≡ Menu

[ Dalilnya Mana?? ] Ini Dalilnya Ngalap Berkah

in Dalil Aswaja
Dalil Tabarruk

Bagaimana Hukum Ngalap (Mencari) Berkah dari Orang-Orang shalih?

Pertanyaan diatas mungkin pernah terbersit dihati para pembaca sekalian. Atau barangkali anda pernah mendengar fatwa bahwasanya tabarruk kepada orang-orang shalih seperti mencium tangan kyai dan lainya adalah perbuatan yang berlebihan (Ghuluw), Atau bahkan mungkin anda pernah kena Teguran Kaum Wahabi sebab bertabarruk sehingga menjadikan hati anda bimbang. Bahwasanya keberkahan itu juga ada pada diri orang-orang shalih.

Sebelumnya marilah kita cari tahu terlebih dahulu makna dari berkah itu sendiri. Berkah adalah Ziadatul khoir atau bertambahnya kebaikan. Selama tujuan kita dalam meminta adalah kepada Allah, sementara orang-orang shalih hanya sebagai perantara saja maka dalam hal ini bertabarruk itu diperbolehkan.

Dan Tabarruk (Ngalap berkah) ini juga pernah dicontohkan oleh Rasulullah. Seperti yang diriwayatkan oleh Sayyidina Ibnu Umar Radliyallahu ‘anhuma :

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللهِ الْوُضُوءُ مِنْ جَرٍّ جَدِيدٍ مُخَمَّرٍ أَحَبُّ إِلَيْكَ أَمْ مِنَ الْمَطَاهِرِ؟ فَقَال
لا بَلْ مِنَ الْمَطَاهِرِ إِنَّ دِينَ اللهِ الْحَنِيفِيَّةُ السَّمْحَةُ قَالَ وَكَانَ رَسُولُ اللهِ يَبْعَثُ إِلَى الْمَطَاهِرِ فَيُؤْتَى بِالْمَاءِ فَيَشْرَبُهُ يَرْجُو بَرَكَةَ أَيْدِي الْمُسْلِمِينَ
(الطبراني)

“Diriwayatkan dari Ibnu Umar, bahwa ia bertanya kepada Nabi: Ya Rasulallah, apakah berwudlu dari wadah baru yang tertutup ataukah dari tempat-tempat berwudlu’ yang lebih engkau senangi? Rasulullah menjawab: Tidak. Tapi dari tempat-tempat berwudlu’. Agama Allah adalah yang condong dan mudah. Ibnu Umar berkata: Kemudian Rasulullah menyuruh seseorang ke tempat-tempat berwudlu’ dan beliau diberi air wudlu’, kemudian beliau meminumnya. Beliau mengharap berkah dari tangan-tangan umat Islam” (HR Thabrani dalam al-Kabir No 235, al-Ausath No 806, al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman No 2669 dan Abu Nuaim 8/203)

Derajat Hadis adalah ‘Hasan’, berdasarkan penilaian mayoritas ulama. al-Hafidz al-Haitsami berkata: “Diriwayatkan oleh al-Thabrani dalam al-Ausath, para perawinya dinilai terpercaya. Dan Abdul Aziz bin Abi Rawad adalah terpercaya, dinisbatkan kepada golongan Murjiah” (Majma’ az-Zawaid 1/133).

Bahkan Ulama’ yang menjadi rujukan Kaum Wahabi, Syaikh Al-bani memasukkan hadis diatas dalam kitabnya as-Silsilah ash-Shahihah 5/117. Albani berkata: “Abdul Aziz bin Abi Rawad diperselisihkan oleh ulama, mayoritas menilainya terpercaya. Menurut saya, pendapat yang unggul adalah dia di level tengah hadis hasan, apalagi ia diriwayatkan oleh Bukhari dalam sahihnya.

Al-Hafidz (Ibnu Hajar) berkata: Sangat jujur, kadang salah.

Al-Haitsami berkata: “Diriwayatkan oleh al-Thabrani dalam al-Ausath, para perawinya dinilai terpercaya. Dan Abdul Aziz bin Abi Rawad adalah terpercaya, dinisbatkan kepada golongan Murjiah”. Saya berkata: Muslim berhujjah dengannya. Dan faktor dia menjadi murjiah tidaklah berpengaruh, sebagaimana ditetapkan dalam Mushtalah al-Hadis”.

Para Sahabat dan Ummul Mukminin Juga bertabarruk kepada Nabi.

Banyak sekali riwayat-riwayat yang menceritakan para sahabat nabi bertabarruk kepada nabi, Anggota tubuh nabi dan benda-benda milik nabi semisal baju, tombak, rambut nabi dan lainya.

  • Ummul Mukminin Sayyidah ‘Aisyah Radliallahu ‘anha.

Beliau meriwayatkan :

كَانَ إِذَا اشْتَكَى يَقْرَأُ عَلَى نَفْسِهِ بِالْمُعَوِّذَاتِ وَيَنْفُثُ، فَلَمَّا اشْتَدَّ وَجَعُهُ كُنْتُ أَقْرَأُ عَلَيْهِ وَأَمْسَحُ بِيَدِهِ رَجَاءَ بَرَكَتِهَا

“Ketika Rasulullah Saw sakit beliau membaca Surat al-Falaq dan an-Nas, beliau lalu meniupnya. Jika semakin parah, maka saya membacakannya dan saya usap tangan beliau, untuk mengaharap berkahnya” (HR al-Bukhari No 5016)

  • Ngalap berkah Ludah Nabi

قَالَ فَوَاللَّهِ مَا تَنَخَّمَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – نُخَامَةً إِلاَّ وَقَعَتْ فِى كَفِّ رَجُلٍ مِنْهُمْ فَدَلَكَ بِهَا وَجْهَهُ وَجِلْدَهُ

(رواه البخارى)

Miswar dan Marwan berkata: Demi Allah Setiap Rasulullah berdahak, pasti dahak beliau jatuh ke tangan salah seorang sahabat, lalu ia gosokkan ke wajah dan kulitnya. (HR Bukhari No 70 dan 2731)

(عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يُؤْتَى بِالصِّبْيَانِ فَيُبَرِّكُ عَلَيْهِمْ وَيُحَنِّكُهُمْ (رواه مسلم

“Diriwayatkan dari Aisyah bahwa bayi-bayi didatangkan kepada RAsulullah Saw kemudian beliau mendoakan berkah dan memamah makanan kepada mereka” (HR Muslim No 688)

وعن ملك بن حمزة بن أبي أسيد الساعدي الخزرجي عن أبيه عن جده أبي أسيد وله بئر بالمدينة يقال لها بئر بضاعة قد بصق فيها النبي صلى الله عليه وسلم فهي يعشر بها ويتيمن بها. قلت ويأتي بتمامه في التفسير في سورة البقرة إن شاء الله. رواه الطبراني في الكبير ورجاله ثقات

(مجمع الزوائد ومنبع الفوائد – ج :٢ص:٣٧)

Para sahabat yang pernah bertabarruk dengan air sumur Budho’ah yang pernah diludahi nabi di Madinah, yang pernah diludahi oleh Nabi. (HR Thabrani, para perawinya terpercaya)

عن أبى موسى وبلال ) ثُمَّ دَعَا بِقَدَحٍ فِيهِ مَاءٌ فَغَسَلَ يَدَيْهِ وَوَجْهَهُ فِيهِ ، وَمَجَّ فِيهِ ، ثُمَّ قَالَ « اشْرَبَا مِنْهُ )

وَأَفْرِغَا عَلَى وُجُوهِكُمَا وَنُحُورِكُمَا ، وَأَبْشِرَا » . فَأَخَذَا الْقَدَحَ فَفَعلا

(رواه البخارى ومسلم)

“Rasulullah Saw menyuruh kepada Abu Musa dan Bilal untuk mengambil tempat air, lalu beliau membasuh kedua tangan dan wajahnya dan memuntahkan air kumur ke wadah tersebut dan beliau bersabda: Minumlah oleh kalian, siramkan ke wajah dan leher kalian, dan bersenanglah. Kemudian dua sahabat itu melakukannya” (HR: Bukhari NO: 4328, Muslim No: 6561)

وَالْغَرَض بِذَلِكَ إِيجَاد الْبَرَكَة بِرِيقِهِ الْمُبَارَك (فتح الباري لابن حجر – ج 1 / ص 300)
al-Hafidz Ibnu Hajar berkata: “Tujuan diatas karena adanya berkah dari ludah Rasulullah yang mengandung berkah” (Fath al-Baari 1/300)
  • Ngalap berkah Keringat Rasulullah SAW

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ دَخَلَ عَلَيْنَا النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ عِنْدَنَا فَعَرِقَ وَجَاءَتْ أُمِّى بِقَارُورَةٍ فَجَعَلَتْ تَسْلُتُ الْعَرَقَ فِيهَا فَاسْتَيْقَظَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ « يَا أُمَّ سُلَيْمٍ مَا هَذَا الَّذِى تَصْنَعِينَ ». قَالَتْ هَذَا عَرَقُكَ نَجْعَلُهُ فِى طِيبِنَا وَهُوَ مِنْ أَطْيَبِ الطِّيبِ

(6201:رواه مسلم)

Sahabat Ummu Sulaim mengambil keringat Nabi dan menaruhnya ke dalam botol, sebagai minyak wangi. Setelah ditanya oleh Rasulullah, Ummu Sulaim menjawab: “Ini adalah keringatmu. Kami jadikan minyak wangi kami. Dan keringat itu adalah minyak yang paling harum” (Muslim No 6201)

  • Ngalap Berkah Air Sisa wudlu Rasulullah

قَالَ أَبَ جُحَيْفَةَ خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – بِالْهَاجِرَةِ ، فَأُتِىَ بِوَضُوءٍ فَتَوَضَّأَ ، فَجَعَلَ النَّاسُ يَأْخُذُونَ مِنْ فَضْلِ وَضُوئِهِ
(1151:رواه البخارى:187  مسلم)

“Rasulullah mendatangi kami di Hajirah, kemudian beliau disediakan air wudlu dan beliau berwudlu, kemudian para sahabat mengambil sisa wudlu’ beliau” (HR Bukhari 187 dan Muslim 1151)

Sepeninggal Nabi para sahabat pun  bertabarruk dengan benda-benda peninggalan nabi. Imam bukhari bahkan menempatkan bab khusus yang berkaitan dengan benda-benda peninggalan nabi yang dijadikan tabarruk oleh para sahabat

 – باب مَا ذُكِرَ مِنْ دِرْعِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – وَعَصَاهُ وَسَيْفِهِ وَقَدَحِهِ وَخَاتَمِهِ . وَمَا اسْتَعْمَلَ الْخُلَفَاءُ بَعْدَهُ مِنْ ذَلِكَ مِمَّا لَمْ يُذْكَرْ قِسْمَتُهُ ، وَمِنْ شَعَرِهِ وَنَعْلِهِ وَآنِيَتِهِ ، مِمَّا يَتَبَرَّكُ أَصْحَابُهُ وَغَيْرُهُمْ بَعْدَ وَفَاتِهِ .

(صحيح البخارى – ج 11 / ص 204)

BAB YANG MENYEBUTKAN TENTANG BAJU PERANG NABI SAW, TONGKATNYA, PEDANGNYA, TEMPAT MINUMNYA DAN CINCINNYA, DAN YANG DIPAKAI OLEH PARA KHALIFAH SETELAH BELIAU, YANG TERDIRI DARI HAL-HAL YANG TIDAK DISEBUT PEMBAGIANNYA, JUGA TENTANG RAMBUT NABI, SANDALNYA DAN WADAH MAKANANNYA, YANG BERUPA BENDA-BENDA YANG DICARI BERKAHNYA OLEH PARA SAHABAT DAN LAINNYA SETELAH WAFATNYA NABI(Sahih Bukhari 11/204)

  • Sayyidah Asma’ Binti Abu Bakar dengan Jubah Nabi

َقَالَتْ (أَسْمَاءُ) هَذِهِ كَانَتْ عِنْدَ عَائِشَةَ حَتَّى قُبِضَتْ فَلَمَّا قُبِضَتْ قَبَضْتُهَا وَكَانَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- يَلْبَسُهَا فَنَحْنُ نَغْسِلُهَا لِلْمَرْضَى يُسْتَشْفَى بِهَا. (رواه مسلم 5530 والبخاري في كتابه المفرد في اِلأدب كان يلبسها للوفد وللجمعة)

Asma’ binti Abu Bakar berkata: Jubah ini (pada mulanya) dipegang oleh Aisyah sampai ia wafat. Setelah wafat saya ambil jubah tersebut. Rasulullah e memakai jubah ini. Kami membasuhnya untuk orang-orang yang sakit, kami mengharap kesembuhan melalui jubah tersebut”. (HR. Abu Dawud dan Muslim. Sedangkan riwayat al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad dijelaskan bahwa Rasulullah memakai jubah tersebut untuk menemui tamu dan salat Jumat)

  • Sayyidah Ummi Salamah dengan Rambut Nabi Saw

أَرْسَلَنِى أَهْلِى إِلَى أُمِّ سَلَمَةَ بِقَدَحٍ مِنْ مَاءٍ – وَقَبَضَ إِسْرَائِيلُ ثَلاَثَ أَصَابِعَ – مِنْ فِضَّةٍ فِيهِ شَعَرٌ مِنْ شَعَرِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – وَكَانَ إِذَا أَصَابَ الإِنْسَانَ عَيْنٌ أَوْ شَىْءٌ بَعَثَ إِلَيْهَا مِخْضَبَهُ ، فَاطَّلَعْتُ فِى الْجُلْجُلِ فَرَأَيْتُ شَعَرَاتٍ حُمْرًا (رواه البخارى 5896)

“Ummi Salamah memiliki rambut Rasulullah Saw. Jika orang yang terkena penyakit, maka mendatang Ummi Salamah dengan membawa wadah (untuk mengobati). dan saya melihat di dalamnya ada beberapa rambut merah” (HR Bukhari No 5896)

  • Sahabat Muawiyah Dengan Jubah, Sarung, Serban dan Rambut Nabi Saw

وكان عنده قميص رسول الله ( صلى الله عليه وسلم ) وإزاره ورداؤه وشعره فأوصاهم عند موته فقال كفنوني في قميصه وأدرجوني في ردائه وآزروني بإزاره واحشوا منخري وشدقي بشعره وخلوا بيني وبين رحمة أرحم الراحمين كان حليما (تاريخ دمشق – ج 59 / ص 61)

“Mu’awiyah memiliki gamis Rasulullah, sarungnya, serbannya dan rambutnya. Muawiyah berwasiat agar benda-benda ia dijadikan kain kafan baginya” (al-Hafidz Ibnu Asakir, 56/61)

  • Muhammad bin Sirin Dengan Rambut Nabi Saw

عَنِ ابْنِ سِيرِينَ قَالَ قُلْتُ لِعَبِيدَةَ عِنْدَنَا مِنْ شَعَرِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – أَصَبْنَاهُ مِنْ قِبَلِ أَنَسٍ ، أَوْ مِنْ قِبَلِ أَهْلِ أَنَسٍ فَقَالَ لأَنْ تَكُونَ عِنْدِى شَعَرَةٌ مِنْهُ أَحَبُّ إِلَىَّ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا (رواه البخارى 170)

“Saya berkata kepada Abidah bahwa kami memiliki rambut Rasulullah, kami mendapatkannya dari Anas atau keluarga Anas. ia berkata: Sungguh saya memiliki 1 helai rambut Rasulullah lebih saya senangi daripada dunia dan isinya” (HR Bukhari 170)

  • Umar bin Abd Aziz Dengan Tempat Minum Nabi Saw

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ – رضى الله عنه – قَالَ ذُكِرَ لِلنَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – امْرَأَةٌ مِنَ الْعَرَبِ ، فَأَمَرَ أَبَا أُسَيْدٍ السَّاعِدِىَّ أَنْ يُرْسِلَ إِلَيْهَا فَأَرْسَلَ إِلَيْهَا ، فَقَدِمَتْ فَنَزَلَتْ فِى أُجُمِ بَنِى سَاعِدَةَ ، فَخَرَجَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – حَتَّى جَاءَهَا فَدَخَلَ عَلَيْهَا فَإِذَا امْرَأَةٌ مُنَكِّسَةٌ رَأْسَهَا ، فَلَمَّا كَلَّمَهَا النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَتْ أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْكَ . فَقَالَ « قَدْ أَعَذْتُكِ مِنِّى » . فَقَالُوا لَهَا أَتَدْرِينَ مَنْ هَذَا قَالَتْ لاَ . قَالُوا هَذَا رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – جَاءَ لِيَخْطُبَكِ . قَالَتْ كُنْتُ أَنَا أَشْقَى مِنْ ذَلِكَ . فَأَقْبَلَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَوْمَئِذٍ حَتَّى جَلَسَ فِى سَقِيفَةِ بَنِى سَاعِدَةَ هُوَ وَأَصْحَابُهُ ، ثُمَّ قَالَ « اسْقِنَا يَا سَهْلُ » . فَخَرَجْتُ لَهُمْ بِهَذَا الْقَدَحِ فَأَسْقَيْتُهُمْ فِيهِ ، فَأَخْرَجَ لَنَا سَهْلٌ ذَلِكَ الْقَدَحَ فَشَرِبْنَا مِنْهُ . قَالَ ثُمَّ اسْتَوْهَبَهُ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ بَعْدَ ذَلِكَ فَوَهَبَهُ لَهُ (رواه البخارى 5637 مسلم5354  )

“Sahal bin Sa’d memiliki tempat minum yang pernah dipakai oleh Nabi. kemudian (masa berikutnya), tempat minum itu diminta oleh Umar bin Abdul Aziz dan ia memberikannya” (HR Bukhari 5637 dan Muslim 5354)

  • Asma’ binti Yazid Dengan Sisa Minuman Nabi Saw

عن أم عامر أسماء بنت يزيد بن السكن قال: رأيت رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم في مسجدنا المغرب فجئت منزلي فجئته بلحم وأرغفة فقلت: تعش فقال لأصحابه: ” كلوا ” فأكل هو وأصحابه الذين جاءوا ومن كان حاضراً من أهل الدار وإن القوم لأربعون رجلاً والذي نفسي بيده لرأيت بعض العرق لم يتعرقه وعامة الخبز. قالت: وشرب عندي في شجب فأخذته فدهنته وطويته فكنا نسقي فيه المرضى ونشرب منه في الحين رجاء البركة. (الإصابة في معرفة الصحابة للحافظ ابن حجر – ج 4 / ص 104)

“Sisa minuman Rasulullah saya gunakan untuk membasahi rambut saya. Juga kami minumkan kepada orang-orang sakit, dan kami meminumnya, untuk mengharap berkah” (al-Hafidz Ibnu Hajar, al-Ishabah 1/482)

  • Anas bin Malik Dengan Tongkat Kecil Nabi Saw

وكانت عنده عصية من رسول الله صلى الله عليه وسلم فأمر بها فدفنت معه. (البداية والنهاية – ج 9 / ص109)

“Anas memiliki tongkat kecil dari Rasulullah Saw, ia memerintahkan agar dikubur bersamanya” (al-Hafidz Ibnu Katsir, al-Bidayah wa an-Nihayah 9/109)

  • Imam Ahmad bin Hanbal Dengan Rambut Nabi Saw

 أعطي بعض ولد الفضل بن الربيع أبا عبد الله، وهو في الحبس ثلاث شعرات، فقال: هذه من شعر النبي، صلى الله عليه وسلم، فأوصى أبو عبد الله عند موته أن يجعل على كل عين شعرة، وشعرة على لسانه. ففعل ذلك به عند موته. (سير أعلام النبلاء – ج 11 / ص 337 صفة الصفوة: 2/357)

“Imam Ahmad diberi 3 helai rambut saat di penjara, itu adalah rambut Rasulullah Saw. Imam Ahmad berwasiat agar ketika meninggal 2 rambut diletakkan di matanya, 1 rambut lagi di mulutnya. maka wasiat itupun dilakukan ketiaka ia wafat” (al-Hafidz adz-Dzahabi dalam Siyar A’lam an-Nubalaa’ 11/337 dan al-Hafidz Ibnu al-Jauzi dalam Shifat ash-Shafwah 2/357)

  • al-Hafidz Ibnu Hajar dan Istidlal Ngalap Berkah

وَفِيهِ التَّبَرُّك بِشَعْرِهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَجَوَاز اِقْتِنَائِهِ (فتح الباري لابن حجر – ج 1 / ص 278)

al-Hafidz Ibnu Hajar beristidlal dari hadis al-Bukhari No 166: “Hadis ini diperbolehkan mencari berkah dari rambut Rasulullah Saw, dan bolehnya mengoleksinya” (Fath al-Baarii 1/278)

وَفِيهِ التَّبَرُّك بِالْمَوَاضِعِ الَّتِي صَلَّى فِيهَا النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ وَطِئَهَا (فتح الباري لابن حجر ج 2 / ص 145)

al-Hafidz Ibnu Hajar beristidlal dari hadis al-Bukhari No 407: “Hadis ini diperbolehkan mencari berkah dengan tempat-tempat yang dilakukan salat olen Nabi Saw dan yang beliau injak ” (Fath al-Baarii 2/145)

وَفِيهِ التَّبَرُّك بِآثَارِ الصَّالِحِينَ (فتح الباري لابن حجر – ج 4 / ص 318)

al-Hafidz Ibnu Hajar beristidlal dari hadis al-Bukhari No 1198: “Hadis ini diperbolehkan mencari berkah dengan peninggalan orang-orang shaleh” (Fath al-Baarii 4/318)

وَفِيهِ التَّبَرُّك بِطَعَامِ الْأَوْلِيَاء وَالصُّلَحَاء (فتح الباري لابن حجر – ج 10 / ص 386)

al-Hafidz Ibnu Hajar beristidlal dari hadis al-Bukhari No 3316: “Hadis ini diperbolehkan mencari berkah dengan makanan para wali dan orang-orang shaleh” (Fath al-Baarii 10/386).

Sekali lagi jika Seorang Ahli Hadits yang bergelar Al-hafidz saja menjadikan hadits diatas bisa digunakan untuk dalil diperbolehkanya bertabarruk dengan Orang Soleh / Para wali, apakah kita masih ragu /takut dengan tuduhan syirik saat bertabarruk?

Baca Juga :  Jawaban Vonis Bid'ah Wahabi atas Hukum Tahlilan dan Yasinan

Sekian,

Silahkan Bagikan Jika Bermanfaat: