Fiqih Qurban 1: Pengertian, Hukum dan Kurban Nadzar

[rank_math_breadcrumb]
Pengertian Qurban, Hukum Qurban dan Qurban Nadzar

Pada Fiqih Qurban 1 Kami akan menjelaskan tentang Pengertian Qurban, Hukum Qurban dan Tentang Qurban Nadzar, Karena ada perbedaan antara kurban yang hukumnya sunah dan kurban Nadzar (wajib) termasuk dalam masalah mengkonsumsi daging dari kedua kurban tersebut.

Sejarah Qurban

Sejarah tentang disyariatkanya Kurban idul adha adalah ketika Nabi Ibrahim diperintah oleh Allah Ta’ala untuk menyembelih putranya yakni Nabi Ismail yang baru berusia sekitar 9 (sembilan) tahun, seorang anak yang tampan, dengan Rasa ikhlas Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail menyerahkan diri kepada kehendak Allah Ta’ala.

Sedangkan Perintah untuk berkurban yang turun kepada Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam pada tahun ke-2 Hijriyah. Untuk Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam Hukum Qurban adalah wajib sedangkan untuk ummatnya adalah sunah.

Pengertian Qurban

Secara Bahasa Qurban artinya Dekat, yang merupakan bahasa arab qariba – yaqrabu – qurban wa qurbanan wa qirbanan.
Secara Istilah Arti Qurban yang dalam bab fiqih disebut udhiyyah adalah Ungkapan untuk binatang yang disembelih pada hari raya Idul Adha (hari raya kurban) tanggal 10 dzulhijah dan hari-hari tasyriq tanggal 11-12-13 dzulhijah untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Seperti yang dijelaskan Dalam Kitab Fathul Qarib Syaikh ala matn Ibnu Suja’:

بضم الهمزة في الأشهر، وهي اسم لما يذبح من النعم يوم عيد النحر، وأيام التشريق تقرباً إلى الله تعالى

Al udhiyah, dengan membaca dhumah huruf hamzahnya menurut pendapat yang paling masyhur, yaitu nama binatang ternak yang disembelih pada hari Raya Kurban dan hari Tasyriq untuk mendekatkan diri pada Allah Swt.

Baca: Panduan Bilal Idul Adha Arab, Latin dan Artinya Lengkap

Hukum Qurban

Hukum Qurban adalah sunah Muakad ( sunah yang dikukuhkan) menurut Imam Syafi’i, Imam Malik dan Imam Ahmad sedangkan menurut Imam Hanafi Hukum dari qurban adalah wajib dengan ketentuan Orang tersebut mampu dan tidak dalam safar (Perjalanan).

Pembagian Sunah Dalam Hukum kurban

– Sunnah ‘Ainiyah, yaitu: Sunnah yang dilakukan oleh setiap orang yang mampu.
– Sunnah Kifayah, yaitu: Disunnahkan dilakukan dalam satu keluarga dengan menyembelih 1 atau 2 ekor kurban untuk semua keluarga yang ada di dalam rumah. Jika hal ini sudah dilakukan maka sudah mencukupi.

Kapan Qurban Dihukumi Wajib?

Qurban di hukumi wajib jika seseorang itu memiliki nadzar untuk berkurban.

Sebagai contoh: “Saya Bernadzar untuk berkurban dengan kambing ini tahun ini” maka ketika ucapan tersebut terlontar maka bagi orang tersebut hukumnya wajib untuk menjadikan binatang tersebut sebagai hewan kurban untuk dirinya.

contoh Lain : “Jika anak saya lulus dengan predikat terbaik, saya Janji akan berkurban tahun ini.”

Kedua Contoh diatas menjadikan seseorang tersebut wajib untuk berkurban.

Qurban Nadzar atau kurban wajib

Meskipun hukum awal kurban adalah sunah, namun bisa menjadi wajib jika kurban tersebut merupakan kurban nadzar, baik nadzar tersebut merupakan nadzar hakiki maupun nadzar hukmi [Lihat: Syaikh Ibrahim Al-bajuri, Hasyiah Al-Bajuri ‘ala ibn Qashim, 2/296].

Nadzar sendiri terbagi menjadi dua yakni:

  1. Nadzar Hakiki
  2. Nadzar Hukmi

Nadzar hakiki

Yang dimaksud dengan nadzar hakiki adalah kesanggupan seseorang untuk melaksanakan qurbah (pendekatan) dari sesuatu yang bukan merupakan fardhu ‘ain dengan menggunakan bahasa nadzar.

Kemudian Nadzar hakiki terbagi menjadi dua bagian:

  1. Nadzar Muayyan
  2. Nadzar Ghairu Muayyan
1. Nadzar Muayyan

Nadzar Muayyan adalah Nadzar yang disertai dengan penentuan hewan kurban, seperti contoh:

“Demi Allah, Aku akan berkurban dengan kambingku ini”

kata-kata “Ini” adalah bentuk muayyan atau penentuan hewan kurban.

2. Nadzar Ghairu Muayan

Nadzar Ghairu Muayyan adalah Nadzar yang tidak disertai adanya penentuan binatang kurban, contoh:

“Demi Allah, Aku akan berkurban kambing”

Nadzar Hukmi

Pada dasarnya nadzar hukmi bukanlah sebuah nadzar karena tidak ada memenuhi syarat-syarat nadzar, seperti tidak adanya bahasa yang mengindikasikan adanya kesanggupan, namun hukumnya sama dengan nadzar Muayyan.

Misal: “Kambing ini aku jadikan kurban” atau ucapan: “Ini binatang Kurban”

Perkataan-perkataan diatas sebenarnya bukanlah bahasa kurban, namun disitu ada indikasi pelepasan kepemilikan, maka hal ini tidak ada bedanya dengan wakaf dan tahrir (pelepasan suatu barang dari pemilikinya)[III].

Dari keterangan diatas dapat kita simpulkan tentang pembagian kurban nadzar sebagai berikut:

  1. Nadzar Hakiki
    1. Nadzar muayyan
    2. Ghairu muayyan
  2. Nadzar Hukmi
Perbedaan paling mendasar antara kurban-kurban nadzar diatas adalah:
  1. Masalah Niat
    1. Nadar Muayyan: Tidak harus Niat Kurban saat menyembelih
    2. Nadzar Ghairu Muayyan: Harus niat kurban saat menyembelih atau menta’yin (menentukan)
    3. Nadzar Hukmi: Harus niat qurban saat menyembelih
  2. Masalah Rusaknya Hewan Kurban
    1. Muayyan Dan Nadzar Hukmi:
      1. Bila rusaknya bukan karena kelalaian orang yang berkurban maka tidak wajib menggantinya.
      2. Bila rusaknya hewan kurban karena kelalaian orang yang berkurban maka baginya wajib untuk mengganti dengan uang yang lebih banyak dari harga standar antara hari raya kurban dan saat terjadinya kerusakan untuk dibelikan seekor hewan kurban atau lebih
      3. Bila dirusak oleh orang lain maka orang tersebut wajib menyerahkan senilai dengan hewan qurban pada orang yang nadzar agar dibelikan semisal hewan kurban tersebut
    2. Nadzar Ghairu Muayyan
      1. Semua kerusakan yang terjadi pada hewan kurban tetap menjadi tanggunganya sampai ia menemukan penggantinya, meskipun tidak ada kelailaian dari orang yang berkurban.

Demkian Tentang Pengertian Qurban, Hukum Qurban dan Qurban Nadzar, Untuk Mengetahui tentang Syarat Hewan Kurban termasuk hewan yang tidak sah untuk dijadikan kurban bisa dilihat di halaman ini.


[III] Sulaiman Al-Jamal, Hasyiyah Al-Jamal:5/251