كان قريباً من وقت العصر بالأمْس، ثم أخر العصر حتى انصرف منها والقائلُ يقولُ: قد احْمَرَّتِ الشمسُ، ثم أخّو المغربَ حتى كان عند سُقوطِ الشَفَقِ، ثم أخّر العشاء حتى كان ثلثُ الليل الأوَّل. ثم أصبح، فدعا السائل فقال: (الْوَقتُ بَيْنَ هَذيَن)

Intinya diriwayatkan dari Abu Musa al Asy’ari, ada orang yang bertanya kepada Nabi saw tentang waktu shalat, tapi tidak beliau jawab sama sekali, kemudian orang itu terus menyertai Nabi saw selama dua hari. Ia menyaksikan, di hari pertama Nabi saw shalat di awal waktu, dan di hari kedua shalat di akhir waktu.

Hadist-hadist lain yang sangat banyak yang menjelaskan tentang shalat wajib 5 waktu diantaranya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu abbas رضي الله عنهما :

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَمَّنِيْ جِبْرِيْلُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ عِنْدَ الْبَيْتِ مَرَّتَيْنِ فَصَلَّى بِيَ الظُّهْرَ حِيْنَ زَالَتِ الشَّمْسُ وَكَانَتْ قَدْرَ الشِّرَاكِ وَصَلَّى بِيَ الْعَصْرَ حِيْنَ كَانَ ظِلُّهُ مِثْلَهُ وَصَلَّى بِيَ يَعْنِى الْمَغْرِبَ حِيْنَ أَفْطَرَ الصَّائِمُ وَصَلَّى بِيَ الْعِشَاءَ حِيْنَ غَابَ الشَّفَقُ وَصَلَّى بِيَ الْفَجْرَ حِيْنَ حَرُمَ الطَّعَامُ وَالشَّرَابُ عَلَى الصَّائِمِ فَلَمَّا كَانَ الْغَدُ صَلَّى بِيَ الظُّهْرَ حِيْنَ كَانَ ظِلُّهُ مِثْلَهُ وَصَلَّى بِيَ الْعَصْرَ حِيْنَ كَانَ ظِلُّهُ مِثْلَيْهِ وَصَلَّى بِيَ الْمَغْرِبَ حِيْنَ أَفْطَرَ الصَّائِمُ وَصَلَّى بِيَ الْعِشَاءَ إِلَى ثُلُثِ اللَّيْلِ وَصَلَّى بِيَ الْفَجْرَ فَأَسْفَرَ ثُمَّ الْتَفَتَ إِلَيَّ فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ هَذَا وَقْتُ الأَنْبِيَاءِ مِنْ قَبْلِكَ وَالْوَقْتُ مَا بَيْنَ هَذَيْنِ الْوَقْتَيْنِ. (رواه ابوداود

Ibnu Abbas berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Saya telah dijadikan imam oleh Jibril di Baitullah dua kali, maka ia shalat denganku; shalat Zuhur ketika tergelincir matahari, shalat Asar ketika bayang-bayang sesuatu menyamainya, shalat Magrib ketika terbenam matahari, shalat Isya’ ketika terbenam syafaq (mega merah), dan shalat Subuh ketika fajar bercahaya. Maka besoknya shalat pulalah ia bersamaku; shalat Zuhur ketika bayang-bayang sesuatu menyamainya, shalat Asar ketika bayang-bayang sesuatu dua kali panjangnya, shalat Magrib ketika orang puasa berbuka, shalat Isya’’ ketika sepertiga malam, dan shalat Subuh ketika menguning cahaya pagi. Lalu Jibril menoleh kepadaku dan berkata, “Wahai Muhammad, inilah waktu shalat nabi-nabi sebelum engkau, dan waktu shalat adalah antara dua waktu itu.” (H.R. Abu Daud)


Dari dalil-dalil diatas para pakar fikih yang tidak diragukan lagi keluasan ilmunya menjelaskan kepada kita dengan sangat detail, salah satunya dibawah ini seperti yang kami kutip dari Kitab Hasyiyah Al-Bajuri ala Ibni Qashim Al-Ghazi;

Adapun Shalat- shalat yang wajib dilakukan oleh setiap muslim dalam sehari semalam adalah Shalat Dhuhur, Ashar, Maghrib, Isya’ dan shubuh.

Hal ini mengecualikan shalat mayit. Shalat Mayit termasuk shalat fardhu Kifayah yang mana jika sebagian muslim sudah melaksanakanya maka kewajiban bagi muslim yang lainya sudah gugur.

Shalat 5 waktu tersebut wajib dilakukan sebab masuknya awal waktu yang sudah ditentukan syara’ dengan wajib yang diperluas (tidak harus segera dilakukan) sampai dengan waktu yang tersisa hanya cukup untuk menjalankan shalat tersebut, maka waktu tersebut menjadi sempit.

Maksud dari waktu yang diperluas adalah shalat tersebut tidak harus dilakukan tepat pada awal waktu akan tetapi diperluas sampai dengan waktu yang hanya cukup untuk medirikan shalat secara ringan.

Namun perlu diketahui bahwasanya jika kita kebetulan tidak bisa melaksanakan shalat di awal waktu, kita harus ber ‘azam (berkeinginan melakukan sesuatu ) untuk melakukan shalat sebelum waktu habis.

Maka kewajiban kita disini ketika waktu shalat sudah masuk adalah segera melaksanakan shalat atau kita ber ‘azam untuk melaksanakan shalat sebelum waktu habis.

Ketika sudah masuk waktu shalat kita tidak segera melakukan shalat atau kita tidak ber ‘azam untuk melakukan shalat, jika kita mati dihukumi sebagai orang yang mati dalam keadaan maksiat.

Berberbeda jika kita ber azam untuk melakukan shalat didalam waktu yang sudah ditentukan syara’, maka jika ajal menjemput dan kita belum melaksanakan shalat yang wajib dikerjakan didalam waktu tersebut, maka kita tidak tergolong orang yang mati dalam keadaan maksiat.

Dan ‘Azam seperti diatas adalah ‘azam yang sifatnya khusus, sedangkan ‘azam yang sifatnya umum adalah kewajiban kita ber ‘azam untuk melakukan semua perintah Allah dan meninggalkan keharaman.  [1]

Dari sini dapat kita ketahui bahwa shalat memiliki waktu yang sudah ditentukan oleh syara’, yang akan kita bahas pada Fiqih shalat III. Sekian.


Referensi : Hasyiyah Al-Bajuri ‘ala ibn Qashim Al-Ghazi “Kitabu Ahkami Sholat”. cetakan Darul Kutub al-Islamiyyah hal : 121. [1]

Bagikan Jika Bermanfaat: