≡ Menu

Belajarlah !! Sebelum mencaci Hasil Munas NU

in Kolom
panggilan orang kafir di arab saudi

Sosial media sampai hari ini terus ramai bagai bola panas dengan hasil musyawarah Nahdlatul Ulama dan Konferensi Besar NU 2019 di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar, Citangkolo Kujangsari, Langensari, Kota Banjar, Jawa Barat .

Terkait status non-Muslim dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara di Indonesia dianggap kontroversial oleh sebagian masyarakat. Silang pendapat diekpresikan di media sosial melalui akunnya masing-masing, baik yang ditulis sendiri mengikuti kehendak nafsunya maupun yang hanya meneruskan ulang pendapat orang lain yang sesuai dengan yang mereka pikirkan.

Kebanyakan mereke menjudge hasil musyawarah tersebut tanpa dasar yang jelas melenceng dari topik sebenarnya: mulai dari soal pilihan kata manggil non-Muslim atau kafir, hingga tuduhan tak masuk akal penggantian Surat al-Kafirun menjadi al-Nonmuslim.

Padahal Sidang komisi bahstul masail ad-diniyyah al-maudhuiyyah pada Musyawarah Nasional Alim Ulama NU 2019 membahas status non-Muslim di Indonesia tersebut diikuti oleh orang-orang yang tidak perlu diragukan lagi keilmuanya. Hasil Keputusanya pun sesuai dengan apa yang ada dikitab turots para Fuqaha’.

panggilan orang kafir di arab saudi

Terminologi dalam Kitab Fikih kita ada Darul Islam dan Darul Kuffar. Sementara warga negara yang terdapat dalam Darul Islam ada beberapa sebutan:

  1. Kafir Harbi, yaitu orang yang memerangi umat Islam dan boleh diperangi
  2. Kafir Dzimmi, orang yang membayar jizyah untuk mendapatkan perlindungan. Tidak boleh diperangi.
  3. Kafir Mu’ahad, orang yang melakukan perjanjian damai dalam beberapa tahun. Tidak boleh diperangi.
  4. Kafir Musta’min, orang yang meminta perlindungan. Tidak boleh diperangi.

Yang dimaksud keputusan Munas NU bahwa Non Muslim di Indonesia tidak ada yang memenuhi kriteria tersebut. Sehingga disebut warga negara dalam nation state.

وَفِي الْقُنْيَةِ مِنْ بَابِ الِاسْتِحْلَالِ وَرَدِّ الْمَظَالِمِ لَوْ قَالَ لِيَهُودِيٍّ أَوْ مَجُوسِيٍّ يَا كَافِرُ يَأْثَمُ إنْ شَقَّ عَلَيْهِ. اهـ. وَمُقْتَضَاهُ أَنْ يُعَزَّرَ لِارْتِكَابِهِ مَا أَوْجَبَ الْإِثْمَ. البحر الرائق، ٥/ ٤٧

Artinya: “Dalam kitab Al Qunyah dari Bab Al Istihlal dan Raddul Madhalim terdapat keterangan: “Andaikan seseorang berkata kepada Yahudi atau Majusi: ‘Hai Kafir’, maka ia berdosa jika ucapan itu berat baginya (menyinggungnya). Konsekuensinya, pelakunya seharusnya ditakzir karena melakukan tindakan yang membuatnya berdosa.” (Dikutip dari kitab Al Bahrur Raiq, Juz 5 halaman 47).

Dalam konteks negara yang berbasis agama pada era tersebut, perbedaan kategori menyebabkan adanya perbedaan hak dan kewajiban masing-masing kelompok masyarakat. Kini, dengan model negara bangsa maka semua kelompok masyarakat memiliki hak yang sama. Jadi, tema tersebut menyangkut kedudukannya sebagai warga negara, bukan menyangkut masalah teologis karena hal tersebut sudah jelas posisinya.

Terkait Hasil MUNAS NU tentang status non muslim di indonesia dari konteks bernegara, Banyak Pembelaan datang dari para tokoh ulama Salah satunya adalah seperti Tuan Guru bajang yang menulis di akun instagramnya sebagai berikut :

Panggilan Untuk Non muslim di arab

Kesepakatan ulama, istilah kafir berlaku untuk siapapun yang tidak percaya dan ingkar pada ALLOH dan RasulNya serta pokok-pokok syariat. Ini dari sisi akidah. •


Namun dalam muamalah, Rasul yang mulia mengajarkan umatnya untuk membangun hubungan saling menghormati dengan siapapun. Maka, saat hijrah, Rasul shallallahu alayhi wasallam menyepakati piagam bernegara bersama seluruh komponen di Madinah. Dalam piagam itu ada hak dan kewajiban yang sama. Kata kafir tidak digunakan dalam piagam itu untuk menyebut kelompok-kelompok Yahudi yang ikut dalam kesepakatan itu. Karena piagam Madinah bukan tentang prinsip akidah tapi tentang membangun ruang bersama untuk semua. •
Sekarang kita hidup di negara-bangsa, Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dan salah satu bentuk persaudaraan yang wajib dijaga dengan sesungguh hati dan sekuat-kuatnya adalah persaudaraan sebangsa, ukhuwah wathaniyah. •


Penyebutan kepada saudara sebangsa harus berpijak pada semangat persatuan dan persaudaraan. Maka menyebut orang yang beragama lain dengan sebutan non muslim tidak keliru dan bahkan lebih sesuai dengan semangat kita berbangsa. •


Itu sebabnya, dalam beragam acara publik, saat seorang muslim memimpin doa dia mengawali dengan ucapan, “ijinkan saya membaca doa secara Islam dan bagi saudara yang non muslim agar menyesuaikan”. Kalau kata non muslim diganti kafir tentu sangat tidak nyaman untuk saudara-saudara yang beragama selain Islam. •


Foto diatas adalah penanda saat akan memasuki Tanah Suci Kota Mekkah. Disitu tertulis : ‎لغير المسلمين
bukan للكافرين
dan tertulis pula :
” for non muslims ” bukan
” for disbelievers ” atau ” for kafir “. Bahkan di Arab Saudi pun, sebutan “non muslim” dipakai.

Dari Gambar diatas, Aarab saudi  sangat jelas memanggil Non Muslim tidak dengan kata Kafir tapi “Ghoiru Muslimin”. sekali lagi ini Urusan Wathoniyyah Bukan Urusan Akidah.

“Jika memang medsos membuat kita bebas untuk berbicara dan menyuarakan pendapat, Bersuaralah dengan Bagus dan Gunakan akal serta lmu, Jangan sampai Menelanjangi diri didepan publik dengan Mengumbar kebodohan tanpa hujah yang jelas.”

alangkah lebih baik jika kita berdiskusi dengan menggunakan standar keilmuan, jangan biasakan debat kusir disosial media yang akhirnya hanya menambah pundi-pundi dosa. Jika memang tidak memadai dar segi kelimuwan, Belajarlah lagi. Karena Kedudukan Ahli ilmu itu sangat tinggi.

Sebagai penutup kami hadirkan sabda Nabi SAW tentang Kedudukan Ahli ilmu untuk menumbuhkan Ghirroh belajar yang memang hukumnya Faridhoh.

 

وقال النبي صلى الله عليه وسلم: مَنْ زَارَ عَالِما فَكَأَنَمَّا زَارَنِي، وَمَنْ صَافَحَ عَالِما فَكَأَنَّما صَافَحَنِي، وَمَنْ جَالَسَ عَالِما فَكَأَنَّما جَالَسَنِي في الدُّنْيَا، وَمَنْ جَالَسَنِي في الدُّنْيَا أَجْلَسْتُهُ مَعِي يَوْمَ القِيَامَةِ. وعن أنس بن مالك أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : مَنْ زَارَ عَالِما فَقَدْ زَارَنِي، وَمَنْ زَارَنِي وَجَبَتْ له شَفَاعَتي، وكانَ لَهُ بِكُلِّ خَطْوَةٍ أَجْرُ شَهِيدٍ، وعن أبي هريرة قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: مَنْ زَارَ عَالِما ضَمِنْتُ لَهُ عَلى الله الجَنَّة. وعن علي بن أبي طالب أنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: مَنْ زَارَ عَالِما أيْ فِي قَبْرِهِ ثُمَّ قَرَأَ عِنْدَهُ آيةً مِنْ كِتَابِ الله أعْطَاهُ الله تَعَالَى بِعَدَدِ خطَوَاتِهِ قُصُورا فِي الجَنَّةِ وَكَانَ لَهُ بِكُلِّ حَرْفٍ قَرَأَهُ عَلَى قَبْرِهِ قَصْرٌ في الجَنَّةِ مِنْ ذَهَبٍ. كذا في رياض الصالحين.

Nabi SAW bersabda, “Barang siapa mengunjungi orang alim maka seolah-olah dia mengunjungiku. Barang siapa berjabat tangan dengan orang alim maka seolah-olah dia berjabat tangan denganku. Barang siapa duduk-duduk bersama orang alim maka seolah-olah dia duduk-duduk bersamaku di dunia, dan barang siapa duduk-duduk bersamaku di dunia maka aku tempatkan dia bersamaku pada hari kiamat”.

وقال النبي صلى الله عليه وسلم: مَنْ تَعَلَّمَ بَابا مِنَ العِلْمِ يَعْمَلُ بهِ أوْ لَمْ يَعْمَلْ بهِ كَانَ أَفْضَلَ مِنْ أَنْ يُصَلِّي أَلْفَ رَكْعَةٍ تَطَوُّعا, هذا يدل على أن العلم أشرف جوهرا من العبادة، ولكن لا بد للعبد من العبادة مع العلم، وإلا كان علمه هباء منثورا كما روي عن أبي هريرة عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: ما مِنْ عَالِمٍ لا يَعْمَلُ بِعِلْمِهِ إلاّ نَزَعَ الله رُوحَهُ عَلى غَيْرِ الشَّهَادةِ.

Nabi SAW bersabda, “belajar ilmu satu bab baik diamalkan atau tidak, itu lebih utama daripada sholat sunah 1000 rokaat”. Ini menunjukkan ilmu itu lebih mulya daripada ibadah, tapi meskipun demikian orang yang berilmu itu haruslah juga beramal agar ilmunya tidak seperti debu yang terbang berhamburan kemudian hilang tanpa bekas. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits riwayat Abu Huroiroh, “Tidak ada seorang alimpun yang tidak mengamalkan ilmunya kecuali nanti Allah akan mencabut nyawanya dalam keadaan tidak bisa bersyahadat (menyaksikan ketuhanan Allah).

وقال صلى الله عليه وسلم من نظر الى وجه العالم نظرة ففرح بها خلق الله خلق الله من تلك النظرة ملكا يستغفر له الى يوم القيامة

Rasulullah bersabda, “Barang siapa memandang wajah seorang Alim -sekali pandangan saja dan Orang itu gembira dengan pandangan itu, maka Allah SWT menciptakan dari pandangan yang sekali itu- malaikat-malaikat yang terus meminta ampunan Allah untuknya sampai hari Kiamat.

Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karromallohu Wajhah berkata, “Memandang wajah orang Alim itu Ibadah, juga menjadi cahaya mata dan hati. Ketika seorang Alim itu duduk di majlis untuk mengajarkan ilmu, maka setiap satu persoalan dia mendapat satu bangunan gedung di surga, demikian pula orang-orang yang mau mengamalkan persoalan itu. (riyadlus Sholihin).

Jika ingin selamat Pandanglah Wajah ahli ilmu dengan pandangan gembira jangan kalian caci mereka. Sekian

Silahkan Bagikan Jika Bermanfaat: