Fiqih Shalat XIII : Shalat Jama’ah, Keutamaan dan Aturan didalamnya

Keutamaan Sholat Berjamaah

Jika melihat pendapat Imam Rafi’i, Shalat Jama’ah merupakan perkara yang sangat dianjurkan ( sunnah muakkad) bagi laki-laki, ada pula yang mengatakan fardhu ‘ain, namun menurut qaul yang Ashoh, hukum dari shalat jama’ah adalah fardhu kifayah. Dan pendapat inilah yang dipilih oleh imam Nawawi.

Makmum bisa mendapatkan pahala berjama’ah bersama dengan imam pada selain sholat Jum’at selama imam belum melakukan salam yang pertama, walaupun makmum belum sempat duduk bersama imam.

Adapun hukum berjama’ah di dalam sholat Jum’at adalah fardu ‘ain, dan tidak bisa hasil dengan kurang dari satu rakaat. [1]

Adapun hadits-hadits yang menjelaskan keutamaan shalat jamaah sangatlah banyak, diantaranya adalah :

وعن أبي هريرة رضي الله عنه قال: أوْصَانِيْ حَبِيْبِيْ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لِيْ: “يَا أبَا هُرَيْرَةَ صَلِّ الصَّلاَةَ مَعَ الْجَمَاعَةِ وَلَوْ كُنْتَ جَالِسًا، فَإنَّ اللهَ تَعَالَى يُعْطِيْكَ بِكُلِّ صَلَاةٍ مَعَ الْجَمَاعَةِ ثَوَابَ خَمْسٍ وَعِشْرِيْنَ صَلَاةً فِيْ غَيْرِ الْجَمَاعَةِ

Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata, “Kekasihku Rasulullah saw. telah memberikan pesan kepadaku, lalu beliau bersabda kepadaku, “Wahai Abu Hurairah, shalatlah bersama jamaah meskipun dengan duduk, karena sungguh Allah ta’aala akan memberikanmu di setiap shalat jamaah dua puluh lima pahala shalat dengan tanpa berjamaah.”

وقال صلى الله عليه وسلم: صَلاَةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلاَةَ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ دَرَجَةً

Nabi saw. bersabda, “Shalat berjamaah lebih utama dari pada shalat sendirian dua puluh tujuh derajat.” Hadis ini diriwayatkan oleh imam Malik, imam Ahmad, imam Al-Bukhari, imam Muslim, imam At-Tirmidzi, imam Ibnu Majah, dan imam An-Nasai dati sahabat Ibnu Umar r.a.

وقال صلى الله عليه وسلم: لاَ صَلاَةَ لِجَارِ الْمَسْجِدِ إلاَّ فِى الْمَسْجِدِ

Nabi saw. bersabda, “Tidak (sempurna) shalatnya bagi orang yang tinggal di dekat masjid kecuali di dalam masjid (berjamaah).” Hadis ini diriwayatkan oleh imam Ad-Daruquthni dan imam Al-Baihaqi dari sahabat Jabir dan dari sahabat Abu Hurairah r.a.

Baca Juga :  Bagaimana Hukum Akad Nikah Tanpa Jabat Tangan?

Tentunya masih banyak lagi hadits-hadits nabi yang menjelaskan betapa pentingnya shalat jama’ah.

Karena begitu besarnya keutamaan shalat jamaah, para salafus shalih bahkan mentakziahi mereka yang tidak melaksanakan shalat jama’ah selama tujuh hari atau mereka yang tertinggal takbiratul ihramnya selama tiga hari. Sighot yang diapakai ketika bertakziah :

ليس المصاب من فرق الاحباب بل المصاب من حرم الثواب


“Bukanlah Musibah ketika seseorang berpisah dengan para kekasih, akan tetapi yang dinamakan musibah adalah ketika seseorang itu tertutup dari pahala”

Aturan Dalam shalat Jama’ah

Dalam praktek berjamaah untuk mendapatkan keutamaan dan keabsahan shalat tentunya ada aturan-aturan yang harus dipenuhi. diantara aturan-aturan didalam shalat berjamaah adalah sebagai berikut:

Wajib bagi makmum untuk niat (Makmum) mengikuti imam. Tidak ada kewajiban untuk menentukan Imam, akan tetapi cukup bermakmum kepada yang hadir disitu walaupun makmum tidak mengenal siapa yang menjadi imam. Apabila seorang makmum menentukan siapa yang akan menjadi imamnya dan ternyata keliru, maka batal shalatnya. Kecuali saat menentukan imam, ia juga menambahkan dengan isyarat, contoh : “Saya berniat makmum kepada zaid ini.”, ternyata yang jadi imam adalah Umar, jika terjadi hal yang demikian maka shalatnya tidak batal.

Tidak ada kewajiban niat menjadi imam dalam rangka mengesahkan orang yang bermakmum padanya, selain pada shalat jum’at.

Bagi imam, niat menjadi imam hukumnya disunnahkan. Apabila ia tidak niat menjadi imam, maka sholatnya dihukumi sholat sendirian.

Bagi lelaki merdeka diperbolehkan untuk bermakmum kepada seorang budak laki-laki. Dan bagi lelaki baligh diperkenankan bermakmum pada anak yang menjelang baligh (murahiq).

Baca Juga :  Perbedaan Mukim, Mustauthin dan Musafir

Tidak sah bermakmum kepada anak yang belum tamyiz

Seorang lelaki tidak sah bermakmum pada seorang wanita dan khuntsa musykil. Seorang khuntsa muskil tidak sah bermakmum kepada perempuan dan kepada sesama khuntsa musykil.

Seorang ­qari’, yaitu orang yang benar bacaan Al Fatihahnya, tidak sah bermakmum pada seorang yang ummi, yaitu orang yang cacat bacaan huruf atau tasydid dari surat Al Fatihah.

Syarat Mengikuti imam:

Di tempat manapun di dalam masjid seorang makmum yang mengetahui sholatnya imam dengan langsung melihatnya atau melihat sebagian shof saja, maka hal tersebut sudah cukup di dalam sahnya bermakmum kepada sang imam, selama posisinya tidak mendahului imam.

Jika tumit makmum mendahului tumit imam dalam satu arah, maka sholatnya tidak sah. Dan tidak menjadi masalah jika tumitnya sejajar dengan tumit sang imam.

Dan disunnahkan bagi makmum mundur sedikit di belakang imam, dengan posisi ini ia tidak dianggap keluar dari shof yang akan menyebabkan ia tidak mendapatkan keutamaan sholat berjama’ah.

Apabila imam sholat di dalam masjid sedangkan makmum sholat di luar masjid, Dan jarak makmum dengan imam tidak lebih dari tiga ratus dzira’, dan makmum mengetahui sholatnya imam, sertatidak ada penghalang diantara imam dan makmum, maka diperkenankan bermakmum pada imam dalam keadaan tersebut.

Jarak 300 dziro’ tersebut terhitung dari ujung terakhir masjid.

Jika imam dan makmum berada di selain masjid, adakalanya tanah lapang atau bangunan, maka syaratnya adalah jarak di antara keduanya tidak lebih dari tiga ratus dzira’, dan diantara keduanya tidak terdapat penghalang. [/mulimina.id]


  • [1] Al-Bajuri ‘Ala Ibnu Qashim Al-Ghazi.[hal:194 Cetakan : Darul Kutub Al-Islamiyyah]
  • Disarikan dari kitab Fathul Qarib Al-Mujib karya Al-Alamah Syaikh Ibnu Qashim Al-Ghazi.