Alternatif I’tikaf Saat Pandemi

Oleh : M. Dziaullami Parakan.

Stay at home atau lebih gampangnya ‘dirumah aja’ dalam masa pandemi covid-19 kali ini benar-benar menguji kesabaran kita semua. Namun jangan pernah berkecil hati dan putus harapan, sebab betapa agung perolehan seorang hamba muslim jika benar-benar mau bersabar. Apalagi menurut informasi yang banyak terbaca dalam share media sosial, ternyata tidak sedikit masyarakat yang sudah bisa memaklumi dan patuh tentang aturan atau protokol covid-19 dalam hal seputar peribadatan yang khususnya berkaitan dengan masjid. Semoga kesabaran kita dalam hal ini dapat diterima oleh Allah SWT.

Menilik bahwa termasuk salah satu keunggulan masjid yang seakan tidak bisa digantikan bagi yang belum tahu adalah; sahnya melaksanakan i’tikaf didalamnya, apalagi i’tikaf sangat dianjurkan terutama pada sepuluh malam terakhir pada bulan Ramadhan. Maka perlu kita mengetahui tentang ‘takrif syar’i’ atau definisi secara syariat untuk i’tikaf. Dalam pandangan lintas madzhab ada beberapa perbedaan, namun jika kita memilih untuk mendefinisikan dalam madzhab Syafi’i maka kiranya akan lebih mudah difaham dengan opsi definisi yang satu ini :
مكث مخصوص لشخص مخصوص فى مكان مخصوص بنية مخصوصة
“Diam secara khusus bagi seseorang yang khusus (muslim, baligh dan berakal sehat) ditempat yang khusus (masjid) dan dengan niat khusus”

Menurut pendapat yang paling shahih dikalangan madzhab Syafi’i durasi dalam i’tikaf disyaratkan untuk melaksanakannya dalam kurun waktu yang bisa disebut berdiam diri, dalam arti masanya harus melebihi kadar masa ‘thuma’ninah’ seseorang dikala menjalani ruku’ dan rukun shalat lainnya, maka tidak cukup dalam waktu yang terkategorikan hanya sekedar untuk thuma’ninah, meskipun tidak harus diam dan boleh dengan mondar-mandir namun tetap berada didalam masjid. Karena i’tikaf itu wajib didalam masjid.

Meyakini masjid sebagai solusi untuk segala permasalahan yang kita hadapi adalah suatu anjuran yang seharusnya dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana tidak? Lihat saja baginda Nabi SAW sebagai panutan umat telah mendesain doa saat masuk masjid dengan :
اللهم اغفرلي ذنوبي وافتح لي أبواب رحمتك
“Yaa Allah, ampunilah dosa-dosaku dan bukakanlah pintu-pintu belas kasih-Mu”. Dengan maksud jika seorang muslim ingin mendapat ampunan dan rahmat dari Allah SAW, maka masjid adalah salah satu gerbang disaat memasukinya. Sedangkan doa keluar masjid :
اللهم اغفرلي ذنوبي وافتح لي أبواب فضلك
“Yaa Allah, ampunilah dosa-dosaku dan bukakanlah pintu-pintu anugerah-Mu”, dimaksudkan untuk membuka lagi pintu ampunan serta pintu anugerah. Sebab segala sesuatu yang berurusan dengan pemberian, terutama yang bersifat duniawi seperti rizki semuanya berada diluar masjid. Buktinya ada tuntunan saat seorang muslim melihat orang melakukan transaksi jual-beli didalam masjid, maka ia sunnah untuk berdoa :
لاأربح الله تجارتك
“Semoga Allah tidak memberikan keuntungan untuk daganganmu”.

Dengan ini maka pada saat seorang muslim keluar masuk masjid, maka secara otomatis ia selalu mengetuk agar dibukakan pintu ampunan, rahmat serta anugerah-Nya. Sekaligus secara teori memberi kefahaman bahwa doa dari orang yang telah mendapat ampunan akan jarang meleset.

Ada kutipan menarik dari salah satu kitab rujukan valid madzhab Syafi’i berjudul Hasyiyah Syarwani juz 3 halaman 465 :
ولو وقف إنسان نحو فروة كسجادة فإن لم يثبتها حال الوقفية بنحو تسمير لم يصح وإن أثبتها حال الوقفية بذلك صح وإن أزيلت بعد ذلك لأن الوقفية اذا ثبتت لاتزول. وبهذا يلغز فيقال لنا شخص يحمل مسجده على ظهره ويصح اعتكافه عليها حينئذ. انتهى
“Seandainya seseorang mewakafkan semacam farwah (kulit hewan berbulu yang telah disamak) seperti sajadah, (jawaban diperinci); apabila saat mewakafkan, keadaan sajadah itu tidak melekat dengan bantuan semacam paku, maka wakafnya tidak sah. Dan apabila sajadah tersebut telah melekat saat proses wakaf dengan bantuan paku seperti disebutkan, maka sah meskipun setelah itu perekat dihilangkan. Dan berdasarkan keterangan ini, ada anekdot dengan diucapkan : ‘kita punya seorang yang menggendong masjid dipunggungnya dan sah i’tikaf diatasnya’.” Sekarang kita jadi tahu khan jawabannya?

Hal senada juga disampaikan dalam beberapa kitab fiqh seperti Risalatul Amajid, Nihayatul Muhtaj dan lainnya dengan poin kesimpulan; Sajadah bisa diwakafkan untuk menjadi masjid mini dirumah kita, dengan syarat ketika mewakafkan keadaan sajadah tersebut sudah direkatkan sekira dapat tetap dan tidak bergeser posisi, meskipun setelah selesai proses wakaf perekatnya dihilangkan.

Jika kita ingin mempraktekkan, maka setelah merekatkan sajadah dengan lem atau yang lain ditempat peshalatan rumah, cukup mengatakan : “Saya wakafkan sajadah ini menjadi masjid”.
Sungguh benar bahwa agama islam tidak pernah menyulitkan umatnya asal mau sabar, sadar dan belajar. Apalagi bagi yang bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu yang bermanfaat, yakni ilmu yang dapat menjadikan pemiliknya semakin dekat kepada Allah SWT. Semoga segala kemudahan senantiasa dikedepankan oleh Allah SWT bagi orang yang tidak lelah mengaji dan mengamalkan ilmunya. Amiin.

Silakan share jika bermanfaat.

Parakan, 30 April 2020.


♥ Susulan : Ketika sajadah telah berubah status menjadi masjid, maka segala hal yang berkaitan tentang hukum-hukum masjid menjadi hukum untuk sajadah tersebut, serta kemulyaan sajadah sebagai masjid harus dijaga. Diantaranya haram hukumnya diam menempat diatas sajadah tersebut bagi seseorang yang sedang berhadats besar seperti junub dan haid.



• Keterangan gambar : Metode membaca khatam Al Qur’an dalam satu bulan, rinciannya sebagai berikut :
4 halaman tiap setelah shalat wajib = 1x khatam.
8 halaman tiap setelah shalat wajib = 2x khatam.
12 halaman tiap setelah shalat wajib = 3x khatam.

Website Ini Menggunakan Cookies