Select Page

Berpakaian Seperti Ulama Tapi Miskin Ilmu

Berpakaian Seperti Ulama Tapi Miskin Ilmu

Sering kita temui saat ini banyak sekali orang-orang berpakaian seperti ahli ilmu tapi miskin akan ilmu. Bahkan kadang berfatwa dengan fatwa yang aneh tanpa didasari sumber hukum yang jelas.

Dijelaskan dalam kitab Tanwir al Qulub fi Mu’amalati Allami al-Ghuyub, kitab ini banyak dipelajari di pesantren Indonesia. Penulisnya adalah Syaikh Muhammad Amin al Kurdi. Beliau dilahirkan pada paruh kedua abad ke-13 di kota Irbil, Irak. Dan salah satu ulama Ahli Fiqh dan Tasawwuf yang tersohor di zamanya.

Di Dalam kitab Tanwiirul Quluub, hal : 99, beliau menjelaskan :

ومن البدع توسيع الثياب والأكمام لكنه مكروه لا حرام إلا ما صارشعارا للعلماء فيندب لهم ليعرفوا ويحرم على غيرهم التشبه بهم في ذلك لئلا يغتر بهم فيستفتوا فيفتوا بغير علم كما أنه يحرم على من ليس بصالح التزيي بزي الصالحين ليغر غيره ومثله لبس العمامة الخضراء لغير شريف وقد جعلت على أولاد فاطمة الزهراء.

Dari keterangan diatas dapat kita simpulkan bahwa Dalam memakai Pakaian Ulama (Pakaian Khas Orang-orang Alim) ada dua konskuensi Hukum :

Yang Pertama adalah Haram, Berpakaian dengan gaya pakaian khas para Ahli ilmu bisa menyebabkan keharaman apabila yang memakai pakaian tersebut tidak memiliki kapabilitas sebagai ahli ilmu, dikhawatirkan Orang lain akan menganggapnya sebagai orang ‘alim sehingga ditakutkan nantinya akan memberikan Fatwa tanpa dasar hukum yang jelas dan bahkan fatwa yang menipu.

Yang Kedua Adalah Sunnah, Berpakaian dengan pakaian Khas Ulama ( Ahli ilmu ) memiliki hukum sunnah jika sang pemakai memang benar-benar memiliki kredibilitas sebagai ahli ilmu, mampu memberikan fatwa hukum dengan benar. Sehingga pakaian yang dipakai bisa menunjukkan keberadaan mereka kepada masyarakat.

Sebagaimana Hukum diatas, Haram pula bagi orang yang tidak shalih tapi berhias dengan hiasan orang-orang yang shalih, agar orang lain tertipu.

Dalam hal sorban,  HARAM memakai sorban Warna HIJAU bagi orang selain Syariif (Dzurriyah Nabi) yang mana sorban warna hijau itu di peruntukkan untuk keturunan Fatimah Az-Zahra.

Kalau Kita mengidolakan Para Ulama kita juga harus mengikuti semuanya, jangan hanya meniru pakaianya saja, akan tetapi tiru juga cara para ulama tersebut mendapatkan ilmu, sehingga saat kita berpakaian ala Ulama kita juga mampu untuk memberi berfatwa hukum dengan benar.

Jangan sampai ilmu sharaf  paling dasar saja tidak menguasai tapi berani menentang keputusan para ahli ilmu. Belajarlah lagi, karena selama nyawa dikandung badan hukum belajar adalah Faridhah.

Sekian!

About The Author