Kategori: FiqihPuasaRamadhan

Cara Berwudhu Disaat Puasa

Wudhu memegang peranan pokok dalam ibadah sholat dan lainya, namun kadang-kadang disaat puasa Ramadhan seperti ini banyak yang bingung tentang bagaiamana caranya berwudhu dibulan ramadhan?

Namun Sebelum kita melanjutkan tentang tata cara berwudhu dibulan ramadhan tentunya akan lebih baik jika kita mengingat dulu tentang syarat-syarat wudhu. Mungkin bagi sahabat muslimina yang belum sempat baca bisa di lihat di halaman ini ( Baca : Syarat-Syarat Wudhu ).

Setelah kita mengetahui syarat-syarat dalam wudhu, tentunya ada hal pokok lainya dalam wudhu yakni Rukun Wudhu serta tata cara wudhu ( Baca : Tata Cara Wudhu Yang Benar ) seperti yang diajarkan oleh para kyai, ulama, dan tentu semuanya bersumber kepada yang mulia junjungan kita sayyidul Mujtaba Sayyidina Muhammad S.A.W. dengan bukti sanad ilmu yang autentik.

Kembali Ke pokok persoalan, Bagaimana Cara Wudhu Bagi Orang Yang Berpuasa? adakah perkara-perkara tidak boleh dilakukan?

Cara Wudhu Yang Benar Bagi Orang Yang Berpuasa

Bagaimana cara Berwudhu Bagi orang yang berpuasa?

Sebenarnya berwudhu bagi orang yang berpuasa caranya sama saja dengan wudhunya orang yang tidak berpuasa. Yang perlu diperlu diperhatikan dan penuh kehati-hatian adalah kesunahan-kesunahanya, seperti saat melakukan kumur dan Isytinsyaq.

Sebuah hadits yang diriwayatkan Abu Basyar ad-Dulabi, yang menurut Ibn al-Qathan dikategorikan sebagai hadits sahih.

إذَا تَوَضَّأْتَ فَأَبْلِغْ فِي الْمَضْمَضَةِ ، وَالِاسْتِنْشَاقِ مَا لَمْ تَكُنْ صَائِمًا

“Ketika kamu berwudlu maka bersungguh-sungguhlah dalam berkumur dan menghirup air ke dalam hidung sepanjang kamu tidak berpuasa” (Lihat, Jalaluddin as-Suyuthi, Jami’ al-Ahadits, Bairut-Dar al-Fikr, juz, 3, h. 10) .

Kemudian dari hadits diatas dapat Syaikh Zakariya Al-Anshori dalam Asna al-Mathalib Syarh Raudl ath-Thalibin

أَمَّا الصَّائِمُ فَلَا تُسَنُّ لَهُ الْمُبَالَغَةُ بَلْ تُكْرَهُ لِخَوْفِ الْإِفْطَارِ كَمَا فِي الْمَجْمُوعِ

“Adapun orang yang berpuasa maka tidak disunnahkan untuk bersungguh-sungguh dalam berkumur karena khawatir membatalkan puasanya sebagaimana keterangan yang terdapat dalam kitab al-Majmu`”

Dari keterangan diatas dapat kita simpulkan bahwasanya tidak ada perbedaan dalam tata cara berwudhu, namun untuk berkumur dan Istinsyaq sebaiknya lebih hati-hati, karena kita tahu seperti mulut dan hidung ada batasan rongga yang mana jika melewatinya dapat membatalkan puasa. Untuk batasan Rongga yang membatalkan puasa bisa di baca disini (Baca: Batalkah Puasa orang yang Ngupil? )

Bagaimana Hukumnya saat berkumur dalam wudhu ada air yang tertelan?

Sebelumnya kita diperintahkan untuk berhati-hati agar tidak ada air yang masuk ke rongga mulut ataupun hidung yang menyebabkan tertelanya air tersebut.

Akan tetapi setelah berusaha sekuat mungkin ternyata kadang-kadang masing juga ada air yang tertelan.

Jika air wudhu tersebut tertelan maka Hukumnya di perinci:
1.Jika berkumurnya itu merupakan perkara yang disyari’atkan (seperti saat wudlu/mandi) dan tak berlebihan, maka TAK BATAL
2.Jika berkumurnya itu disyari’atkan tapi berlebihan, maka BATAL
3.Jika berkumurnya seseorang itu tak disyari’atkan, maka BATAL

Ibaroh atau dalilnya ada di ianatut tholibin juz 2 hal 256:

والحاصل) أن القاعدة عندهم أن ما سبق لجوفه من غير مأمور به، يفطر به، أو من مأمور به – ولو مندوبا – لم يفطر.ويستفاد من هذه القاعدة ثلاثة أقسام: الاول: يفطر مطلقا – بالغ أو لا – وهذا فيما إذا سبق الماء إلى جوفه في غير مطلوب كالرابعة، وكانغماس في الماء – لكراهته للصائم – وكغسل تبرد أو تنظف.الثاني: يفطر إن بالغ، وهذا فيما إذا سبقه الماء في نحو المضمضة المطلوبة في نحو الوضوء.الثالث: لا يفطر مطلقا، وإن بالغ، وهذا عند تنجس الفم لوجوب المبالغة في غسل النجاسة على الصائم وعلى غيره لينغسل كل ما في حد الظاهر.

Artinya, “Kesimpulannya, kaidah menurut ulama adalah, air yang tidak sengaja masuk ke dalam rongga tubuh dari aktivitas yang tidak dianjurkan, dapat membatalkan puasa, atau dari aktivitas yang dianjurkan meski anjuran sunah, maka tidak membatalkan. Dari kaidah ini, dapat dipahami tiga pembagian perincian hukum. Pertama, membatalkan secara mutlak, baik melebih-lebihkan (dalam cara menggunakan air) atau tidak. Ini berlaku dalam permasalahan masuknya air dalam aktivitas yang tidak dianjurkan seperti basuhan ke empat, menyelam ke dalam air, karena makruh bagi orang yang berpuasa, mandi dengan tujuan menyegarkan atau membersihkan badan. Kedua, membatalkan jika melebih-lebihkan, ini berlaku dalam aktivitas semacam berkumur yang dianjurkan saat berwudhu. Ketiga tidak membatalkan secara mutlak meski melebih-lebihkan, ini berlaku ketika mulut terkena najis karena wajibnya melebih-lebihkan dalam membasuh najis bagi orang yang berpuasa dan lainnya agar anggota zhahir terbasuh (suci dari najis),” (Lihat Syekh Abu Bakr bin Syatha, I’anatut Thalibin, juz 2 hal : 256)

Website Ini Menggunakan Cookies