Kategori: Siyasah

Bela Negara Dalam Perspektif Syaikh Adnan Al Afyouni

Kabar duka menyelimuti Kaum Muslimin atas wafatnya Mufti Damaskus Suriah Syekh Adnan Al-Afyouni pada Kamis (22/10). Almarhum wafat dalam sebuah perjalanan akibat mobilnya meledak karena dipasang sebuah bom. Almarhum wafat dalam sebuah perjalanan di Qudsia, pinggiran Damaskus, akibat mobilnya meledak karena dipasang sebuah bom. Syekh Adnan adalah sosok ulama yang mempunyai peran sangat penting dalam proses rekonsiliasi konflik di Suriah.

Syaikh Adnan juga memiliki kedekatan dengan ulama-ulama di indonesia, Salah satunya adalah Habib Lutfi Bin Yahya., yang tidak lain adalah Anggota Wantimpres RI dan Rais ‘Aam Jam’iyah Ahlith Thariqah al-Mutabarah al-Nahdliyah (JATMAN).

Syekh Adnan merupakan ulama yang memimpin rapat pemilihan Maulana Habib Luthfi bin Yahya sebagai Ketua Forum Sufi Dunia yang berlangsung di Pekalongan, Jawa Tengah pada April 2019 lalu. Di tempat yang sama, Pekalongan, Syekh Adnan bersama tokoh-tokoh sufi dunia juga menghadiri Konferensi Internasional bertajuk Bela Negara pada 2016 lalu. 

Kewajiban Bela Negara (Hubbul Wathon)

Rasulullah saw. telah mengajarkan kepada kita untuk mencintai negara. Saat beliau akan hijrah ke Madinah beliau berdiri menghadap Makkah, menatapnya dan berkata kepadanya seakan-akan kota Makkah merasakan dan mendengar ucapan perpisahan Nabi ini

Syaikh Adnan Al Afyouni

Pandangan Syaikh Adnan Al Afyouni tentang kewajiban setiap warga negara untuk mencintai Negaranya beliau sampaikan dalam acara Konferensi Internasional Ulama Thariqah di Hotel Santika Kota Pekalongan, Jawa Tengah Indonesia, 15 Januari 2016 dengan tema “Bela Negara: Pengertian dan Urgensinya dalam Islam”. Dan Berikut ini adalah Isi dari sambutan Beliau:

Bela Negara: Pengertian dan Urgensinya dalam Islam

Oleh: Syaikh Adnan al-Afyuni (Mufti Syafi’iyyah Damasykus Syiria)


السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Para peserta konferensi yang saya hormati, hal pertama yang ingin saya sampaikan adalah ucapan selamat atas pelaksanaan Haflah Maulidur-Rasul. Sayyiduna Muhammad SAW., insan paling mulia, kekasih Allah, penutup pada Nabi, pemimpin para Rasul yang diutus sebagai rahmat bagi sekalian alam.

Saya sampaikan ucapan terima kasih kepada segenap pelaksana acara konferensi ini, yang pelaksanaannya sangat tepat pada saat sekarang ini, di mana di berbagai negara pada umumnya dan di wilayah timur tengah pada khususnya terjadi berbagai anomali-anomali.

Tema yang diangkat dalam konferensi ini juga sangat penting karena membahas tentang negara, tentang entitas yang mempunyai nilai yang sangat tinggi bagi individu dan umat.

Hadirin yang terhormat.

Ketika seseorang negaranya porak poranda, mengalami kehancuran, menjadi rebutan kuasa-kuasa asing hingga menjadi medan perang yang sengit, dan tidak ada
yang tersisa, maka ia akan mengetahui seberapa pentingnya nilai sebuah negara.

Di saat seseorang tanah airnya berwarna merah berlumuran darah, seluruh
penjuru negara menjadi sarang burung gagak kematian dan kehancuran, maka ia
akan mengetahui betapa pentingnya nilai sebuah negara.

Tatkala seseorang melihat saudara-saudara sebangsanya berlarian tercerai
berai di berbagai belahan dunia, mencari-cari makanan dengan penuh kehinaan,
tidur beralaskan ketidakberdayaan dan sehari-hari mengunyah kepahitan serta menahan kesabaran, maka ia akan memahami dan menyadari bagaimana nilai
pentingnya sebuah negara.

Di saat seseorang sudah tidak dapat lagi mendengarkan tawa ceria anak-anak
dan kicauan indah burung-burung di negaranya. Yang ia dengar hanya suara
desingan tank dan peluru, maka ia akan memahami dengan baik bagaimana nilai
sebuah negara.

Dan tatkala seseorang sudah kehilangan asa dan harap, hampa kehilangan
semangat cita masa depan, dan lenyap segala kebahagiaan, maka ia akan memahami
dengan penuh keinsafan bagaimana pentingnya sebuah negara.

Saat kita mengamati fenomena aktual beberapa negara di belahan dunia
mengalami kehancuran, terbengkalai dengan sia-sia, dijarah, dan dipecah belah,
maka kita akan memahami bagaimana pentingnya membahas tema bela negara.

Dengan melihat realita yang menyedihkan itu pula kita akan menyadari bahwa bela
negara, menjaganya dan memeliharanya merupakan sebuah kewajiban. Penyimpulan bahwa bela negara adalah kewajiban di dasarkan kepada nalar kebutuhan (al-dharurah) dan nalar kemaslahatan (al-mashlahah). Bahkan bela negara merupakan kewajiban yang diperintahkan agama dan ditetapkan oleh syariah, sebab cinta negara adalah sebagian dari iman (hubbul-wathon minal-iman).

Rasulullah saw. telah mengajarkan kepada kita untuk mencintai negara. Saat beliau akan hijrah ke Madinah beliau berdiri menghadap Makkah, menatapnya dan
berkata kepadanya seakan-akan kota Makkah merasakan dan mendengar ucapan
perpisahan Nabi ini-,

وَاللهِ اِنَّكَ لأحب بلاد الله اليَّ، ولولا ان اهلك اخرجونى منك لما خرجت


“Demi Allah, sesungguhnya engkau adalah bumi Allah yang paling aku cintai. Sungguh,
kalaulah seandainya wargamu tidak mengusirku, tentu aku tidak akan keluar
meninggalkanmu.”

Makkah adalah bumi yang paling beliau cintai karena Makkah adalah tanah
air beliau.

Ketika Nabi sudah hijrah di Madinah, dan Madinah menjadi negaranya
beliau mengungkapan rasa cintanya secara eksplisit. Suatu hari beliau berbicara
menghadap salah satu gunung di Madinah, yaitu gunung Uhud,

” أحٌد جبل يحبنا ونحبه “

“Gunung Uhud adalah gunung yang mencintai kami dan kami mencintainya.”

Nabi juga selalu melindungi negaranya Madinah dari segala hal yang mengganggu, mengancam keamanan dan stabilitasnya, mengganggu kenyamanan, kebahagiaan dan kesejahteraan warganya. Nabi menetapkan Madinah sebagai area suci yang aman (haraman aaminan): Tiap individu dilindungi, haknya tidak dilanggar dan tidak diperlakukan buruk. Orang-orang yang menjadi kewajiban umat Islam untuk melindunginya (dzimmah) hak-haknya dipenuhi, dan warga lain yang bersepakat untuk hidup bersama dan berdampingan secara damai (mu’ahad dan musta`man) hak-haknya juga tidak dibelenggu. Di negara tersebut, tidak ada upaya konspirasi untuk memperlakukan warganya secara buruk.

Imam Muslim dalam kitab al-Sahih Bab Hurmatul-Madinah (Kemuliaan Madinah) meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. pernah berdoa:

اللهم إنَّ إبراهيم حَرَّم مكة فجعلها حرامًا، وإني حرمت المدينة حرامًا ما بين مأزميها، لا يهراق فيها دم، ولا يحمل فيها سلاح لقتال، ولا يخبط فيها شجرة إلا لعلف. اللهم بارك لنا في مدينتنا

“Ya Allah sesungguhnya Ibrahim telah menjadikan Makkah sebagai bumi yang mulia, dan sungguh saya menjadikan Madinah sebagai bumi yang mulia, yaitu daerah yang ada di antara dua gunung. Di sana darah tidak boleh ditumpahkan, senjata perang tidak bolehdiangkat, pepohonan tidak boleh dirontokkan daun-daunnya kecuali untuk keperluan makanan ternak. Ya Allah anugerahkanlah keberkahan bagi Madinah kami…”

 المدينة حرم ما بين عائر إلى كذا من أحدث فيها حدثا أو آوى محدثا فعليه لعنة الله والملائكة والناس أجمعين لا يقبل منه صرف ولا عدل وقال ذمة المسلمين واحدة فمن أخفر مسلما فعليه لعنة الله والملائكة والناس أجمعين لا يقبل منه صرف ولا عدل ومن تولى قوما بغير إذن مواليه فعليه لعنة الله والملائكة والناس أجمعين لا يقبل منه صرف ولا عدل

“Madinah adalah tanah haram (tanah mulia), dengan batas antara bukit ‘A`ir sampai bukit itu. Siapa yang berbuat kejahatan (kekacauan) di sana atau melindungi pelaku kejahatan(kekacauan), maka dia akan mendapat laknat Allah, para Malaikat, dan seluruh manusia, serta tidak diterima amal sunah maupun amal wajibnya2. Jaminan perlindungan yang diberikan oleh siapapun dari umat Islam (untuk non-muslim) adalah sama (harus dihormati dan dilindungi). Barangsiapa merusak/menerjang janji kesepakatan yang sudah ditetapkan oleh seorang Muslim tersebut maka dia akan mendapat laknat Allah, para Malaikat, dan seluruh manusia, serta tidak diterima amal sunah maupun amal wajibnya. Hamba sahaya yang mendaku (dan mengabdi) sebagai hamba sahaya dari tuan tertentu, tanpa izin dari tuannya yang asli, maka dia akan mendapat laknat Allah, para Malaikat, dan seluruh manusia, serta tidak diterima amal sunah maupun amal wajibnya. ”

Imam Muslim mencatat sebuah hadis yang diriwayatkan melalui sahabat Sa’d bin Abi Waqqash r.a., yang menyampaikan bahwa sesungguhnya Nabi Muhammad saw., bersabda,

” من أراد أهل المدينة بسوء – أذابه الله في النار ذوب الرصاص أو ذوب الملح في الماء.“

“Barangsiapa mempunyai keinginan buruk terhadap penduduk Madinah, maka Allah akan menghancurkan dia di dalam Neraka seperti leburnya timah atau seperti larutnya garam di dalam air.”

Imam Ahmad bin Hanbal dalam kitab al-Musnad juga meriwayatkan dari sahabat al-Sa`ib bin Khallad r.a., yang menceritakan bahwa sesungguhnya Rasulullah saw. pernah bersabda,


 مَنْ أَخَافَ أَهْلَ الْمَدِينَةِ ظَالِمًا لَهُمْ أَخَافُهُ اللَّهُ ، وَكَانَتْ عَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ لَا يُقْبَلُ مِنْهُ صَرْفٌ وَلَا عَدْلٌ

“Barangsiapa secara zhalim menakut-nakuti penduduk Madinah, pasti Allah akan
membuatnya ketakutan dan ia akan mendapatkan laknat Allah, para Malaikat, dan seluruh manusia, serta tidak diterima amal sunah maupun amal wajibnya.”

Keterangan panjang ini, merupakan paparan mengenai bagaimana Nabi Muhammad saw. menjelaskan konsep relasi dengan negara dan tanah air, bagaimana mencintainya, menjaganya, membelanya dan juga melindungi warganya.


Namun yang perlu diperhatikan adalah bahwa konsep bela negara, bukan hanya sebatas berbentuk melawan serangan musuh, menjaga batas teritorial, mewujudkan keamanan dan keselamatan seluruh warga negara saja. Konsep bela negara lebih luas dari itu. Ia meliputi hal-hal berikut ini:

  • Mempunyai semangat tinggi untuk memajukan, memakmurkan negara, mengupayakan ketercukupan dan kemandirian dalam berbagai bidang kehidupan sehingga negara tidak mengalami ketergantungan dengan pihak lain.
  • Mempunyai semangat tinggi untuk memperkuat solidaritas dan soliditas di antara komponen bangsa dalam menghadapi kesulitan, tantangan dan ujian yang dihadapi bangsa, seakan-akan semuanya adalah satu kesatuan tubuh yang tak terpisahkan. Selain itu juga menyebarkan budaya persaudaraan yang penuh cinta kasih di antara seluruh warganya. Bela negara juga dengan cara melindungi warganya dari berbagai model pemikiran dan faham yang menyebabkan timbulnya perpecahan, disintegrasi, pengkafiran dan pelanggaran terhadap hak hidup manusia. Pemikiran dan faham melenceng yang mendorong aktifitas pembunuhan, penumpahan darah, perampasan harta dan merendahkan harkat kehormatan manusia yang disebabkan pemahaman yang salah atas agama dan pentakwilan distortif atas teks-teks keagamaan tidak kalah bahayanya dibanding dengan tentara imperialis-penjajah asing yang merebut tanah air kita. Dua-duanya menyebabkan negara menjadi hancur, warga negara menjadi terinjak-injak martabatnya, dan nilai-nilai mulia serta ajaran agama dihina dan direndahkan.
  • Mempunyai semangat tinggi untuk memperkuat solidaritas dan soliditas di antara komponen bangsa dalam menghadapi kesulitan, tantangan dan ujian yang dihadapi bangsa, seakan-akan semuanya adalah satu kesatuan tubuh yang tak terpisahkan. Selain itu juga menyebarkan budaya persaudaraan yang penuh cinta kasih di antara seluruh warganya.
  • Bela negara juga dengan cara melindungi warganya dari berbagai model pemikiran dan faham yang menyebabkan timbulnya perpecahan, disintegrasi, pengkafiran dan pelanggaran terhadap hak hidup manusia. Pemikiran dan faham melenceng yang mendorong aktifitas pembunuhan, penumpahan darah, perampasan harta dan merendahkan harkat kehormatan manusia yang disebabkan pemahaman yang salah atas agama dan pentakwilan distortif atas teks-teks keagamaan tidak kalah bahayanya dibanding dengan tentara imperialis-penjajah asing yang merebut tanah air kita. Dua-duanya menyebabkan negara menjadi hancur, warga negara menjadi terinjak-injak martabatnya, dan nilai-nilai mulia serta ajaran agama dihina dan direndahkan.

Hadirin yang saya hormati

Terdapat satu pertanyaan yang membingungkan. Mengapa negara Barat mampu berkembang dan maju, menghasilkan banyak produk dan mengekspornya. Sedangkan kita dalam hal tersebut berada di bawah mereka? Apa yang mereka miliki sedangkan kita tidak memilikinya?

Aset sumber daya alam milik kita jauh lebih melimpah dibanding yang mereka miliki. Kita juga memiliki sumber daya manusia yang mumpuni dan kreatif. Kita mempunyai akal, kemampuan dan kecerdasan sebagaimana yang mereka punya. Selain itu, kita mempunyai ajaran syari’ah yang agung yang memberitahu kepada kita akan urgensi ilmu pengetahuan dan pentingnya melaksanakan ilmu tersebut. Syariah kita juga mengajarkan betapa tingginya nilai dan derajat orang yang memberi dan bermanfaat bagi orang lain baik bagi sesama umat Islam atau bagi seluruh umat manusia.

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan katakanlah: “Berkaryalah kalian, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu’min akan melihat karya kalian itu, dan kalian akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan”. (al-Taubah: 105)

Sehingga, yang menjadi PR bagi kita adalah kita harus belajar, bersungguh-sungguh, bercocok tanam, menciptakan produk, mengoptimalkan kualitas hasil karya dan tulus-ikhlas supaya negara kita menjadi negara yang besar. Untuk hal itu tentunya diperlukan kerjasama di antara semua tenaga, kekuatan dan potensi yang ada dalam masyarakat dan negara.

Untuk mencapai tujuan besar dan mulia itu, syarat-syarat berikut ini harus
ada,

  1. Tersebarnya dan kokohnya budaya tanggungjawab terhadap negara dan seluruh bangsa pada diri setiap individu. Setiap individu anak bangsa di manapun, dalam kapasitas apapun dan bertugas sebagai apapun harus menumbuhkan perasaan bahwa dia bertanggungjawab terhadap negara dan seluruh bangsanya. Pengokohan budaya seperti ini menjadi kewajiban ulama, para da’i, para pendidik dan semua lembaga pendidikan untuk menyebarkannya dan memperkuatkannya.
  2. Kemudian memberi kesempatan, mendorong dan memotivasi semua komponen kekuatan dan potensi bangsa untuk menunjukkan kapasitas dirinya dan melaksanakan fungsi serta tugasnya.
  3. Hal penting selain itu adalah upaya bersama dari semua komponen bangsa untuk melindungi negara dari hal-hal yang menyebabkan timbulnya kekacauan (chaos), mengganggu keamanan dan stabilitas, yang mengakibatkan negara terjerumus kepada potensi-potensi konflik yang disebabkan alasan apapun dan tujuan apapun.
  4. Selain itu semua komponen bangsa harus menjauhi sikap mengikuti secara membabi buta untuk melaksanakan agenda dan kepentingan-kepentingan asing yang merugikan negara. Jika tindakan negatif ini dilakukan maka kita akan rugi di dunia dan akhirat.

Semoga Allah swt. membimbing kalian semua untuk melakukan langkah-
langkah praktis-strategis yang menghantar kepada terwujudnya tujuan dan target-
target dari konferensi yang sangat penting yang kalian selenggarakan ini.

والله وليُّ التوفيق

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته.

Demikian Pandangan Syaikh Adnan Al Fayouni yang beliau sampaikan dalam acara Konferensi Internasional Ulama Thariqah di Hotel Santika Kota Pekalongan, Jawa Tengah Indonesia, 15 Januari 2016 silam tentang kewajiban bela negara bagi setiap warga negara dan Semoga dapat mencerahkan bagi yang menganggap bela negara (Hubbul Wathon Minal Iman) Tidak ada Dalilnya.

Teruntuk beliau semoga Allah memberikan Kesyahidan serta ditempatkan di tempat terbaik…. Lahul Fatihah..

Untuk sambutan aslinya dalam bentuk PDF bisa Download link dibawah ini

Website Ini Menggunakan Cookies