10 Perkara Yang Membatalkan Puasa

Perkara yang membatalkan puasa

Sebagai seorang muslim yang berkewajiban menjalankan ibadah puasa, Selain mengetahui syarat wajib puasa dan syarat sah puasa juga harus mengetahui perkara-perkara yang membatalkan puasa.

Puasa Ramadhan yang dilaksanakan selama satu bulan penuh jangan sampai rusak karena ketidak tahuan kita akan perkara-perkara yang membatalkan puasa.

Dalam literatur kitab fikih banyak dijelaskan tentang perkara-perkara yang membatalkan puasa, namun kadang kita tidak sempat untuk membukanya, atau keterbatasan pengetahuan kita akan bahasa arab yang mungkin menjadi hambatan bagi kita untuk mempelajari karya para ulama-ulama yang ilmunya mutabahhir (Ibarat lautan).

Disini kami akan mencoba mengulas tentang perkara yang membatalkan puasa dari salah satu kitab fikih yang sangat familiar dinegara kita yakni Syarah riyadhul badi’ah.

Kitab yang ditulis oleh Sayyidul Ulama’ hijaz (Tuanya Para ulama’ Makah) yang berasal dari Pulau jawa yakni syaikh Nawawi Al-bantani sudah sangat cukup bagi kita untuk menjadi pegangan dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan ibadah.

Perkara yang membatalkan puasa

Dan berikut ini adalah 10 perkara yang membatalkan puasa:

1. Masuknya sesuatu (seperti makanan, minuman, benda lain) kedalam Rongga dalam dengan disengaja walaupun sedikit dan melalui lubang yang terbuka.

Lubang yang terbuka yang bisa menyebabkan sampainya sesuatu kedalam perut atau lambung seperti lubang telinga, mulut dan hidung

2. Muntah dengan disengaja. Muntah dengan disengaja dapat membatalkan puasa walaupun muntahan tersebut tidak kembali kedalam lambung.

3. Melakukan hubungan suami istri (Jima’) dengan disengaja. Dan untuk perempuan yang menjadi sebab batalnya puasa karena masuknya khasyafah (Kepala kemaluan) kedalam lubang farji (miss V), karena miss V merupakan salah satu lubang yang bisa mengantarkan sampainya sesuatu kedalam perut.

Baca Juga :  Yang diharamkan sebab haid

Dan perlu diketahui dalam hubungan badan tidak harus sampai pada keluarnya mani untuk dapat membatalkan puasa. Jadi sekedar hubungan badan tanpa keluar mani sudah termasuk membatalkan puasa.

Perlu diperhatikan juga bahwa sering terjadi salah paham di masyarakat bahwa selama Ramadhan tidak boleh berhubungan badan, tentu hal ini tidak tepat, ketidak bolehan berhubungan badan antara suami istri ini hanya berlaku pada saat puasa dikerjakan, adapun setelah berbuka atau dimalam hari tetap diperbolehkan.

4. Keluarnya mani dengan sengaja untuk bersenang-senang seperti melakukan onani dengan tanganya sendiri ataupun menggunakan tangan orang lain, baik dilakukan dengan cara menyentuh langsung atau adanya sesuatu yang menutupi, dengan disertai syahwat (birahi) ataupun tanpa adanya syahwat.

Atau keluarnya mani karena bertemunya kulit dengan tanpa penghalang seperti berciuman atau bersentuhan, walaupun keluarnya mani tersebut tanpa melakukan jima’ (hubungan badan). Jika sesuatu yang sudah disebutkan tersebut dilakukan maka batal puasanya

Berbeda halnya dengan keluarnya mani karena mimpi, hal ini tidak membatalkan puasa.

5. Gila, waluapun gilanya hanya sebentar maka puasa yang dilakukan orang tersebut batal

6. Epilepsi (Ayan) sepanjang hari mulai terbitnya fajar sampai dengan terbenamnya matahari.

Baca Juga :  Hukum Dan Tata Cara Melaksanakan Sholat Id

7. Berbuka sebelum yakin akan masuknya waktu magrib, atau seseorang yang berpuasa menyangka bahwa waktu berbuka sudah tiba, kemudian orang tersebut berbuka namun ternyata persangkaanya salah, maka puasa orang tersebut batal.

8. Murtad (Keluar dari Agama Islam). Pada saat seseorang tersebut berpuasa dan ditengah-tengah puasanya orang tersebut murtad Maka Puasanya batal.

Dalam Syarah Riyadhul Badi’ah Imam Nawawi Al-Bantani menjelaskan bahwa murtad merupakan salah satu perkara yang dapat memutus ibadah.

9. Datangnya Haid dan Nifas, Pada saat berpuasa seseorang yang kedatangan haid atau nifas maka puasanya batal.

10. Melahirkan Disertai dengan Basah-basah. Orang yang melahirkan disertai dengan basah-basah (seperti darah, air ketuban dan lainya) maka puasanya batal.

Untuk wanita yang melahirkan tanpa disertai dengan adanya perkara yang basah hal ini ulama berbeda pendapat. Adapun pendapat yang Ashoh menyatakan bahwa wanita yang melahirkan tanpa dibarengi dengan sesuatu yang basah tetap dihukumi batal puasanya, hal ini di qiyaskan dengan haid dan Nifas yang mewajibkan keduanya untuk mandi.

Setelah kita mengetahui 10 perkara yang membatalkan puasa, tentunya kita akan lebih hati-hati dalam melaksanakan ibadah puasa tersebut. Jangan sampai kita berlapar-lapar ternyata puasanya batal dan kita wajib membayarnya di kemudian hari.[Miftah/Muslimina.id]


Disarikan dari kitab Riyadhul Badi’ah Hal: 58-59 Cetakan Darul Ihya’il kutubil Arabiyah Indonesia.