10 Pertanyaan Seputar Bulan Ramadhan

[rank_math_breadcrumb]

Berikut ini kami kumpulkan 10 pertanyaan yang berkaitan dengan bulan ramadhan, baik tentang puasa ramadhan ataupun amalan-amalan dibulan ramadahan.

Pertanyaan seputar bulan ramadhan

1. Tunjukkan Dalil Tentang Perintah Puasa Ramadhan?


Berikut Dalil Puasa Ramadhan;

Dari Al-Qur’an:

يأَيُّهَا الَّذِينَءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (Al-Baqarah: 183)

Kedua, dalil Hadits. Diantaranya :

قَالَ أَخْبِرْنِي مَا فَرَضَ اللهُ عَلَيَّ مِنَ الصِّيَامِ فَقَالَ صلى الله عليه وسلم : شَهْرَ رَمَضَانَ، إِلَّا أَنْ تَطَوَّعَ شَيْئًا

Sahabat bertanya: “Kabarkan kepada saya apa yang diwajibkan bagi saya untuk puasa?” Nabi صلى الله عليه وسلم menjawab: “Puasa bulan Ramadhan, kecuali jika engkau berpuasa sunah” (HR Al-Bukhari)

2. Sejak Kapan Puasa Ramadhan Di Perintahkan (Disyariatkan)?

Adapun Puasa Ramadhan disyariatkan pada tahun kedua setelah Nabi صلى الله عليه وسلم hijrah ke Madinah, seperti disampaikan para ulama :

“Nabi صلى الله عليه وسلم berpuasa Ramadhan sebanyak 9 kali. Sebab puasa Ramadhan diwajibkan pada bulan Sya’ban tahun kedua Hijriyah. Dan Nabi صلى الله عليه وسلم wafat pada Rabiul Awal tahun 11 setelah Hijrah” (Imam An-Nawawi, Al-Majmu’, 6/250).

3. Kapan Waktu Yang Tepat Untuk Puasa Puasa Ramadhan?

Berdasarkan Dari Hadits Nabi, memang ada perbedaan waktu untuk berniat antara puasa Ramadha dan puasa sunnah. Niat puasa Ramadhan harus dilakukan pada malam hari sampai menjelang waktu fajar, sedangkan niat puasa sunnah tidak.

Niat Puasa Sunah dapat dilakukan sebelum matahari bergeser kearah barat (waktu dhuhur) dan sampai dengan waktu bergesernya matahari kearah barat belum melakukan perkara-perkara yang membatalkan puasa.

مَنْ لَمْ يُبَيِّتِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَحْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ

”Siapa saja yang tidak berniat puasa pada malam hari sebelum fajar maka tidak ada puasa baginya.”(HR. Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majjah, dari hafshah)

Hadits di atas menegaskan bahwa tidak sah puasa seseorang dengan niat pada saat fajar terbit, apalagi sesudahnya.

Adapun untuk dalil niat puasa sunah didasarkan pada sebuah Hadits Riwayat Imam Muslim dan Imam Abu Dawud tentang apa yang dikisahkan oleh Sayyidah Aisyah ra bahwa Rosulullah SAW pada suatu hari bertanya kepadanya: ”Apakah ada makanan ?” Aisyah menjawab ”Tidak”. Lantas Rosulullah bersabda : ”Kalau begitu aku berpuasa”

3. Bagaimanakah Niat Puasa Ramadhan?

Niat Puasa Ramadhan Bahasa Arab :
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانِ هَذِهِ السَّنَةِ لله تَعَالىَ
Niat Puasa Ramadhan Dalam tulisan latin:
Arti Niat Puasa Ramadhan Dalam Bahasa Indonesia
“Aku sengaja berpuasa esok hari untuk menunaikan ibadah fardhu di bulan Ramadhan tahun ini karena Allah ta’ala”.

4. Bolehkah Berniat Puasa Satu Bulan Penuh?

Menurut madzhab Maliki diperbolehkan berniat puasa ramadhan satu bulan penuh, sedangkan menurut madzhab syafi’i Niat Puasa harus dilaksanakan tiap malam.

Jadi jika takut lupa niat dalam satu bulan puasa Ramadhan, Bisa menambahkan niat puasa satu bulan dengan “Taklid” Kepada Imam Malik.

5. Bolehkah Berhubungan Badan Pada Malam Hari Bagi Suami Istri Selama Bulan Ramadhan?

Larangan berhubungan badan ( bersetubuh ) untuk suami istri berlaku selama siang hari, yakni mulai terbit fajar sampai dengan terbenamnya matahari. Sedangkan pada malam hari boleh melakukanya.

6. Saat Puasa Lupa Makan Atau Minum Batalkah Puasa kita?


Makanan dan minuman yang ia telan ketika puasa dengan tidak sengaja tidak membatalkan puasa selama jumlahnnya sedikit namun jika banyak para ulama berbeda pendapat, ada yang mengatakan batal ada pula yang mengatakan tidak batal. Akan tetapi setelah ia ingat, ia harus meneruskan kembali puasanya.

Imam Nawawi lebih memilih untuk tidak batal puasa seseorang karena lupa makan berdasarkan makna Umum dari nash hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah:

مَنْ أَكَلَ نَاسِيًا وَهُوَ صَائِمٌ فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ، فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللهُ وَسَقَاهُ

“Barangsiapa makan karena lupa sementara ia sedang berpuasa, hendaklah ia menyempurnakan puasanya karena sesungguhnya Allah telah memberinya makan dan minum.” (HR Bukhari Muslim)

Dalam hadits lain juga dijelaskan bahwa orang yang makan dalam keadaan lupa tidak ada kewajiban mengqadha puasanya atau membayar denda kafarat, berikut teks hadits tersebut:

مَنْ أَفْطَرَ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ نَاسِيًا فَلَا قَضَاءَ عَلَيْهِ وَلَا كَفَارَةَ

“Barangsiapa yang ifthar pada bulan Ramadhan karena lupa maka tidak ada (kewajiban) qadha baginya, tidak juga kafarat.” (HR Hakim)

Sumber : https://islam.nu.or.id/post/read/106561/kapan-makan-dan-minum-karena-lupa-tak-membatalkan-puasa

7. Batasan Lubang Hidung, Mulut, Telinga Yang Dapat Membatalkan Puasa?

Hidung, batas awalnya adalah bagian yang disebut dengan muntaha khaysum (pangkal insang) yang sejajar dengan mata; dalam telinga, yaitu bagian dalam yang sekiranya tidak telihat oleh mata; sedangkan dalam mulut, batas awalnya adalah tenggorokan yang biasa disebut dengan hulqum.

Sumber : (Syekh Zainuddin al-Maliabari, Fath al-Mu’in, juz 1, hal. 259) 

8. Bagaimana Hukum Mencicipi Makanan Saat Berpuasa?

Syekh Abdullah bin Hijazi asy-Syarqawi dalam kitabnya, Hasyiyatusy Syarqawi ‘ala Tuhfatith Thullab menyebutkan:

وذوق طعام خوف الوصول إلى حلقه أى تعاطيه لغلبة شهوته ومحل الكراهة إن لم تكن له حاجة ، أما الطباخ رجلا كان أو امرأة ومن له صغير يعلله فلا يكره في حقهما ذلك قاله الزيادي

“Di antara sejumlah makruh dalam berpuasa ialah mencicipi makanan karena dikhawatirkan akan mengantarkannya sampai ke tenggorokan. Dengan kata lain, khawatir dapat menjalankannya lantaran begitu dominannya syahwat. Posisi makruhnya itu sebenarnya terletak pada ketiadaan alasan atau hajat tertentu dari orang yang mencicipi makanan itu. Berbeda lagi bunyi hukum untuk tukang masak baik pria maupun wanita, dan orang tua yang berkepentingan mengobati buah hatinya yang masih kecil. Bagi mereka ini, mencicipi makanan tidaklah makruh. Demikian Az-Zayadi menerangkan.”

Jadi Mencicipi makanan karena ada hajat yang diperbolehkan oleh syara’ maka tetap diperbolehkan, bahkan tidak sampai pada hukum makruh.

Bagaimana Hukum Suntik Saat Puasa?

Pendapat pertama : Membatalkan secara mutlak. Karena sampai ke dalam tubuh.
Pendapat kedua : Tidak membatalkan secara mutlak. Karena sampainya ke dalam tubuh bukan melalui lubang yang terbuka
Pendapat ketiga : diperinci sebagai berikut :
1. Jika suntikan tersebut berisi suplemen, sebagai pengganti makanan atau penambah vitamin, maka membatalkan puasa. Karena ia membawa makanan yang dibutuhkan ke dalam tubuh.
2. Jika tidak mengandung suplemen (hanya berisi obat), maka diperinci :
a. Apabila disuntikkan lewat pembuluh darah maka membatalkan puasa.
b. Disuntikkan lewat urat-urat yang tidak berongga maka tidak membatalkan puasa.

Sumber: https://web.facebook.com/PISS.KTB/posts/703004136419669/

Bagaimana Doa Berbuka Puasa?

Syaikh Sulaiman Bujairimi dalam Hasyiyah Iqna’

اللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَبِكَ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ. ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ العُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شاءَ اللهُ. يا وَاسِعَ الفَضْلِ اِغْفِرْ لِي الحَمْدُ لِلهِ الَّذِي هَدَانِي فَصُمْتُ، وَرَزَقَنِي فَأَفْطَرْتُ. 

Artinya:
Tuhanku, hanya untuk-Mu aku berpuasa. Dengan rezeki-Mu aku membatalkannya. Sebab dan kepada-Mu aku berpasrah. Dahaga telah pergi. Urat-urat telah basah. Dan insya Allah pahala sudah tetap. Wahai Dzat Yang Luas Karunia, ampuni aku. Segala puji bagi Tuhan yang memberi petunjuk padaku, lalu aku berpuasa. Dan segala puji Tuhan yang memberiku rezeki, lalu aku membatalkannya.