Kategori: FiqihShalat

Fiqih Shalat III : Cara Mengetahui Waktu Shalat

WAKTU SHALAT

Shalat memiliki waktu-waktu yang sudah ditentukan oleh syara’. Mengetahui waktu sholat sangat penting bagi kita, walaupun di era industri 4.0 ini sudah banyak Jadwal shalat yang berupa aplikasi dan kita tinggal mengunduhnya saja.

Namun apakah jadwal shalat digital yang ada mampu memberitahukan kepada kita kapan waktu fadhilah dan kapan waktu jawaz untuk melaksanakan shalat, kecuali kita mempelajari sendiri waktu-waktu tersebut dan kemudian melihat tanda alam yang ada. Lantas, Bagaimana Cara Mengetahui Waktu Sholat dengan melihat tanda alam yang ada?

Sebelum kita membahas tentang cara mengetahui waktu sholat dalam ilmu fiqih ada baiknya anda juga membaca tulisan-tulisan kami yang lain seputar fiqih shalat lengkap di bawah ini.

Waktu Shalat Dhuhur

الظُّهْرُ) أَيْ صَلَاتُهُ قَالَ النَّوَوِيُّ سُمِّيَتْ بِذَلِكَ لِأَنَّهَا ظَاهِرَةٌ وَسَطَ النَّهَارِ)

(Dhuhur) Imam Nawawi berkata “Shalat ini dinamakan shalat dhuhur karena shalat ini tampak jelas dilaksanakan pada tengah hari.”

وَأَوَّلُ وَقْتِهَا زَوَالُ) أَيْ مَيْلُ (الشَّمْسِ) عَنْ وَسَطِ السَّمَاءِ لَا بِالنَّظَرِ لِنَفْسِ الْأََمْرِ بَلْ لِمَا يَظْهَرُ لَنَا)

Awal waktu sholat Dhuhur adalah saat tergelincirnya matahari, maksudnya adalah condongnya matahari dari tengah langit, tidak dilihat dari kenyataan perkara, akan tetapi dilihat pada apa yang nampak oleh kita.

وَيُعْرَفُ ذَلِكَ الْمَيْلُ بِتَحَوُّلِ الظِّلِّ إِلَى جِهَةِ الْمَشْرِقِ بَعْدَ تَنَاهِيْ قَصْرِهِ الَّذِيْ هُوَ غَايَةُ ارْتِفَاعِ الشَّمْسِ

Dan dapat diketahui condongnya matahari tersebut dengan bergesernya bayang-bayang ke arah timur setelah posisinya tepat di tengah-tengah, yaitu puncak tingginya matahari.

(وَآخِرُهُ) أَيْ وَقْتِ الظُّهْرِ (إِذَا صَارَ ظِلُّ كُلِّ شَيْئٍ مِثْلَهُ بَعْدَ) أَيْ غَيْرَ (ظِلِّ الزَّوَالِ)

Dan Akhir dari waktu shalat dhuhur adalah ketika bayangan dari setiap benda seukuran dengan benda tersebut tanpa memasukkan bayang-bayang yang nampak saat zawal (gesernya matahari).

والظل لغة الستر تقول أنا في ظل فلان أي ستره، وليس الظل عدم الشمس كما قد يتوهم، بل هو أمر وجودي يخلقه الله تعالى لنفع البدن وغيره

Arti Dhil secara bahasa adalah penutup, Kamu berkata, “aku berada di bawah dhilnya(bayang-bayang) si fulan”, maksdnya perlindungannya.

Dhil atau Bayang-bayang bukan berarti tidak adanya sinar matahari sebagaimana anggapan yang ada, akan tetapi Dhil atau bayang-bayang adalah perkara wujud yang di ciptakan oleh Allah SWT untuk kemanfaatan anggota badan dan lainnya.

Waktu Shalat Ashar

وَالْعَصْرُ) أَيْ صَلَاتُهُ وَسُمِّيَتْ بِذَلِكَ لُمَعَاصَرَتِهَا وَقْتَ الْغُرُوْبِ)

وأول وقتها الزيادة على ظل المثل) وللعصر خمسة أوقات أحدها وقت الفضيلة وهو فعلها أول الوقت )

Dan Kemudian adalah (Ashar), maksudnya adalah sholat Ashar. Disebut dengan sholat Ashar, karena pelaksanaannya mendekati waktu terbenamnya matahari.

Awal Waktunya Shalat Ashar adalah ketika tambahnya bayangan dari ukuran benda asalnya. Dan Bagi shalat ashar memiliki lima waktu

Yang pertama adalah waktu fadlilah, mengerjakan shalat ashar di awal waktu.

(وَالثَّانِيْ وَقْتُ الْاِخْتِيَارِ وَأَشَارَ لَهُ الْمُصَنِّفُ بِقَوْلِهِ (وَآخِرُهُ فِي الْاِخْتِيَارِ إِلَى ظِلِّ الْمِثْلَيْنِ

Waktu yang kedua adalah waktu Ikhtiyar, Mushonnif memberikan isyarat dengan ucapanya, “akhir waktu Ashar di dalam waktu ikhtiyar adalah hingga ukuran bayangan dua kali lipat ukuran bendanya.”

(وَالثَّالِثُ وَقْتُ الْجَوَازِ وَأَشَارَ لَهُ بِقَوْلِهِ (وَفِي الْجَوَازِ إِلَى غُرُوْبِ الشَّمْسِ

Yang ketiga adalah waktu jawaz. Mushannif memberikan isyarat bagi waktu jawaz dengan ucapan beliau, dan di dalam waktu jawaz hingga terbenamnya matahari.

وَالرَّابِعُ وَقْتُ جَوَازٍ بِلَا كَرَاهَةٍ وَهُوَ مِنْ مَصِيْرِ الظِّلِّ مِثْلَيْنِ إِلَى الْاِصْفِرَارِ

Yang ke empat adalah waktu jawaz tanpa disertai dengan hukum makruh. Yaitu dimulai dari ukuran bayang-bayang dua kali lipat dari ukuran bendanya hingga waktu ishfirar (warna kuning terbenamnya matahari.)

وَالْخَامِسُ وَقْتُ تَحْرِيْمٍ وَهُوَ تَأْخِيْرُهَا إِلَى أَنْ يَبْقَى مِنَ الْوَقْتِ مَا لَا يَسَعُهَا

Yang ke lima adala waktu tahrim (haram). Yaitu meng-akhirkan sholat sampai waktu yang tersisa tidak cukup untuk melakukan sholat.

Waktu Shalat Maghrib

وَالْمَغْرِبُ) أَيْ صَلَاتُهَا وَسُمِّيَتْ بِذَلِكَ لِفَعْلِهَا وَقْتَ الْغُرُوْبِ)

Maghrib, maksudnya sholat Maghrib. Disebut dengan sholat Maghrib karena dikerjakan saat waktu terbenamnya matahari.

(ووقتها واحد وهو غروب الشمس)

أي بجميع قرصها ولا يضر بقاء شعاع بعده (وبمقدار ما يؤذن) أي الشخص (ويتوضأ) أو يتيمم

(ويستر العورة ويقيم الصلاة ويصلي خمس ركعات)

Waktu sholat Maghrib hanya satu yaitu terbenamnya matahari, maksudnya bulatan matahari secara keseluruhan dan tidak masalah walaupun setelah itu masih terlihat sorotnya, dan kira-kira waktu yang cukup bagi seseorang untuk melakukan adzan, wudlu’ atau tayammum, menutup aurat, iqomah sholat dan sholat lima rokaat.

وقوله وبمقدار الخ ساقط من بعض نسخ المتن، فإن انقضى المقدار المذكور خرج وقتها هذا هو القول الجديد، والقديم ورجحه النووي أن وقتها يمتد إلى مغيب الشفق الأحمر

Perkataan mushannif “وَبِمِقْدَارِ إِلَخْ” terbuang dari sebagian redaksi matan. Ketika kadar waktu di atas sudah habis, maka waktu maghrib sudah keluar. Ini adalah pendapat Qaul Jadid.

والقديم ورجحه النووي أن وقتها يمتد إلى مغيب الشفق الأحمر

Sedangkan Qaul Qadim, dan Qaul ini diunggulkan oleh imam an Nawawi, sesungguhnya waktu sholat Maghrib memanjang hingga terbenamnya mega merah.

Waktu Shalat Isya’


(والعشاء)

بكسر العين ممدوداً اسم لأول الظلام وسميت الصلاة بذلك لفعلها فيه (وأول وقتها إذا غاب الشفق الأحمر) وأما البلد الذي لا يغيب فيه الشفق، فوقت العشاء في حق أهله أن يمضي بعد الغروب زمن يغيب فيه شفق أقرب البلاد إليهم ولها وقتان: أحدهما اختيار وأشار له المصنف بقوله (وآخره) يمتد (في الاختيار إلى ثلث الليل) والثاني جواز وأشار له بقوله (وفي الجواز إلى طلوع الفجر الثاني) أي الصادق وهو المنتشر ضوءه معترضاً بالأفق، وأما الفجر الكاذب، فيطلع قبل ذلك لا معترضاً بل مستطيلاً ذاهباً في السماء ثم يزول وتعقبه ظلمة، ولا يتعلق به حكم وذكر الشيخ أبو حامد أن للعشاء وقت كراهة وهو ما بين الفجرين

Dan sholat Isya’. Isya’ dengan terbaca kasroh huruf ‘ainnya adalah nama bagi permulaan petang. Dan Sholat ini disebut dengan sebutan tersebut karena dikerjakan pada awal petang.

Dan Awal waktu Isya’ adalah ketika mega merah itu tenggelam

Adapun negara yang tidak terbenam mega merahnya, maka waktu Isya’ bagi penduduknya adalah ketika setelah ternggelamnya matahari, sudah melewati masa tenggelamnya megah merah negara yang paling dekat dengan negara mereka.

Sholat Isya’ memiliki dua waktu. Salah satunya adalah waktu Ikhtiyar, dan di isyarahkan oleh mushannif dengan ucapan beliau, “akhir waktu ikhtiyar sholat Isya’ adalah memanjang hingga sepertiga malam yang pertama.

Yang kedua dari waktu shalat isya’ adalah waktu jawaz. Dan mushannif memberi isyarah tentang waktu ini dengan ucapan beliau, “dan di dalam waktu jawaz hingga terbitnya fajar kedua,” maksudnya adalah fajar Shodiq, yaitu fajar yang menyebar dan membentang sinarnya di angkasa.

Adapun fajar Kadzib, maka terbitnya / muncul sebelum fajar Shodiq, tidak membentang akan tetapi memanjang naik ke atas langit, kemudian hilang dan di ikuti oleh kegelapan malam. Dan tidak ada hukum yang terkait dengan fajar ini.

Asy Syekh Abu Hamid menuturkan bahwa sesungguhnya sholat Isya’ memiliki waktu Karahah, yaitu waktu di antara dua fajar.

Waktu Shalat Shubuh

(والصبح)

أي صلاته وهو لغة أول النهار وسميت الصلاة بذلك لفعلها في أوله ولها كالعصر خمسة أوقات: أحدها وقت الفضيلة وهو أول الوقت. والثاني وقت اختيار وذكره المصنف في قوله (وأول وقتها طلوع الفجر الثاني وآخره في الاختيار إلى الإسفار) وهو الإضاءة. والثالث وقت الجواز وأشار له المصنف بقوله (وفي الجواز) أي بكراهة (إلى طلوع الشمس). والرابع جواز بلا كراهة إلى طلوع الحمرة. والخامس وقت تحريم وهو تأخيرها إلى أن يبقى من الوقت ما لا يسعها.

Dan Subuh, maksudnya sholat Subuh. Secara bahasa, Subuh memiliki arti permulaan siang. Disebut demikian karena dikerjakan di permulaan siang.

Dan bagi shalat subuh memiliki waktu seperti waktu sholat Ashar, yakni lima waktu. Salah satunya adalah waktu fadlilah. Yaitu awal waktu.

Yang kedua adalah waktu ikhtiyar. Mushannif menjelaskannya di dalam ucapan beliau, “awal waktu sholat Subuh adalah mulai terbitnya fajar kedua, dan akhir waktu fadhilah di dalam waktu ikhtiyar adalah hingga isfar, yaitu waktu yang sudah terang.

Yang ketiga adalah waktu jawaz. Dan mushannif mengisarahkannya dengan ucapan beliau, “dan di dalam waktu jawaz, maksudnya disertai dengan hukum makruh adalah hingga terbitnya matahari.”

Dan yang ke empat adalah waktu jawaz tanpa disertai hukum makruh adalah sampai keluarnya merah-merah (yang terlihat sebelum matahari terbit)

Dan yang ke lima adalah waktu tahrim (haram), yaitu mengakhirkan pelaksanaan sholat subuh hingga waktu yang ada tidak cukup untuk melaksanakan sholat.

Setelah kita membaca tulisan diatas, Tentang Cara mengetahui waktu shalat kita tahu bahwa mengetahui waktu shalat sangat penting bagi kita, terutama bagi kita yang ingin medapatkan waktu-waktu fadhilah.

Website Ini Menggunakan Cookies